Rabu , Januari 17 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Persoalan Rasa

Persoalan Rasa

Sumber: muhammadaanxfarhan.wordpress.com

Sumber: muhammadaanxfarhan.wordpress.com

                                                Yuliska Pratiwi (Reporter LPMH-UH periode 2016-2017)

Aku tidak tahu harus dari mana memulai kisah ini. Sungguh, ketika aku mulai merangkai kata-kata dalam cerita ini, itu membuatku kembali mengenang masa laluku bersamanya yang membuat hatiku sakit. Sakit yang sungguh.

            Kisah ketika aku harus merelakan kepergian seseorang yang sangat aku cintai. Orang yang hampir satu tahun selalu ada dalam tawa dan tangisku. Orang yang pertama kali meniupkan wirid cinta, mencintai, dan dicintai. Bahkan, arti tentang kesetiaan, memiliki, dan kehilangan. Dialah wanita pertama yang mampu membuat air mataku menetes, karena cinta.

            Inilah kisahku bersamanya.

          Aku Dafa. Darah campuran Jawa dan Makassar. Aku datang dari Jawa dan melanjutkan pendidikan di kota kecil namun bersahaja ini, tepatnya di Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan.

            Daerah ini dijuluki Turatea. Karena kondisi daerah yang cenderung tandus, maka sering disebut daerah gersang. Faktanya, curah hujannya lebih pendek dibanding kemarau. Namun begitu, daerah ini terkenal dengan julukan A’bulo sibatang. Accera’ si tongka-tongka.

            Aku bertandang ke daerah ini tentunya setelah lulus sekolah dasar di Jawa, melanjutkan di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jeneponto, dan melanjutkan ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Makassar. Kepindahanku cukup beralasan, sebab sebenarnya aku bukanlah orang Jawa tulen. Ayahku orang Makassar sedangkan Ibuku orang Jawa.

            Selama aku sekolah di sini, perasaanku biasa-biasa saja. Namun, setelah SMA, aku mulai diserang penyakit pubertas. Normal bukan? Di sinilah awal mula aku mengenal cinta.

            Cinta?

            Aku berkenalan dengan seorang wanita bernama Widi lewat handphone. Dua minggu aku melakukan pendekatan dengannya, pun lewat handphone. Akhirnya, kami pun menjalin hubungan. Maklum cinta monyet. Hubungan kami bertahan lama hingga bersama-sama melanjutkan pendidikan di salah satu PTN yang ada di Makassar. Tepatnya di Universitas Hasanuddin, Kota Makassar.

            Kisah cinta kami berjalan, sama seperti hari-hari belajar di kampus. Semua indah dan menyenangkan, hingga mencapai semester dua. Namun, ketika kami akan mengikuti ujian semester, sikap Widi mulai berubah terhadapku. Sakit, sebab cintaku terhadapnya sudah tertanam dalam. Lebih dalam. Ini persoalan rasa.

            Entahlah.Yang jelas, aku harus kehilangan cinta yang telah aku jalani selama hampir satu tahun. Aku dan Widi tidak menikmati lagi indahnya bunga-bunga mekar yang bersemi di halaman kampus. Dia berubah meskipun aku tidak tahu sebabnya.

            Pagi yang dingin di hari Ahad.

Langit tampak begitu gelap. Awan hitam pekat mulai menggelayut menutupi matahari, meskipun saat itu masih berada beberapa jengkal tingginya di ufuk timur. Tetesan air pun mulai berjatuhan membasahi rerumputan yang baru semalam diterpa hujan. Deras dan lebat, lalu sepi.

            Suasana di pagi itu, sama dengan suasana yang sedang aku rasakan. Aku kehilangan kasih sayang dari orang yg aku kasihi. Tekadku berusaha untuk mempertahankan hubungan yang hampir rapuh. Mencoba membangun kepercayaan yang perlahan mulai goyah. Memperkuat pondasi cinta yang mulai retak oleh riak gelombang curiga dan cemburu yang berlebihan. Mungkin.

            Hubungan yang sudah aku jalani dengannya hampir satu tahun, putus tanpa sebab yang pasti. Aku jalan terhuyung.

Kenapa ada asap jika tanpa api?

Aku tak tahu mengapa dia melakukan itu kepadaku. Padahal, aku tak merasa melakukan suatu kesalahan. Widi juga tidak pernah bicara kepadaku, apa sebabnya. Jangankan bicara, senyum pun tidak pernah. Aku benar-benar telah kehilangannya.

Aku berusaha tegar meski pedih.

Aku tidak memedulikannya lagi. Biarlah berjalan mengikuti putaran waktu.

            Satu bulan kemudian aku pun berpacaran dengan seorang gadis, dengan harapan aku dapat melupakan Widi. Lisa, namanya. Kami bertemu pada salah satu kegiatan kampus. Aku datang ke sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi penerimaan mahasiswa baru di kampus kami. Kebetulan aku bertemu dengannya.

