web analytics
header

Buku Falsafatuna Dibedah di UIN Makassar

Buku Falsafatuna Karya M Baqir Shadr

Makassar, Eksepsi Online-Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar mengadakan kegiatan Bedah Buku Falsafatuna karya M Baqir Shadr, di gedung LT UIN Makassar, Jumat (26/4). Hadir sebagai pemateri yaitu, A.M. Safwan (Pengasuh Ponpes Madrasah Muthahhari Yogyakarta) dan Sabara Nuruddin (Kandidat Doktor Filsafat Islam UIN Alauddin Makassar). Kurang lebih seratus  mahasiswa yg berasal dari berbagai perguruan tinggi di Makassar, antusias mengikuti kegiatan. Bedah buku ini sendiri dilakukan untuk mempermudah para pembaca dalam mempelajari buku Falsafatuna yang dikenal rumit untuk dipahami.

Kegiatan yang dimulai pada pukul 15.00 WITA ini, diawali dengan prolog yang dibawakan oleh Abdullah, Ketua Jurusan Aqidah Filsafat UIN Makassar. Dalam prolognya ia mengatakan, buku yang ditulis M Baqir Shadr sangat menarik dan bagus untuk dipelajari, karena buku itu mengkritisi fiilsuf-filsuf yang terkenal dengan aliran filsafatnya, seperti rasionalisme, positivisme, empirisme, dan lain-lain. Utamanya Pandangan Karl Marx dengan filsafat sosialismenya.

Dalam kesempatan itu Ustadz Safwan sapaan akrabnya, mengajak para pembaca buku Falsafatuna untuk menjadikan buku tersebut sebagai bahan dalam menganalisa dan memecahkan permasalahan yang ada di Indonesia khususnya dalam hal menganut agama. Ia mengktritisi permasalahan agama di Indonesia dewasa ini khususnya masalah pengkafiran antar kelompok yang sangat mudah terjadi, bahkan perbedaan mazhab seringkali menjadi masalah yang besar, dan menganggu kerukunan umat beragama. “Semua seakan-akan mengaku sebagai pemilik Tuhan yang satu, tapi umat sendiri tidak bersatu. Jangan karena kita berbeda mazhab, agama, dan bangsa membuat kita tercerai berai, pahami dulu mereka,” ungkap Safwan yang juga pengajar Takhasus Falsafatuna.

Sabara Nuruddin mengharapkan, Kegiatan bedah buku seperti ini dapat menjadi batu loncatan dalam  memajukan dunia pendidikan khususnya di bidang filsafat. “Jika kita masuk toilet tidak dengan kaki kiri duluan, itu artinya kita tidak mempredikasi Tuhan di realitas. Semoga ini menjadi gerbang awal kemajuan filsafat dan kedepannya bisa lebih baik,” harapnya di akhir diskusi. (Iwn)

 

Related posts: