Selasa , Januari 16 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Casanova

Casanova

Sumber : Google

Sumber : Google

Andi Besse Sitti Fatimah

(Pemimpin Redaksi LPMH-UH Periode 2017-2018)

 

Anggap saja kita sedang bermain-main takdir, mengendalikan waktu dan menguasai perasaan. Karenanya tak ada penyesalan. Menyenangkan bukan?

***

Wanita sempoyongan itu mengantarkan putranya ke terminal kota yang layu, terminal yang nyaris mati tanpa aktifitas riuh angkutan kota. Sesekali debu beterbangan di antara jejeran halte yang berseberangan, dikibas oleh ban kendaraan yang melaju. Cuaca hari itu cukup terik namun terasa dingin akibat bungkamnya dua hati yang saling memadamkan bara kehangatan ikatan sedarah. Kasih ibu dan anak.

“Bu, apakah ibu sangat malu punya anak seperti aku sampai ibu tega mengusirku ke kota lain?”.

Suara lirih itu muncul memecah kebungkaman, ada isak yang tertahan di dadanya, ada tanya yang mengaharap pernyataan di hatinya.

“Iya ibu malu. Malu dengan didikan ibu selama ini kepada kamu, teganya kamu melakukan itu pada ibumu. Melarikan anak gadis orang, kamu mencabik jiwa ibumu sendiri Aldi!”.

Meluap sudah genangan air di ujung mata yang sedari tadi terbendungkan.

***

Tepat selepas maghrib Aldi tiba di Kota Makassar. Matanya masih sembab oleh bias-bias air mata, dahinya kian berkerut dan hatinya masih carut-marut. Ia mengeluh-eluhkan takdir yang membuatnya kian peluh. Seketika ia menjadi lelaki terasingkan jauh dari suasana kebisingan.  Tatkala hatinya menuntut Tuhan dan pikirannya melolong mempertanyakan takdir di balik tabir.

Aldi meraih tas lusuhnya, mengeluarkan secarik kertas bertorehkan alamat lengkap. Ia menatap kertas dengan pikiran terperangkap, terperangkap pada bayangan ibu. Ingin kembali pulang ke rumah tepatnya. Nafsu menggebu keluar dari teriakannya, ia meremuk kertas di tangannya lalu melemparkannya. Kertas itu terjatuh bersamaan dengan air matanya yang ikut jatuh. Terasa jatuh semua beban dunia menimpa Aldi, tiba-tiba jatuh sebuah uluran tangan dari pemuda yang berdiri di hadapannya.

“Beranjaklah. Bukankah kapalmu akan meninggalkan pelabuhan ini menuju Jakarta?” tanyanya.

“Jakarta? Kau benar aku harus ke Jakarta,” jawab Aldi dengan pandangan berbinar.

“Aku ikut”.

Nasib memang lucu pada setiap pemerannya, ia datang melucuti tiap bagian terdalam yang terasa susah untuk digali. Melepas sedikit demi sedikit, menggerogoti tiap sisi manis kenangan dan menyisakan ampas terpahit kehidupan. Mau menyalahkan siapa ketika apa yang kita jaga nyatanya adalah apa yang kita rusak? Mungkin takdir, atau kemungkinan juga Tuhan, entahlah.

Kedua pemuda malang yang terasingkan itu melangkah jauh menjemput kehidupan asing. Mereka memilih hidupnya sendiri dan tak lagi mengikuti alur yang dipilihkan oleh wanita yang melahirkannya.

***

Pemuda itu mengusap keringat yang mengguyur di dahinya. Ia sedari tadi terduduk di pelataran musala menunggu seorang gadis menamatkan sujudnya. Rosmini nama gadis itu, gadis miskin asal Kalimantan yang berani melakoni pilihan hidupnya di Jakarta demi kelanjutan ekonomi keluarganya.

“Sudah salatnya dek?” tanya Aldi.

“Iya sudah,” jawab Rosmini dengan senyum menggantung.

“Jadi, sekarang kamu sudah siap Ros?” tanya Aldi sambil menghisap tembakau di ujung jarinya.

