web analytics
header

Kurangnya Minat Menjadi Petani Kakao Faktor Penurunan Produksi Kakao di Sul-Sel

Seminar dan workshop “Jadilah Petani Milenial” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB) Unhas pada Rabu (8/11). Syr

Seminar dan workshop “Jadilah Petani Milenial” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB) Unhas pada Rabu (8/11). Syr
Seminar dan workshop “Jadilah Petani Milenial” yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB) Unhas pada Rabu (8/11). Syr

Makassar, Eksepsi Online Pada seminar dan workshop bertema “Kewirausahaan Industri Kreatif di Sektor Pertanian-Perkebunan” yang berlangsung di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB-UH), Rabu (8/11) dibahas mengenai kurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani kakao menjadi salah satu faktor penurunan produksi kakao di Sulawesi Selatan (Sul-Sel).

Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya luas lahan namun produksi kakao di Sul-Sel menurun. “Produksi cocoa di Sul-Sel mengalami puncaknya pada tahun 2009 dengan jumlah produksi sebanyak 700 ton dan saat ini mengalami penurunan, padahal luas lahan yang meningkat tetapi produksinya malah turun,” ucap Dr. Untung Suropati.

Indah Putri Indrayani yang menyatakan bahwa, menjadi petani kakao sekarang itu kurang diminati oleh generasi muda, padahal pekerjaan ini sangat menjanjikan, tergantung cara memberdayakan buruh tani kakao. “Menjadi petani kakao itu sangat menjanjikan dan tidak usah khawatir menjadi petani kakao, karna petani kakao bukanlah memanfaatkan teknologi tetapi cara dalam memberdayakan buruh tani kakao,” ujarnya.

Dilanjutkan oleh Nurhady Sirimorok yang beranggapan bahwa, pekerjaan yang tetap dan stabil menjadi alasan sedikitnya generasi muda yang ingin menjadi petani kakao. “Banyak anak muda yang tidak ingin menjadi petani dengan alasan bahwa menjadi petani kakao itu susah, dan jika dikaji lebih dalam mereka ingin pendapatan pekerjaan yang tetap  dan stabil, itulah mengapa generasi muda tidak ingin menjadi petani kakao,” ungkapnya.

Generasi yang serius ingin menjalani usaha kakao haruslah diberi kesempatan dengan membiarkan mereka memegang lahan. “Berikanlah kesempatan kepada generasi yang benar-benar serius menjalani usaha kakao dengan cara membiarkan mereka memegang lahan kakao, tinggal dilihat bagaimana cara mereka kerja dan merawat lahan kakao itu, dan menjadi petani yang berwirausaha,” jelas Nahrul selaku pembicara terakhir. (Ndh)

Related posts: