Minggu , Oktober 21 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Arti Sebuah Mimpi

Arti Sebuah Mimpi

Sumber: Ihei.WordPress

Sumber: Ihei.WordPress

Nurhikmah

(Reporter LPMH-UH Periode 2017-2018)

Aku percaya, segala sesuatu memiliki sebuah alasan. Penciptaan langit dan Bumi, penciptaan manusia, bahkan daun-daun yang berguguran pun memiliki sebuah alasan. Seperti kepergiannya yang begitu tiba-tiba, pasti ada alasan di balik semua itu. Dan aku percaya, dia kan kembali dan mengatakan alasannya. Aku akan terus menanti.

***

“Sayang, tunggu di sini ya, ibu pasti akan kembali,” ucapnya cepat seraya bergegas naik ke mobil.

“Bu, tunggu bu, tunggu,” teriakku sambil menangis.

Aku mencoba mengejar mobil itu. Namun mobil itu terus melaju dengan kecepatan tinggi, hingga hilang di kegelapan malam. Aku berhenti berlari dan menatap sekelilingku. Di tempat yang asing ini, aku berdiri seorang diri. Aku mulai dilanda ketakutan, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Malam yang gelap disertai keheningan menambah kencang suara tangisku. Derap langkah kaki seseorang mulai terdengar di telingaku. Aku semakin takut, hingga sebuah tangan mendarat di pundakku. Aku berbalik dengan perlahan dan berteriak sekencang-kencangnya, “Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.”

Brakkkk. Aku terjatuh dari tempat tidur. Badanku terasa remuk. Aku mulai mengerjapkan mata dan bangkit dari posisiku. Sinar matahari mulai masuk ke sela-sela jendelaku. Mimpi itu datang lagi. Mimpi yang terus menghantuiku setiap malam. Aku terus bertanya bagaimana sosok orang yang kusebut ibu dalam mimpiku itu. Sosoknya tak nampak jelas. Apakah dia benar ibuku? Aku mencoba mengingat semua itu, namun kepalaku langsung dihantam rasa sakit. Aku mencoba untuk tidak memaksakan ingatanku, hingga rasa sakit di kepalaku perlahan reda.

Suara derit pintu terdengar, aku berbalik dan melihat seorang wanita tua berjalan tertatih-tatih menuju tempat tidurku. Badannya semakin bungkuk, tubuhnya kurus kering dan kulitnya yang legam tampak keriput dimakan usia. Sangat berbeda dengan awal kami berjumpa. Dia duduk di sampingku dan mengelus rambutku.

“Nak, kamu tidak apa-apa kan?” ucapnya khawatir.

“Iya nek, aku tidak apa-apa, tidak perlu khawatir,” jawabku seraya tersenyum.

“Ya sudah kalau begitu, cepat mandi dan berangkat ke kantor,” ucap nenekku.

“Siap nek,” jawabku sambil melompat dari tempat tidur.

Aku bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk ke kantor. Setelah selesai, aku langsung pamit kepada nenek. Dalam perjalanan menuju kantor, aku kembali mengingat pertemuanku dengan nenek. Tepatnya 15 tahun yang lalu. Saat itu, umurku kira-kira baru tujuh tahun. Nenek menemukanku pingsan di jalan dan membawaku ke rumahnya. Saat terbangun, aku terus menangis sepanjang malam. Nenek terus berusaha menenangkanku hingga aku kembali tertidur lelap di pangkuannya. Sejak saat itu, aku tinggal bersama nenek di rumahnya.

Nenek hidup sebatang kara, setelah ditinggal suaminya yang lebih dulu menghadap Sang Ilahi dan anak-anaknya yang pergi merantau ke negeri orang. Di usianya yang sudah renta, dia bekerja keras membanting tulang demi membiayai hidupnya. Ditambah lagi sejak kedatanganku, nenek harus menanggung beban yang lebih besar untuk membiayaiku, bahkan sampai menyekolahkanku juga.

Bagiku, nenek adalah satu-satunya keluargaku. Aku tak pernah lagi memikirkan keluarga kandungku sendiri setelah ditinggal belasan tahun yang lalu. Hingga suatu malam, mimpi itu mulai muncul dalam tidurku. Mimpi tentang sosok ibu. Ibu yang wajahnya saja, kini tak ku ingat. Ibu yang tega meninggalkan anaknya di jalan. Awalnya, aku mengabaikan mimpiku.  Namun, mimpi itu semakin sering muncul. Aku penasaran apa maksud dari mimpi itu. Aku mencoba bertanya kepada nenek, namun dia tak tahu-menahu mengenai itu.  Aku pun dilanda kebingungan.

***

Tahun berganti tahun, musim berganti musim. Namun, dia masih belum kembali. Apakah dia yang kunantikan memang ada? Ataukah dia hanya ilusiku semata? Aku mencoba menjawab pertanyaan yang terus menghantui pikiranku. Namun, seperti biasa, saat aku mencoba mengingatnya, rasa sakit itu langsung menghantam kepalaku. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menganggapnya tidak pernah ada? Jadi, apa maksud dari semua mimpi-mimpi itu? Mengapa hati ini percaya bahwa dia itu ada?

***

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat hingga menampilkan semburat jingga. Aku berjalan menelusuri pantai, memandang lautan lepas. Mencoba menenangkan pikiranku dari rasa bingung yang terus melanda. Semilir angin mulai menerpa, membuat helai-helai rambutku beterbangan. Gemuruh ombak memecah keheningan. Aku terus berjalan, menikmati indahnya pantai di saat senja.

Aku melihat seorang ibu yang sedang bercanda ria bersama anaknya di tepi pantai. Tak terasa, air mata jatuh menetes di pipiku. Entah mengapa, aku merindukan sosok ibu. Sejak kecil, teman sebayaku mengejekku karena tak punya ibu. Tapi aku percaya ibu pasti ada, karena setiap anak lahir dari rahim seorang ibu. Meski aku benci karena ibu sudah meninggalkanku di jalan, namun jauh di lubuk hatiku aku merindukannya. Kini, aku berharap bisa melihat wajah ibuku, meski hanya dalam mimpi.

***

“Ibu, kita mau kemana? Kenapa di depan rumah banyak polisi? ” tanyaku penasaran.

“Kita, mau keluar kota nak. Kamu tenang ya, kita akan keluar lewat pintu belakang,” sahut Ibuku.

Aku dan ibu melangkah ke belakang rumah. Di sana, sudah ada mobil hitam yang menungggu, kami berdua langsung masuk ke mobil. Aku yang masih penasaran terus bertanya kepada ibu.

“Bu, kenapa ada banyak polisi di rumah? Polisi itu mau tangkap kita ya? Memangnya kita salah apa bu?” tanyaku bingung.

“Sayang, kita tidak salah apa-apa kok. Polisi itu bukan mau tangkap kita. Kita kan bukan orang jahat. Jadi, kamu tenang saja, lebih baik kamu tidur. Kalau sudah sampai ibu akan bangunkan,” jawab ibuku.

“Oke bu,” sahutku bersemangat. Aku pun mulai dilanda rasa kantuk dan tak lama kemudian aku tertidur.

***

“Sayang, ayo cepat turun, kita sudah sampai,” kata ibuku sambil menuntunku turun dari mobil”.

“Bu, kita dimana? Kenapa gelap sekali?” tanyaku.

“Maafkan ibu ya nak, ibu tidak bisa membawa kamu pergi. Ibu tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Tapi kamu harus ingat, ibu melakukan semua ini demi kamu. Ibu menyayangimu,” ucap ibuku sambil menangis.

“Ibu mau kemana? Jangan tinggalkan aku,” kataku.

“Sayang, tunggu disini ya, ibu pasti akan kembali,” ucapnya cepat seraya bergegas naik ke mobil.

“Bu, tunggu bu, tunggu,” teriakku sambil menangis.

***

Aku terbangun dengan peluh yang bercucuran. Mimpi itu datang lagi, namun berbeda dari biasanya. Kini aku bisa melihat dengan jelas sosok orang yang kusebut ibu dalam mimpiku. Dia sosok perempuan dengan rambut sebahu, bola mata yang indah, kulit putih dan badannya yang tinggi semampai. Aku mengingatnya. Dia ibuku. Aku bersyukur bisa melihat sosok ibu meski hanya dalam mimpi.

Namun, aku masih tak mengerti apa maksud dari mimipi itu. Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi di masa kecilku. Aku tak tau alasan mengapa ibu meninggalkanku. Aku tak tau. Orang bilang, mimpi hanyalah bunga tidur. Kita tak perlu risau memikirkannya. Namun, aku merasa mimpi ini adalah sebuah misteri yang harus kupecahkan. Mimpi ini adalah jawaban dari pertanyaanku tentang masa laluku. Saat ini, aku mungkin belum bisa mengetahui arti dari mimpiku, tapi kuharap suatu saat nanti akan ada jawaban dari semua mimpi-mimpi itu.

Terimakasih mimpi karena telah hadir dalam tidurku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*