Senin , April 22 2019
Home / SASTRA / Cerpen / Belum Ada Judul

Belum Ada Judul

A. Muh. Ikhsan W.R (Anggota Magang LPMH-UH)

Namaku Raditya. Aku adalah lelaki yang baru duduk di kelas 2 SMP. Di SMP Madani aku bersekolah. Teman-teman memanggilku Radit. Aku lelaki yang tak terbiasa berhadapan dengan wanita. Keadaan semakin parah saat aku menginjak bangku SMP. Mereka kurasa cerewet dan suka membicarakan hal yang tidak penting. Sangat mengganggu. Tapi di antara para wanita, Rasty, siswi kelas sebelah kelihatan berbeda. Dia tampak jernih. Itulah alasannya kenapa aku tak masalah dengan Rasti.

“Batu, gunting, kertas,” teriakku.

”Radit lagi ngapain?”tanya Astrid, seorang wanita yang kukenal sebagai sahabat karib Rasty. Ya, Rasty memiliki semacam kelompok tidak resmi yang terdiri dari empat orang. Namanya Empat Mawar.

”Main Polisi dan Pencuri,” jawabku sekenanya.

”Eh, seperti waktu SD. Aku mau ikut main juga,” tukas Astrid.

Akupun mengiyakan bukan karena aku menyukai mereka. Menurutku mereka sama saja, berisik. kecuali Rasty. Saat bersama ketiga sahabatnya, dia bagaikan Mawar yang tumbuh di semak belukar. Selalu tampak lebih Indah dari yang lain.”Bagaimana denganmu Rasty apakah kamu ikut,” tanya Astrid.

”Tentu. Aku tak masalah,” jawab Rasty dengan senyum jernihnya yang menurutku mampu meluluhkan hati Hitler sekalipun.

Permainan pun dimulai.”Batu, gunting, kertas,” teriak Wahyu.

”Sekarang waktunya pencuri untuk bersembunyi,” kata Edy.

“Kalau begitu aku sembunyi saja di balik semak ini,” pikirku dalam hati.

Saat sedang sembunyi Rasty tiba-tiba datang dari arah belakang. Mungkin dia juga ingin bersembunyi di sini. ”Maaf aku akan cari tempat lain,” kata Rasty sambil membalikkan badan seraya ingin pergi.

Entah dengan pertimbangan apa aku langsung memegang pergelangan tangannya dan berkata. “Sekarang kau tidak bisa pergi, sudah ada yang jaga di sana,” ucapku.

“Ya,” jawabnya singkat.

Sekarang aku berada sangat dekat dengan Rasty. Bau parfumnya sangat jelas tercium olehku. Tiba-tiba salah satu yang jaga mendekat ke tempat persembunyian kami. Dia yang berdiri didepanku sontak langsung mundur dan punggungnya merepat di pundakku. Bahkan saking dekatnya jarak kami, aku bisa mencium bau shampoonya saat rambutnya terkibas menyentuh wajahku. Dia pun tiba-tiba membalikkan wajahnya, sehingga mata kami saling bertemu. Kami diam selama beberapa detik.

”Hei sepertinya ada orang di sana. Aku akan mengeceknya,” tegas Wahyu. Kami sontak kaget.

“Rasty tetaplah di sini,” kataku singkat. Aku pun berlari keluar dengan kencang sambil mengalihkan perhatian mereka.

”Hai ketemu,” teriak Wahyu.

Dengan sigap Edy lalu menyergapku, pertanda aku telah keluar dari permainan. Mereka lalu menggiringku ke dalam lingkaran yang dibuat dengan kapur, menandakan seolah-olah aku telah dipenjara.

Ketika sedang berada dalam lingkaran penjara, kutunggu ada orang dari anggota kelompokku datang menyelematkan dengan mengeluarkanku dari lingkaran. Aku pun mendengar suara langkah orang berlari dari samping kanan. Ketika aku menoleh, ternyata Rasty dengan wajah serius berlari ke arahku untuk menolong. Tapi belum setengah perjalanan, Edy langsung menyergapnya. Kami pun sekarang berada di lingkaran penjara.

”Aku berencana menyelamatkanmu,” ungkapnya.

”Terima kasih,” jawabku singkat. Lalu kami hanya diam. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku gugup dan tidak tahu  harus berkata apa. Aku pun mengutuk diriku dalam hati karena tidak bisa memanfaatkan momen bersejarah ini. 

Keseokan harinya, sejak saat itu,  setiap kali kami berada di tempat yang sama, entah disengaja atau tidak, mata kami akan saling bertemu. Biasanya kami akan berpaling sejenak, dan kemudian saling melihat lagi. Sepulang sekolah, siang harinya, tiba-tiba hujan mulai turun.

”Sial! Hujan,” kataku dalam hati. Aku pun berteduh di depan sebuah ruko yang sudah lama tidak  ditinggali. Tiba-tiba sesosok bayangan berlari ke arahku, muncul dari lebatnya hujan. Sosok itu seakan menjadi cahaya. Itu adalah Rasty, wanita yang selalu kukagumi. Kami pun berteduh di tempat yang sama siang itu.

