Minggu , April 22 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Lelaki di Ujung Harap

Lelaki di Ujung Harap

Lelaki di Ujung Harap

Lelaki di Ujung Harap

Hanifah Ahsan

(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Angkatan 2017)

 

Tak kusangka kita akan bertemu saat ini, kau hadir dengan tiba-tiba, kau memberiku tulisanmu, bercerita tentang seseorang yang kau harapkan sejak dulu. Aku hanya mendengar, mencoba mengerti perasaaanmu, sebab aku pun pernah merasakan hal serupa denganmu. Namun tiba-tiba sebuah ingatan datang menghampiriku, sepertinya kau tak asing, kurasa, kupikir dan akhirnya kusimpulkan ternyata, kaulah itu.  

Jarum pendek menuju arah 10, sudah terlalu larut bagi perempuan sepertiku untuk tetap bertahan di tempat seperti ini, dominasi lelaki di warung kopi memang tak bisa dielakkan, kaum Hawa seakan menjadi minor pada bagian ini, malam ini buktinya, aku menjadi pengunjung perempuan terakhir malam ini. Sebenarnya aku mulai gelisah, rumah dan keluargaku telah menunggu, tak biasanya aku sampai selarut ini. Sayang gerombolan air langit seakan tak mau menunjukkan tanda  redanya padaku. Sepertinya ia senang melihatku seperti ini, terisolasi. Aku benci tempat ini.

Ada yang aneh malam ini, semakin kuberpikir tentang kepulangan, semakin keras pula suara gerombolan air langit, seakan ia hadir karena memang ditugaskan mengejekku malam ini.

 Kuingat-ingat, sial betul nasibku hari ini, janjian bertemu seseorang ia tak datang, ingin makan roti selai tak ada dalam pesanan, ingin cepat pulang malah terjebak hujan. “Dasar hari sial,” batinku.

Tuhan memang Maha Baik,  seperti Pidi Baiq yang berhasil menggambarkan keromantisan Dilan, Tuhan mengirim penyelamatku malam ini, setidaknya kehadirannya sedikit mengisi kekosonganku. Katanya ia kasihan melihatku harus menunggu sendiri, ia sedikit basah karena hujan namun senyum manisnya seakan mengatakan basah kuyup pun tak apa asal kau baik-baik saja. Hatiku memang hancur malam ini, namun akhirnya saya sadar bahwa Tuhan memang Maha Humoris, Ia senang bercanda dan sekarang sedang bercanda denganku. Disaat kami sudah saling percaya dan menjalin komitmen, berharap ia menjadi partner hidupku malah ia dengan rasa tidak bersalahnya pergi dan mengingkari semuanya, tanpa sebab, tanpa alasan. Aku benci dia.

“Hey, Sudahlah, mukamu terlihat sangat menjijikkan seperti itu.”

Temanku berusaha memecah keheningan di antara kami berdua. Ia teman lamaku, sudah dari lama sampai paling lama. Aku hapal sekali nada yang ia lontarkan. Ia berusaha menghibur diriku yang sedari tadi hanya duduk manyun menampilkan muka rasa kecut. Aku hanya membalasnya dengan sedikit senyuman. Rasanya memang hanya itu caraku menghargai usaha teman yang berusaha menghiburku setelah apa yang kualami hari ini.

Aku sadar akan apa yang kulakukan, tetapi memang rasanya sangat sulit untuk mengatur raut wajahku malam ini, rasanya seluruh tubuh dan indraku hanya berisi tentang kesal dan kecewa.

“Aku benci saja,” Gumamku.

“Benci apa? Atau benci Siapa?”

“Huh, Aku benci diriku,” Ujarku menghela napas.

“Sudahlah, kamu sudah berusaha mempertahankan rasamu sampai sekarang, kenapa masih merasa bersalah? Toh, bukannya akhir yang seperti ini yang kamu mau? Sekarang kamu sudah bebas. Apa yang masih kamu fikirkan?” 

Kata-kata temanku barusan serasa menusuk inti jantungku dengan tajam. Sedikit ku merenung tak menjawab pertanyaannya yang sebenarnya mengarah untuk menyuruhku tak membenci hari ini. 

“Nikmati kebebasanmu, lepaskan yang sudah melepaskanmu, kebahagian tak selamanya tentang dia, dia saja sudah mampu melupa kenapa kamu masih mengingat?” Ocehnya lagi.

kali ini mataku langsung menatapnya. Ia memang benar, tapi kenyataan sulit untuk kukendalikan. Kami kembali terdiam. Aku semakin kesal dengan hujan yang semakin menahanku untuk pulang, malam semakin larut.

“Mas.. Saya pesan seperti  yang dipesan lelaki itu yah,..” Seruku berbisik pada seorang pelayan yang melewati mejaku setelah mengantar sebuah pesanan di meja tepat dibelakangku.

Selain aku, nampaknya ia juga terjebak hujan, beberapa kali kudengar ia bicara dengan nada tinggi ke temannya, mungkin dia punya masalah, tetapi tetap tak ada yang lebih rumit dibanding masalahku hari ini. