Selasa , Januari 16 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Kenangan Dalam Hujan (2)

Kenangan Dalam Hujan (2)

Photo by Oli Scarff/Getty Images)

Photo by Oli Scarff/Getty Images)

Nur Hikmah
(Reporter LPMH-UH Periode 2017-2018)


“Jangan menyukai sesuatu secara berlebihan, karena bisa saja suatu hari nanti kau akan sangat membencinya”

***

Hujan adalah saat-saat terindah dalam hidupku. Apalagi bersama ketiga sahabatku. Saat hujan turun, kami akan berlari bersama menerobos hujan, sambil menari dan tertawa lepas. Bagi kami, hujan adalah obat paling ampuh saat kami dilanda tugas sekolah yang menumpuk.

Andaikan aku bisa memutar waktu, aku akan kembali ke masa itu. Masa dimana kami berempat masih bersama. Aku merindukan setiap momen yang ada. Aku rindu suara tawa Indah. Aku rindu sifat judes Hikmah. Aku rindu sikap ramah Dian. Aku rindu semuanya.


Hampir setahun sejak kepergian ketiga sahabatku, namun aku masih saja tidak bisa melupakan mereka. Hujan yang selalu mendatangkan kebahagian bagiku, kini mendatangkan duka yang sangat dalam. Hujan selalu mengingatkanku tentang mereka, membuat rasa sesak di dalam dadaku kembali berkecamuk. Rasa penyesalan itu akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang. Aku benci semua itu.

Hujan turun begitu deras, angin bertiup cukup kencang, membuat helai-helai daun berterbangan. Aku hanya bisa duduk terpaku menatap keluar jendela, membuat ingatanku tentang mereka muncul satu persatu.

“Caya, di luar lagi hujan tuh, yuk kita main hujan-hujanan!” sahut Dian bersemangat.

“Eh, iya benar lagi hujan,” timpal Hikmah.

“Ayo buruan  keluar,” kata Indah.

Seperti biasa, kami berempat sangat bersemangat saat hujan turun. Kami berlari ke pekarangan rumah dan menari di bawah guyuran hujan. Kami tertawa lepas dan menikmati setiap rintik hujan yang turun membasahi Bumi.

“Caya kamu lagi apa?” sahut ibuku.

“Bu, aku lagi hujan-hujanan sama mereka,” jawabku seraya menari.

“Sama siapa? kamu cuma sendiri tahu,” balas ibuku.

Seketika, aku tersadar, saat ini aku hanya sendirian. Ingatanku tentang mereka, membuatku berada disini. Memikirkan itu aku kembali bersedih. Aku memutuskan segera masuk ke rumah. Ya, itulah yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini. Aku selalu melakukan hal-hal yang biasa kulakukan bersama mereka. Aku merasa mereka semua ada bersamaku. Dan anehnya, itu terasa sangat nyata.

Aku merasa sudah gila. Apakah ini karena aku sangat merindukan mereka? Ataukah karena rasa bersalahku yang teramat dalam kepada mereka? Selalu terbesit dalam pikiranku untuk ikut bersama mereka. Namun, apakah pilihanku ini benar?

Hari ini, tepat setahun setelah kepergian sahabatku. Aku berencana untuk pergi ke makam mereka. Aku bergegas mengganti baju. Aku menatap keluar, dan angin berhempus sangat kencang. Sepertinya hujan akan turun lagi. Namun, aku tidak peduli, aku tetap akan berangkat. Aku pun segera keluar rumah dan mengendarai mobilku. Dalam perjalanan, rintik hujan mulai turun satu persatu.

Sesampai di sana, hujan turun semakin deras, tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Aku turun dari mobil dan melangkah menuju makam ketiga sahabatku. Disana aku menangis tersedu-sedu menyesali semua yang terjadi. Aku sangat menyesal karena hari itu memutuskan pergi berlibur. Aku menyesali semuanya.

Kini, tekadku sudah bulat. Aku segera berdiri dari makam dan bergegas naik ke mobil. Aku mengendarai mobil dengan kebut-kebutan. Aku  menuju tempat kecelakaan tahun lalu. Tiba-tiba saja, aku merasa ada yang menepuk pundakku, aku berbalik dan melihat ketiga sahabatku. Aku mengutarakan keinginanku untuk ikut bersama mereka.

“Dian, Hikmah, Indah, aku rindu kalian. Maafkan aku sudah menyebabkan kalian meninggal. Aku ingin pergi bersama kalian,” kataku sambil menangis.

“Cay, ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir kami semua,” kata Hikmah.

“Iya Caya, kamu jangan menyalahkan diri sendiri,” lanjut Indah.

“Kita akan benci kamu, kalau kamu seperti itu,” sahut Dian.

“Aku nggak bisa lagi teman-teman. Aku sudah memutuskannya,” kataku.

Aku langsung menabrak pembatas jalan dan seketika itu juga aku tidak sadarkan diri.

Caya, Caya, Caya…
Aku mendengar suara orang memanggilku. Aku mencoba untuk membuka mata. Kulihat ketiga  sahabatku sedang berdiri menatapku.

“Dian, Indah, Hikmah, aku rindu kalian,” kataku.

“Kami juga merindukanmu Cay, tapi kamu harus bangun, ibumu menunggumu, dia lebih merindukanmu,” kata Hikmah.

“Tapi, aku tidak bisa. Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi tahun lalu. Aku tau ini semua salahku. Aku minta maaf. Aku ingin menebus semua kesalahanku,” jawabku.

“Kami sudah bilang ini bukan salah kamu, jadi kamu tidak perlu minta maaf. Sekarang kamu bangun ya. Kamu harus melanjutkan semua mimpimu. Kami bertiga akan melihatmu dari sini,” kata Dian.

“Aku mohon Caya, kamu bangun, meskipun kami tidak bisa bersamamu lagi, tapi kami akan selalu ada untuk kamu. Aku mohon jangan seperti ini lagi Caya,” kata Indah.

“Maafkan aku teman-teman, aku janji tidak akan seperti ini lagi,” jawabku sambil menangis.

Aku terbangun dengan keadaan sangat lemah. Saat membuka mata, aku melihat seluruh ruangan berwarna putih. Aku tidak tau sedang di mana. Aku melihat ibuku berdiri di samping ranjang. Ibu langsung memelukku dengan sangat erat.

“Kamu sudah sadar nak. Ibu mohon kamu jangan seperti ini lagi. Ibu sangat khawatir. Kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Ibu yakin, sahabatmu akan berpikir seperti itu juga, mereka pasti sedih melihat kamu seperti ini,”  kata ibuku.

“Iya bu, maafin Caya. Caya janji tidak akan seperti ini lagi,” jawabku dengan suara lemah.

Kini, aku menyesali semua yang sudah aku lakukan. Aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan seperti itu lagi. Aku akan menuruti kata ibu dan sahabatku. Aku percaya, meskipun kami tidak bisa bersama lagi, tapi mereka akan selalu ada di hatiku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*