Tanya itu tak mendapat jawaban. Hanya air mata menggenang di ujung mata gadis itu yang mampu menggambarkan berat atas tanya yang mengharap jawaban. Aldi tak bisa menahan rasa emosinya lagi, ia menghembuskan asap terakhir dari mulutnya lalu menginjak puntung rokok yang masih layak dihisap. Tangan Aldi seketika menggapai lengan Ros, menariknya dengan keras menuju ke mobil mewah yang sedari tadi menunggu di parkiran. Mobil berwarna hitam itu dijaga oleh dua orang lelaki kekar berjas hitam dengan setelan parlente.

“Kak hati saya berat melakukan ini, saya takut,” kata Rosmini dengan suara serak dan air mata yang tak terbendung lagi.

“Lantas kamu tidak berat hati saat menyerahkan dirimu kepadaku sebelumnya? Aku tidak bisa menikahimu Ros, aku tidak sanggup menafkahimu,” ujar Aldi dengan suara kasar.

Rosmini menelan ludah dengan mata terpejam, nyaris seperti memeras air mata terakhir. Ia mengeringkan wajahnya yang sedari tadi dibasuh air mata dengan menggunakan ujung jilbab. Pintu mobil mewah itu terbuka menyambut kedantangannya, tiba sudah Rosmini di gerbang kehidupan kelam yang ia pilih. Senyum manis seorang wanita paruh baya menjemput Rosmini. Amplop tebal  itu pun  disodorkan kepada Aldi.

Selepas transaksi yang penuh drama tadi Aldi akhirnya pulang ke rumah, rumah yang ia dapatkan sendiri dengan usahanya. Sebenarnya tak bisa dikatakan sendiri, karena ada seseorang yang membantunya memperoleh itu semua dengan cara setia menjadi tempat berkeluh kesahnya, teman terbaiknya. Rahmat.

Rahmat berasal dari Makassar. Ia dengan polosnya menawarkan diri untuk ikut bersama Aldi dalam keterasingan. Sudah genap empat tahun sejak pertemuan di pelabuhan dulu mereka bersama-sama menyusuri hidup yang menyilaukan di ibu kota Indonesia. Kelaparan, pencurian, pemukulan, perjudian, mencicipi perawan hingga menjadi jutawan, telah mereka rasakan bersama. Entah karena ikatan asal daerah atau karena layaknya telah merasa sedarah, intinya mereka saling betah.

Rahmat yang sedari tadi membaca buku di ruang tamu merasakan kedatangan Aldi. Tanpa basa-basi ia menanyakan tentang Rosmini. Aldi acuh tak acuh menanggapinya. Rahmat yang mulai naik pitam menghampiri Aldi sambil mencengkeram bahunya dari belakang. Aldi berbalik dan melepaskan cengkeraman Rahmat. Ia pun mengakui bahwa telah menyerahkan Rosmini pada seorang pemilik bar atas keinginan Rosmini sendiri.

“Tega sekali kamu. Ros masih belia, tidak cukupkah kamu merusak hidupnya? merusak hidup para perempuan. Apa yang ingin kamu capai dari semua ini? Tidakkah kamu puas? sudah cukup. Ayo kita akhiri!” kata Rahmat dengan tatapan emosi.

“Saya pernah melarikan anak gadis seseorang karena tak mampu memberi panai’ (uang yang harus diberikan kepada pihak perempuan sesuai dengan kesepakatan berdasarkan adat Bugis), konsekuensinya saya diusir dari kampung halaman saya, Bone. Dibuang oleh ibu saya. Setelah semua penderitaan itu, salahkah jika saya memberi harga termahal bagi semua perempuan yang menginginkan uang?” ucap Aldi dengan air mata berlinang.

“Tapi tidak dengan cara menjual mereka Aldi! Kamu memanfaatkan perempuan dengan pesonamu, kamu menyentuh hati terdalam mereka lalu memanfaatkannya. Kamu hanyalah mucikari yang masih menyimpan rasa sakit masa lalu dan melampiaskannya di masa sekarang. Aku tak yakin ada masa depan yang baik untukmu,” ujar Rahmat.

“Diam kamu! Tau apa kamu soal perempuan sedang kamu tak pernah memilikinya. Sadarlah, di dunia ini tak ada perempuan yang benar-benar menyayangimu, bahkan ibumu pun bisa membuangmu. Apalagi mereka, para jalang yang hanya menjual paras, menggadaikan hati dan menawar akal dengan berpura-pura baik kepada semua lelaki hanya untuk mendapat perhatian,” nada suara Aldi kian meninggi dengan mata berkaca-kaca.

Rahmat terdiam, kata-kata Aldi menghantam bagai panah di dadanya. Benar saja, selama ini ia tak pernah memiliki sosok perempuan di hidupnya. Sewaktu bayi ia ditemukan di dekat jembatan oleh seorang duda. Hingga duda yang menjadi ayah angkatnya itu meninggal dan hingga kini ia telah menjadi lelaki dewasa, ia tak pernah benar-benar mengenal perempuan, apalagi merasakan kasih sayang dari seorang perempuan.

Dengan perasaan malu bercampur pilu Rahmat memutuskan untuk meninggalkan Aldi. Baru kali ini Aldi begitu keterlaluan itu menjatuhkan harga dirinya. Tidak, mungkin lebih tepatnya baru kali ini Aldi begitu kasar itu menyadarkan Rahmat akan siapa dirinya. Bukankah ia hanya pemuda sebatang kara yang dipungut oleh Aldi di pelabuhan empat tahun lalu? Bukankah ia hanya pemuda yang menjadi parasit di hidup Aldi selama ini? Pantaslah jika ia diperlakukan seperti itu oleh Aldi, pantaslah jika ia tak bisa berbuat hal yang sama kepada Aldi. Aldi sang casanova dengan segala pesonanya.

Siapalah ia jika dibandingkan dengan Aldi? Lalu siapalah Rosmini yang menjadi alasan mereka beradu emosi? Bukankah selama ini mereka baik-baik saja walaupun Aldi telah menjual perempuan-perempuan sebelumnya? Betul saja, Rosmini memiliki sisi lain dari perempuan-perempuan sebelumnya. Pantaskah jika Rahmat menyukainya? Pantas. Benarkah jika Rahmat ingin memilikinya? Tidak benar. Rosmini hanya terpaku kepada Aldi. Tak ada celah bagi Rahmat. Tak ada peluang bagi seorang teman memenangkan hati perempuan yang menjalin hubungan istimewa dengan temannya. Rahmat sepenuhnya paham akan hal itu. Ia sadar bahwa ia seorang yang paham. Paham bahwa ternyata ia menyayangi Rosmini.

Tak ada yang perlu disesalkan sekarang. Mungkin benar adanya, bahwa satu tindakan tanpa niat lebih manjur dibandingkan seribu niat tanpa satu tindakan. Mungkin karena itu Aldi bak casanova, tanpa niat untuk serius kepada perempuan ia berhasil mendapatkannya dengan tindakan-tindakan yang menarik hati para perempuan. Sementara Rahmat, ia memiliki berbagai niat baik kepada perempuan, terutama pada Rosmini. Namun ia tak pernah bisa mendapatkannya karena tidak pernah melakukan tindakan apapun untuk memenangkan hatinya. Memendam, adakalanya menjadikan seseorang pengecut dan berpotensi mendatangkan penyesalan. Mengungkapkan, adakalanya menjadikan seseorang lebih berani dan berpotensi memunculkan jiwa casanova-nya.

Saat keadaan kini memasuki wilayah netral, Aldi dan Rahmat menemukan jiwa casanova-nya masing-masing. Lima tahun kemudian, terdengar kabar bahwa Aldi tetap menjadi jutawan dan memiliki empat orang istri. Ya, mungkin keempat orang itulah pilihan terbaiknya sesuai dengan ajaran Islam. Rahmat pun berhasil membangun usahanya sendiri, ia menjadi pengusaha yang memiliki banyak koneksi. Namun dari semua itu apalah artinya mempunyai empat orang istri jika tak mampu memenangkan hati wanita nomor satu di hidup Aldi. Ibu yang melahirkannya. Apalah arti mempunyai berbagai koneksi atau orang-orang yang menunjang hidup jika penunjang utama hidup laki-laki tak bisa didapatkan oleh Rahmat. Perempuan yang tepat menjadi istrinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*