Senin , April 22 2019
Home / SASTRA / Cerpen / Sarjana dari Kampung Kalong

Sarjana dari Kampung Kalong

Kaswadi Anwar (Anggota Magang LPMH-UH)

Sekarang aku merasa senang. Aku tak pernah membayangkan akan menjadi sarjana hukum seperti yang aku impikan sejak dulu. Inilah adalah langkah awalku menggapai cita-citaku menjadi, pimpinan KPK. Gelar sarjana kudapatkan tidaklah semudah dengan membalikkan telapak tangan. Kulalui proses panjang dan berliku-liku. Perjuangan yang berat.

Awal perjuaganku untuk menuntut ilmu di bangku perkuliahan dimulai dari kelas 3 SMA.  Kicauan burung dan tetesan embun dari  dedaunan menyambutku kala pagi itu. Aku bergegas menuju sekolah pada hari penentuan kelulusan siswa SMA. Tepat jam 11, siswa kelas 3 dikumpulkan di aula sekolah untuk menyaksikan pengumuman lulus atau tidak. Jantungku berdetak kencang. Di sisi lain, tampak wajah resah dan gelisah. Terlebih saat kepala sekolah menuju podium untuk mengumumkan hasil ujian nasional. Setelah diumumkan, hasilnya kami lulus 100%. Sontak, aula yang tadinya sunyi, berubah riuh dengan teriakan dan hiruk-pikuk penuh kegembiraan. Kami pun meninggalkan aula dengan menyalami guru-guru sembari memohon restu.

Aku pulang ke rumah meyampaikan berita gembira ini kepada orang tua dan adikku. Mereka menyambutku di depan gubuk sederhana. Saking sederhananya, jika diterpa angin, seolah-olah akan roboh. Maklum, aku hanya anak seorang buruh tani yang penghasilannya tidak tetap. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saja terpaksa dicukupkan.

“Nak bagaimana hasilnya, Apakah kamu lulus?” ayahku bertanya dengan rasa penasaran.

Alhamdulillah, aku lulus Pak. Aku rencana melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah” jawabku.

Ibuku tersentak kaget mendengarkan kata-kataku. “Bagaimana bisa mau melanjutkan pendidikanmu ke bangku kuliah nak. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja tidak cukup. Apalagi adikmu masih duduk di kelas 2 SMP,” ujarnya.

“Tenang saja. Ibu dan bapak tidak usah pikirkan itu,” jawabku singkat. “Waktu di sekolah, kepala sekolah memanggilku bersama kedelapan temanku ke ruangannya. Ia memberi tahu bahwa kami menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” jawabku. Sontak rona bahagia muncul dari wajah kedua oarang tuaku.

”Selamat kak. Kakak  lulus di perguruan tinggi mana?” tanya adikku.

“Aku lulus di fakultas hukum di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Jika tak ada aral melintang, bulan depan aku sudah kuliah perdana,” tandasku.

***

Kini, aku seorang anak dari kampung kalong telah berada di kota yang terkenal dengan keindahan Pantai Losari-nya, Makassar. Di sini aku melanjutkan pendidikanku. Ini adalah hari pertamaku memasuki dunia perkuliahan. Dengan pakaian hitam putih, lengkap dengan dasi dan almamater, aku langkahkan kaki menuju kampus. Akan kuikuti prosesi penerimaan mahasiswa baru tingkat universitas. Di sebuah ruang megah kami berkumpul. Namanya baruga. Sang rektor pun menerima kami secara resmi sebagai mahasiswa baru.

“Kita bertemu di tempat ini saat kalian masih memakai hitam putih. Saya mengingikan kita dipertemukan kembali di tempat ini, dan kalian sudah memakai jubah dan toga. Serentak tanpa komando,” tutur rektor. Kami mahasiswa baru pun bertepuk tangan mendegarkar kata-kata itu.

Keesokan harinya, dilakukan penerimaan mahasiswa baru tingkat fakultas. Kegiatan ini rutin untuk menyambut mahasiswa baru. Aku dan ratusan mahasiswa baru fakultas hukum berkumpul di aula yang cukup untuk menampung ratusan mahasiswa baru, meski saling berdesak-desakan. Dekan hadir untuk prosesi penerimaan kami secara resmi. Kami selanjutnya menghabiskan waktu selama lima hari untuk menerima pengetahuan tentang seluk-beluk fakultas hukum.

Seminggu berlalu untuk masa pengenalan universitas dan fakultas. Aku telusuri jalan dari pondok tempat tinggalku menuju fakultas untuk menimbah ilmu. Suasana baru, teman baru, dan banyak hal baru aku dapatkan. Teman baruku berasal dari berbagai daerah dengan ciri khas masing-masing. Sangat mengesankan. Hari-hari kini kujalani dengan padatnya aktivitas. Aku harus memenuhi jadwal perkuliahan, mengerjakan tugas, dan berorganisasi. Ya, kuputuskan untuk memasuki organisai penulisan yang mengabarkan informasi.

***

Tak terasa semester IV akan berakhir. Tak lama lagi aku akan menggarap skripsi untuk syarat kelulusan dan menjadi sarjana. Pada semester I, nilai IPK-ku cukup tinggi, 3,8. Namun menurun menjadi 3,4 pada semester II. Mungkin karena aku tidak pandai membagi waktu seperti saat semester awal. Bahkan satu mata kuliahku mendapat nilai E. Tapi bukan hanya aku. Banyak teman-temanku mendapat nilai serupa. Ini terjadi karena dosen mata kuliah itu tidak pernah masuk mengajar dan langsung memberikan ujian final. Karena merasa tak adil, kami sepakat untuk tidak menulis apa pun di kertas jawaban. Begitulah aksi protes kami yang berimbas pada nilai.

Pada semester III, aku mulai merasakan susahnya hidup di kota. Pengeluaran uang terlalu banyak, sementara beasiswaku tidak kunjung cair. Itu terjadi karena pihak dari menteri pendidikan dan aparat penegak hukum sedang menyelidiki dugaan korupsi dana beasiswa tersebut. Terpaksa aku menjadi buruh bangunan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Tak sudi kurasa membebani kedua orang tuaku dengan meminta dikirimi uang. Untuk kebutuhan hidup dan biaya sekolah adikku saja mereka kesulitan. Semua akan kulakukan sepenuh hati. Di balik kondisi itu juga, aku memetik pelajaran bahwa kita harus bekerja keras untuk menggapai mimpi. Meskipun harus bekerja sebagai buruh bangunan di sela kesibukanku sebagai mahasiswa, ternyata aku mendapat nilai yang memuaskan pada semester III. IPK-ku 3,7.

***

Waktu berlalu begitu cepat. Seperti baru saja kukenal dunia kampus, tapi sekarang aku sudah berada di penghujung statusku sebagai mahasiswa. Sekarang aku mulai sibuk dengan di depan komputer bersama tumpukan buku yang menggunung di hadapanku. Skripi mulai kukerjakan. Perlahan tapi pasti skripiku pun sudah jadi secara sempurna. Tentu setelah mengalami proses coret-coret untuk perubahan kata-kata yang tak tepat. Akhirnya, aku pun dinyatakan lulus ujian skripsi dan akan diwisuda bulan depan.

Hari yang kutunggu-tunggu pun tiba. Sebuah hari bersejarah dalam hidupku. Kukenakan jubah dan toga, lalu menuju baruga bersama keluargaku dari kampung. Tempatku diterima sebagai mahasiswa baru dahulu. Aku akan menerima gelar sarjana. Prosesi acara wisuda pun dimulai. Hingga akhirnya, tiba saat aku dan peserta wisuda lainnya berarak menaiki panggung, ke depan rektor untuk pengukuhanku menjadi sarjana.

***

Gelar sarjana telah kuraih. Kini kusiap menatap masa depan menggapai cita-citaku.  Hari-hari sebagai mahasiswa antara tuntutan akademik, organisasi, dan relasi dengan orang lain telah kulalui. Sekarang waktuku mengaktualisasikan ilmuku dari bangku perkuliahan kepada masyarakat luas. Bagiku, ijazah dan gelar yang melekat pada seseorang, bermakna ketika digunakan menyelesaikan persoalan sosial masyarakat. Percuma ilmu tinggi dan gelar berderet jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Itu sama saja nol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*