            Anehnya, walaupun Lisa telah mengisi kisi-kisi kekosongan hatiku pasca pisah dengan Widi, namun di lubuk hatiku yang paling dalam, jiwa dan ragaku masih terpaut kuat pada Widi. Orang yang telah membuatku menguras air mata. Tragisnya hubunganku dengan Lisa hanya berlangsung sembilan hari. Aku memilih untuk putus dengannya, karena aku tak mau dia sangat menyayangiku, sementara aku sendiri tidak punya perasaan sama sekali terhadapnya. Aku tidak ingin bohongi diriku sendiri, bahwa sebenarnya aku mendambakan masih berjalan beriringan dengan Widi meski nyatanya kami tak lagi sejalan.

            Kami berpisah. Lisa menerima dengan ikhlas. Ia memahami keadaanku, tentunya setelah aku katakan apa sebenarnya yang terjadi pada diriku.

            Setelah kejadian itu aku semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Berusaha menyadari bahwa cinta memang tidak bisa dipaksa.

            Pada suatu hari, aku duduk di depan kelas temanku tepatnya di depan kelas H2-03, salah satu ruangan kuliah di kampusku. Aku berbincang-bincang dengan temanku Fahrul, Yuli, dan  Innah. Pada saat bersamaan, tiba-tiba Widi datang, tetapi aku hanya diam tak menyapanya. Raut muka Widi, merah padam.

            “Kenapa kamu tak memedulikanku?” Tanya Widi via sms pada malam harinya.

“Aku hanya khawatir menyakiti hati Adnan, walaupun bagaimana dia itu kekasih kamu. Aku tidak mau buat dia sakit hati kalau melihat aku dan kamu, sedang akrab kembali,” jawab aku lirih via sms juga.

            “Tidak, tidak apa-apa kok! Adnan sendiri yang bicara bahwa dia tidak akan marah jika melihat kamu dan aku akrab kembali,” jelas Widi.

            “Tidak bisa, Widi! Aku tidak mau jadi orang egois. Walaupun dia mengatakan begitu, tetapi di dalam hati, pasti Adnan sakit hati juga. Dia hanya sembunyikan perasaan itu dari kamu,” paparku buka kartu.

            “Ya sudah, terserah kamu. Aku hanya tidak ingin silaturahmi kita putus, itu saja. Tidak ada yang lain kok,” balas Widi seperti memahami posisiku pada saat itu.

            “Kamu benar. Tapi maaf ya, aku tidak bisa terlalu akrab dengan kamu,” balas aku.

            “Iya, tak apa,” balas Widi.

             Beberapa minggu setelah hari itu, aku dengar kabar bahwa Widi telah putus dengan Adnan. Penyebabnya aku tidak tahu, karena aku memang tidak mau tahu. Aku tidak mau mencampuri urusan orang lain. Apalagi orang yang pernah membuat aku terpuruk.

            Hubunganku dengan Widi mulai membaik, walau tak sama seperti dulu. Dulu kami bersahabat. Aku memilih untuk tetap menjalin silaturahmi bersama dia. Buatku, aku dan Widi awalnya bertemu secara baik-baik, jadi ketika kami berpisah pun harus baik-baik juga.

             Aku ingat dalam ajaran Islam, bahwa menjalin hubungan silaturahmi dengan sesama, akan memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki. Kami saling memaafkan.

            Petualangan cintaku telah menyebabkan beberapa pelajaranku terbengkalai. Prestasi hasil belajarku pun anjlok dari hari ke hari. Dari semua kejadian itu, aku berjanji, untuk tidak terlalu dalam menyelam di kolam cinta. Aku ingin lebih fokus diri perbanyak beribadah kepada-Nya dan belajar yang sungguh-sungguh. Aku sadar bahwa selama ini aku terlalu jauh dari Tuhan. Aku percaya kalau Tuhan memberikan apa yang hamba-Nya butuhkan, bukan apa yang hamba-Nya inginkan.

            Mungkin masalah yang aku alami selama ini adalah hal yang aku butuhkan, agar aku menjadi umat yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Kini aku sadar bahwa dari Jawa ke Makassar bukan untuk mencari dan mengumbar cinta. Namun, jauh lebih penting dari itu adalah mencari ilmu dan meraih cita-citaku agar aku dapat membahagiakan semua orang yang telah mendukungku, khususnya keluargaku. Aku tidak mau mengecewakan mereka, mengabaikan kebaikan mereka, apalagi Ibuku tercinta yang saat ini nan jauh di Jawa sana. Aku ingin sekali membuktikan kepada orang-orang  yang memandangku sebelah mata, bahwa aku bisa menjadi  orang yang membanggakan keluargaku yang saat ini selalu berdoa untuk kesuksesanku. Kelak jika cita-cita tercapai aku akan kembali ke Jawa, tentunya setelah bersimpuh di atas pusara Ayahku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*