Minggu , Oktober 21 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Firasat

Firasat

Sumber: Ins[irasi.co

Sumber: Ins[irasi.co

Nuriyah Fara Muthia

(Peserta Kokur Jurnalistik LPMH-UH)

“Dek! Cepat sarapan nanti kamu telat!” ujar seorang pria yang berteriak dari lantai bawah tapi suaranya menembus dinding tetangga.

Ya, dia adalah Ayahku. Semenjak dua minggu ditinggal ibu ke luar kota, dialah yang menjadi pawangku saat ini. Entah mengapa mayoritas orang tua sangat takut jika anaknya telat masuk sekolah.Takut ketingalan pelajaran, negative thinking kalau anaknya bakal boloslah, pokoknya banyak deh kekhawatirannya. Padahalkan, telat adalah sesuatu yang disukai oleh anak sekolah, terutama diriku. Namaku Deyvita Aquiza Yaxvaca. Anak yang biasa dipanggil Dey. Kesan pertama orang yang mengajakku berkenalan, mereka bakal ngira kalau aku ini adalah gadis keturunan Russia. Setiap kali ketika aku memperkenalkan diri, orang-orang akan bertanya “Nama panggilannya siapa?”. Ya, bahkan saya juga sangat bingung mengapa ayah dan ibu memberiku nama yang susah untuk disebut. But, I love that! I love when somebody told me that I have a difficult name.

            “Yaaa, sebentar.” Aku segera mengambil tas dan turun ke bawah. Aku duduk di meja makan di depan ayah yang sedang meminum seteguk susu vanilla.

            “Kamu nih malas banget ya ke sekolah pagi-pagi, kamu nggak takut telat? Kamu harus sukses dan buat ayah bangga!” Inilah momen serangan yang dilancarkan oleh sekutu melalui kata-kata tajam.

            Hell no, Dad! Ini masih jam 06.50, sedangkan aku masuknya jam 07.30. Kayak dari rumah ke sekolah 10 Km aja. Paling 10 menitan juga sampai.

            “Iya, Yah. Ini juga masih lama bellnya. Mau apa kalo adek jadi tukang buka pagar sekolah? Hayo… kalau pagi-pagi gini nggak ada orang terus adek diculik gimana dong?” tuturku sambil tersenyum ala-ala princess yang ingin segera dilamar pangeran.

            “Bukan begitu, Dek. Tapi jelek kalau anak perempuan itu telat ke sekolah. Kalau anak laki-laki ya wajarlah.” bantahnya.

            Aku hanya terdiam sambil memakan sepotong roti ku.

            “Sudah, sudah! Cepat makan roti, habiskan susunya. Nanti biar Pak Bimo yang antar. Ayah ada tugas jam 8. Mau mandi dulu. Ingat ya! Pulang tepat waktu, jangan ……”

            “Jajan sembarangan. Yaa Adek udah hapal, yah. Tenang aja.” Ayah beranjak sambil tersenyum tipis.

            Kuhabiskan seteguk susu dan sepotong roti tawar berselai blueberry. Beranjak dari ruang makan aku berjalan menuju rak sepatu. Mengambilnya lalu memakai di teras rumah. Hari yang lumayan cerah. Langit membiru bersama dengan sinar mentari yang menguning. Ya, cuaca yang baik namun tidak disukai oleh anak sekolah di hari Senin. Welcome to the flag ceremony, darling.

            “Ayo Pak Bimo kita berangkat!” kataku kepada bapak yang telah bekerja selama kurang lebih enam tahun bersama kami.

            Ia hanya mengangguk sambil tersenyum manis sembari meletakkan lap di dekat pot bunga yang biasa ia pakai untuk membersihkan mobil. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Anaknya cewek semua dan masih SD. Mereka adalah keluarga yang baik dan harmonis. Jika kami sedang ingin jalan ke luar kota, mereka pasti ikut. Aku sangat menyayangi mereka seperti keluarga sendiri.

            “Nanti jemput jam berapa dek? Soalnya tuan marah nanti kalau saya telat jemput. Adek telfon bapak saja kalau misalkan sudah 10 menit mau bell, biar bapak sudah di luar kalau adek pulang.” Tanyanya dengan jelas  yang sedang menyetir.

            “Oh iya, pak. Nanti Adek pulangnya mungkin bareng sama Ian kok. Jadi bapak nggak usah jemput. Biar adek aja yang telfon ayah.” Jawabku.

            Ian itu adalah pacarku, ya sekitar setahun belakangan. Dia anak yang baik, sabar, penurut banget, dan dia nggak pernah sekalipun marah ke aku. Makanya itu, aku sayang banget sama dia. Semoga suatu saat aku bisa ngenalin dia dengan ayah dan ibu.  Tetapi, tetap saja ayah dan ibu nggak tau kalau aku punya pacar. Bisa-bisa aku terkena serangan sekutu lagi deh. Namun, pernah sekali ayah dan ibu melihatnya di depan gerbang pas mengantarku pulang. Aku hanya bilang dia sahabat, nggak lebih.

            Sesampainya di sekolah, aku di teriaki oleh seorang gadis yang sudah kuduga siapa setelah aku mendengar suara yang melengking bagai nenek lampir.

            “Deeeyyvitaaa!!!” nah kan, nenek lampir versi modern.

            “Hei. Jarak aku sama kamu itu nggak jauh-jauh amat, Hel. Bisa kan kamu manggil aku dengan lembut, nggak perlu acara teriak yang sampai SD sebelah sana tuh juga dengar,” balasku mencibir.

            “Bukan Rachel dong kalau nggak teriak. Eh iya, Dey! Kamu tau kan kalau besok kita ada acara pensi? Dan sekolah kita ngundang Sheila on 7. Aaakkk!! Aku bahagiaa…” Iya, mulai lagi anak ini.

            “Aku tau kali, Hel. Aku bukan anak kolot. Udah deh, kamu nih belum minum obat kan? Masih pagi dan masih hari Senin. Minggu masih lama, tapi kamu udah kambuh aja penyakitnya. Bhay! Aku mau ke kelas duluan,” ucapku sambil berlari beranjak darinya. Lama-lama syndrome teriak nya juga nular ke aku.

            Saat istirahat pun telah tiba. Seperti biasa, aku duduk bersama Rachel di gazebo depan kelas. Dari kejauhan aku meilhat ada sosok yang berjalan ke arahku, membawa sebotol pocari sweet dan dia berjalan lebih dekat, semakin dekat, dan ……..

            “Ini, aku tau kamu malas ke kantin. Aku juga beliin wafer.” Ian si cowok perhatian datang menghampiri.

            “Duh ya ampun, aku tipe apalagi ya? Hit, Baygon, atau Vape?” Rachel mengambil sindiran halus khasnya.

            “Ya siapa suruh di sini. Makanya pergi!” Ian sudah bukan menyinggung, benar-benar menyuruh.

            Dengan perasaan judes, Rachel beranjak dan masuk ke dalam kelas. Hahaha. Dia kadang lucu juga sih, terlepas dari semuanya. Dia adalah sahabat karib yang karib banget sekarib-karibnya. Kalau tidak salah, dari SD kami berteman, lalu dipisahkan pas SMP. Ternyata SMA ketemu dia lagi, jadi bosen, Hel. Hehehehe.

            “Eh, nanti kamu bisa kan nganterin aku pulang? Soalnya aku tadi bilang sama Pak Bimo ada Ian yang bakal nganterin. Jadi aku nggak nyuruh dia buat jemput deh,” tanyaku kepadanya yang sedang melihat tim basketnya latihan.

            “Iya, nanti aku anterin. Tapi aku nggak bisa lama, ya. Soalnya aku mau latihan juga,” jawabnya.

            “Hei. Kamu nggak usah ke-gr-an ya. Nggak ada yang nyuruh kamu lama-lama di rumah,” kataku akhirnya.

            Dia hanya tersenyum manis sambil salting. Gila ni anak. Bisa-bisa aku diserang lagi nih sama sekutu kalau berani bawa anak cowok masuk ke rumah. Pernah sekali aku ke rumah bersama dengan Rachel dan Chandra, sahabatku. Aku ditanyain mati-matian mengenai siapa itu Chandra. Kalau Ian yang datang ke rumah, mungkin aku bukan diserang lagi, tapi dibom.

            Beberapa saat kemudian, bell yang dinantikan berbunyi. Pertanda pulang telah tiba. Seperti biasa aku menunggunya tepat di samping motornya. Dia berjalan ke arahku, sambil ngobrol nggak jelas dengan temannya.

            “Udah lama, Dey?”

            “Pakai nanya ya? Udah ayo, nanti aku di marahin ayah.” Dia pun bergegas menyalakan motornya lalu aku seketika naik tepat duduk di belakangnya.

            Sesampainya di rumah aku melihat ayah sedang membaca koran sambil meminum kopi di ruang televisi. Duh aku bakal dikena serangan lagi nggak ya!!!!!

            “Dek, sini dulu kamu.” Jreng-jreng…….

            “Iya, yah?” Aku rada takut.

            “Apa kabar ya kakak kamu? Ayah kok tiba-tiba teringat sama dia,” ujarnya.

            Legaaa…. Kirain ayah mau nanyain kenapa aku nggak dijemput sama Pak Bimo lagi. Oh iya! Sebelum menikah dengan Ibu, Ayah lebih dulu menikah dengan orang lain. Dimana aku sama ibu nggak pernah liat orangnya. Katanya, mereka punya seorang anak laki-laki yang setahun lebih tua dariku. Jadi ceritanya gini, setelah sekitar lima bulan menikah, mereka bercerai. Alasannya karena, istri dari ayahku ini kedapatan berselingkuh dengan orang lain. Ayah langsung meninggalkan istrinya ini dalam keadaan hamil. Meskipun sebenarnya tidak dibenarkan dalam Islam. Maka menikahlah ayah dengan ibu dan lahirlah aku. Ayah sama sekali nggak pernah melihat wajah dari anaknya itu. Bahkan fotonya pun nggak pernah. Aku juga penasaran sih, gimana ya wajahnya?