Saat aku mulai mengonsep kata-kata untuk berbicara dengannya, tiba-tiba dia langsung berkata, ”Tiba-tiba turun hujan ya,” tuturnya dengan senyum tipis mengarah padaku. Sebuah senyuman terindah yang pernah aku lihat.

”Iya,” dengan suara gemetar entah karena dingin atau gugup menjawab sekenanya saja. Seharusnya aku memberikan jawaban yang lebih panjang. Suasana pun agak hening beberapa menit, sampai aku mengeluarkan pertanyaan. Entah keberanian dari mana, aku tiba-tiba melontarkannya. “Rasty apakah kamu mau pergi ke Festival besok malam?” Dia hanya tersenyum lalu pergi, sambil berjalan cepat menerobos hujan yang mulai reda.

Malam harinya aku tidak bisa tidur dan terus membayangkan apa yang terjadi tadi siang. Entah bagaimana caranya aku bersikap besok bila aku bertemu dengan Rasty. Lamunan itu membuatku tertidur pulas. Mungkin karena otakku yang mulai lelah berpikir. Esok harinya, sesampai di sekolah, tidak terlihat Rasty di mana pun. Tiba-tiba suara lembut yang selalu kunantikan terdengar menyapaku dari belakang.

”Jam 19.30 di Taman Mawar,” sapanya dengan senyum tipisnya lalu pergi. Aku pun mencoba menfsirkan apa yang dia katakana, tapi hanya ada satu kesimpulan kudapatkan, dia mengiyakan ajakanku kemarin. Hari ini, aku seolah-olah menjadi manusia paling bahagia.

Malamnya aku berpakaian serapi-rapinya, lalu menunggu setengah jam lebih cepat dari yang dijanjikan. Tapi karena tidak ingin terlihat terlalu antusias, aku pun bersembunyi di kejauhan sambil menunggunya datang. Tepat pukul 19.35, akhirnya dia datang. Aku pun mendekat seolah-olah terlambat. “Hai, Kau tidak menunggu terlalu lama kan,” tanyaku.

Dia hanya tersenyum singkat dan menjawab,”Tidak kok. Baru saja aku tiba.”

Malam itu aku habiskan penuh keceriaan berdua dengan Rasty. Saling berbagi tawa, saling berbicara tentang masa lalu, seakan-akan kami telah bertahun-tahun saling mengenal. Tapi sayang, hanya waktulah yang tidak bisa kami hentikan. Seolah tidak mendukung, waktu malam itu seolah berjalan lebih cepat dari biasanya. Malam itu Aku sempat berpikir untuk menyatakan cinta kepadanya, tapi dengan berbagai pertimbangan yang sebenarnya hanya ketakutan, aku memilih diam. Kami pun berjalan pulang sambil menantap bulan yang begitu indah dari kejauhan.

Pagi harinya dengan penuh semangat, aku bergegas ke sekolah. Setibanya di sana, aku langsung memutar pandangan 360 derajat ke segala penjuru sekolah. Hanya untuk melihat wajah seseorang yang selalu memecahkan keheningan. Akhirnya setelah berkeliling, kudapati juga dia sedang berbincang dengan temannya. Aku pun menyapanya. Tapi dia hanya memandangku dengan wajah murung dan tak mengacuhkan sapaanku. Entah apa yang salah, karena seingatku semalam baik-baik saja. “Ah, mungkin dia hanya malu karena dilihat teman-temannya,” pikirku menghibur diri.

Tapi keesokan harinya, kabar mengejutkan aku terima dari sebuah pesan singkat Rasty. Aku pun mulai membaca kata demi kata. ”Maaf tidak membalas sapaanmu kemarin. Aku melakukannya bukan karena aku membencimu, tapi untuk menjauhkan hatiku yang mulai mendekat kepadamu,” tulisnya.

Aku baca pesannya lamat-lamat, sambil menelan ludah aku melanjutkan. ”Hari ini aku akan berangkat ke Australia untuk menerusakan sekolahku di sana. Entah akan selama apa aku di sana. Tapi yang pasti aku tidak akan pulang dalam waktu dekat. Maaf telah menjadi orang yang egois. Aku mendekatimu lalu kembali mejauhimu. Oh iya, jangan mencoba mengejarku ke rumah, Aku sekarang sudah ada di atas pesawat yang setengah jam lagi akan take off.”

Setelahku baca pesan perpisahan itu, aku pun tertunduk sebentar, seakan-akan kaki ini tidak kuat menahan beratnya hati yang terluka. Aku pun membalas pesan itu dengan pernyataan singkat, ”Untuk Kau yang mungkin telah jauh di sana. Ragamu mungkin telah pergi, tapi hatimu akan selalu ada di sini. Kau mungkin tidak akan pulang dalam waktu dekat ini, tapi Aku akan menunggumu, bahkan sampai Bulan pun berbentuk segitiga.” Aku pun mengirim pesan singkat tersebut dan perlahan-lahan hatiku bisa mengikhlaskan kepergiannya.

Esok harinya kujalani hidup dengan penuh kebahagiaan, dengan hati yang telah tenang mengetahui jawaban dari pertanyaanku selama ini. “Apakah dia juga menyukaiku?” Aku pun menjadi orang yang banyak tersenyum. Kupastikan suatu hari nanti dia kembali, hal pertama yang akan dilihatnya adalah senyumanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*