Selasa , Januari 16 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Tuhan, Dia Ayahku

Tuhan, Dia Ayahku

Ilustrasi Arief Try D.J

Ilustrasi Arief Try D.J

Arief Try D.J

(Koordinator Divisi Kreativitas LPMH-UH periode 2016-2017)

Mentari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk Timur. Seiring itu, irama kicauan burung yang hinggap di dedaunan, seakan berdendang untuk pagi yang cerah. Dari kejauhan, Bayu melihat sosok tangguh tak lagi muda tengah membanting tulang. Sosok itu adalah ayahnya. Ia  sedang asyik mengayunkan cangkulnya ke tanah.

Bayu lalu menghampirinya dan bertanya. “Untuk apa semua pekerjaan yang melelahkan ini ayah? Mengapa engkau tak mengisi hari tuamu dengan duduk dan bersantai di teras rumah kita saja? Aku heran, bagaimana bisa engkau begitu perkasa menggenggam cangkulmu dengan tangan yang renta berurat untuk menanam semua bibit jati ini?” tanya Bayu prihatin.

Sang ayah hanya mendengar namun tak membalas. Ia hanya tersenyum dan terus saja mencangkul tanah. Anaknya itu pun merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati, tentang apa maksud dari senyuman yang terlukis diwajah sang ayah.

Siang makin terik. Matahari mulai menunjukan keperkasaannya. Dahaga yang menyiksa pun memaksa sang ayah menghentikan dendang ayunan cangkul digenggamannya, hanya untuk sejenak.

Sang ayah beristirahat di bawah pepohonan jati yang rindang. Di dekat pondok tua tak berpenghuni, ia tertegun memandangi guguran dedaunan kering yang terbawa hempasan angin. Suasana itu mendamaikannya. Seolah meredam dahaga dan panas yang seakan membakar kulitnya, Bayu datang dan duduk di samping sang ayah. Seperti biasa, ia tak lupa membawa sebotol air minum untuk ayahnya. Sang ayah pun memandang bangga pada buah hatinya.

Terlintas di benak sang ayah untuk berbagi makna kehidupan pada anaknya. Ia sadar bahwa anaknya memendam rasa penasaran atas kesabaran melakoni pekerjaan berat setiap hari. Merawat dan menanam berbagai bibit tanaman jati. Dia pun memutuskan untuk memberikan jawaban dari pertanyaan yang selama ini dipertanyakan anaknya.

“Nak, makin hari ayah makin tua dan membungkuk. Tubuh ayah yang dulunya kuat bekerja untuk menghidupi keluarga kecil kita, kini telah lemah dan renta. Ayah tak bisa lagi berbuat banyak,” tuturnya, sambil mencampak-campak punggung sang anak.

Sang ayah lalu menunjuk pada satu pohon jati yang baru ditanamnya. “Lihatlah pohon kecil itu nak. Ia pasti akan tumbuh. Kelak akan dewasa dengan batang yang kokoh serta ranting yang penuh dedaunan. Sampai tiba waktunya, ia akan menggugurkan semua daunnya dan merelakannya pergi bersama hembusan angin. Akhirnya, yang tersisa hanya batang dan ranting yang rapuh.”

Bayu hanya tertunduk merenung. Meresapi setiap makna kata yang terucap dari bibir ayahnya. Ia yakin tutur ayahnya akan menjadi pesan-pesan yang penting bagi kehidupannya kelak.

“Begitu pun dengan kondisi ayah saat ini. Jika tiba waktunya, ayah akan menghadap Sang Ilahi. Lantas apa yang bisa ayah kenang sebelum kepergianku?” pancing sang ayah, lalu melempar senyum penuh ketulusan pada Bayu. “Pastilah kau ingat, sewaktu kecilmu, kita sering menghabiskan waktu bersama di kebun ini dengan menanam semua bibit jati yang ada. Hanya di sinilah ayah bisa mengenangmu di saat kau jauh di kampung orang. Di saat kau sibuk dengan segala aktivitas perkuliahanmu, aku suka ke sini dan bernostalgia tentang kita.”

Sang ayah pun menghentikan tuturnya sejenak. Sedang Bayu juga tak bertanya apa-apa, seperti menunggu sang ayah melanjutkan ceritanya. Dua puluh menit berlalu, suara parau sang ayah kembali memecahkan keheningan.

“Terpikir di benakku untuk berhenti dari semua pekerjaan yang melelahkan ini. Tapi apa daya, aku hanya sosok ayah yang selalu merindukan anaknya. Apa lagi yang bisa kukenang tentangmu jika bukan tentang pekerjaan ini. Hanya engkau harapan dan kebanggaanku,” tuturnya, lalu jeda sejenak untuk melepas batuk berdahaknya yang tertahan sedari tadi. “Aku percaya, perpisahan hanyalah khayalan yang menyerupai kenyataan. Pada akhirnya, kuasa Tuhan yang menentukan, kita kelak akan berujung duka atau bahagia”.

Kata-kata sang ayah membuat Bayu tak kuasa menyanggah. Ia hanya diam dan memukul-mukulkan tangkai kering pada dedaunan yang jatuh. Memandang jauh hemparan dedaunan kering di depannya, meresapi udara kering, lalu membiarkan kata-kata ayahnya terpahat diingatannya. Ia membiarkan saja sang ayah menuturkan rahasianya, berharap sang ayah mengutarakan semua unek-uneknya yang terpendam selama ini. Dipikir Bayu, akan sulit menciptakan suasana seperti ini di lain waktu.

“Kini engkau mulai tumbuh dewasa. Seiring waktu, kebersamaan kita akan semakin jarang. Tetapi ayah tidak pernah menjadikan itu sebuah alasan untuk mengabaikanmu saat kau tak di sampingku. Ayah akan tetap di sini, bekerja di kebun dan mengenangmu. Saat waktuku kembali menghadap Sang Ilahi, akan kuceritakan semua kisahku bersamamu. Akan kusebut-sebut namamu di pangkuan Sang Pencipta, kelak, anakku,” tuturnya, sembari menjentik-jentikkan jarinya.

“Seperti itulah kehidupan nak. Jika pohon menyisakan batang dan ranting, manusia menyisakan nama dan kenangan. Dan jika pohon merelakan daunnya pergi bersama hembusan angin, maka manusia merelakan raganya pergi bersama tangis dan duka,” pungkas sang ayah, lalu mengusap-usap kepala Bayu.

Rasa haru menggerayangi Bayu. Sangat menenangkan dan menentramkan. Ia bangga memiliki sosok ayah yang begitu mencintainya. Karena itu juga, dengan segala upaya, ia akan berusaha mencintai ayahnya lebih dari cinta sang ayah padanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*