            “Tapi tadi Ayah dapat informasi dari keluarganya, minta nomor telfon dan akhirnya dikasih,” lanjutnya.

            “Yaudah, Ayah telfon dia. Minta ketemu. Adek mau kok ikut,” kataku meyakinkan.

            Ayah mengangguk dan aku kemudian masuk ke kamar. Rebahan di kasur, aku teringat percakapanku dengan ayah tadi. Gimana yah wajahnya? Apakah mirip denganku atau bahkan mirip dengan ayah? Aku pernah sekali berbicara dengan ibu mengenai hal ini. Ibu baik-baik saja sih, jika suatu saat ayah memanggil anaknya untuk tinggal bersama kami. Ibu tak masalah.

            Siang berganti malam, aku segera turun ke bawah. Menapaki anak tangga memburu serial drama favorit yang tayang hari ini. Di pertengahan nonton, tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak. Seperti aku sedang memikirkan sesuatu tetapi aku juga bingung apa. Mungkin karena terbawa suasana alur drama ini.

            “Dek, kamu mau kan temenin Ayah?” Tanyanya mengagetkan ku yang sedang serius.

            “Oh iya, Yah. Sekarang ya?” Tanya ku balik.

            “Iya, dek. Ayah tadi sudah telfon dia katanya malam ini dia bisa ketemu. Karena besok dia ada acara.” Aku hanya mengangguk dan bergegas ke atas untuk ganti baju.

            Setelah semuanya siap kami pun berangkat. Tetapi perasaan yang aku rasakan tadi, selalu saja menyelimuti. Entah apakah ini sebuah firasat buruk atau karena memang aku terlalu baper dengan drama tadi. Yasudahlah, tidak usah dipikirkan. Oh iya! Aku hampir lupa memberitahu Ian kalau aku mau keluar dengan Ayah. Aku segera mengiriminya pesan. Beberapa menit kemudian dia pun membalas dengan gaya yang selangit.

            Iya, hati-hati ya sayang. Aku juga mau keluar nih. Sendirian doang.

            Aku hanya melihat tanpa membalasnya.Ya aku sudah tahu, setiap dia berkata begitu berarti dia ingin ke Indomaret atau jalan cari makan.

            Beberapa saat kemudian, sampailah kita di sebuah cafe tempat pertemuan ayah dan kakak. Ayah ke luar sambil menunggu aku yang masih sedang memperbaiki rambut di dalam mobil. Setelah semuanya siap, kami pun masuk. Ayah berjalan menuju meja yang sudah diberitahukan oleh kakak sebelumnya. Ya, meja delapan. Aku suka angka delapan. Karena delapan merupakan angka jadianku dengan Ian. Aku pun hanya mengekor ayah dari belakang, tak berani memperlihatkan wajahku duluan kepada kakak.

            “Haikal ya?” Tanya ayah.

            “Iya, ayah.” Suara yang tak asing.

            Aku memberanikan diri menoleh, dan ternyata… Ian?

Sedang apa dia di sini?

Lalu kenapa ia kenal dengan ayah?

Mungkinkah dia adalah kakakku?

Mungkinkah dia adalah orang yang selama ini aku ingin lihat?

Mungkinkah dia adalah jawaban dari firasat buruk yang sejak tadi menggunung di hati?

Tidak mungkin! Ini tak boleh terjadi. Apakah ini mimpi? Yaa Allah, pria yang selama ini aku sayangi dan inginku untuk memperkenalkannya dengan ayah dan ibu adalah kakakku sendiri? Mengapa semuanya begitu klimaks?

            “Kenalkan, ini Deyvita. Adik kamu.” Rasa itu sungguh menyayat hati.

            “Panggil saja Dey, kak,” ucapku tanpa melihat wajahnya.

            Aku masih tetap saja tidak menatap wajahnya sementara aku sadar bahwa dia pun sampai sekarang tidak mengerti akan semua ini. Aku memotong pembicaraan mereka berdua dan berkata bahwa aku ingin ke mobil, sedang sakit kepala. Aku meminta kunci mobil di ayah, dan bergegas ke mobil.

            “Senang bertemu denganmu, kak.” Ucapanku kepadanya, sekarang sayang sudah terganti dengan kakak dan adik.

            Di dalam mobil aku hanya bisa merenung dan menangis. Kenapa tidak dari awal saja bertemu dengannya? Kenapa tidak dari awal saja aku mengetahui mengenai asal-usul keluarganya? Kenapa aku selalu lupa bahwa ternyata namanya adalah Alfian Fajar Haikal? Kenapa semua terjadi pada saat aku benar-benar sudah sangat menyayanginya? Mana bisa aku melihat dan mengaggapnya sebagai seorang kakak? Tapi yasudahlah, ini adalah takdir, kita hanya perlu menjalani dan melewatinya.

            Teruntuk Ian, terima kasih telah menjadi orang yang selalu membuat saya bahagia. Kita pun masih bisa untuk saling menyayangi, namun bukan dalam ikatan cinta. Inilah sebuah takdir yang harus kita terima. Tetaplah seperti Ian yang dulu, yang suka membantu dan pandai menghibur. Salam hangat dari adikmu, kakak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*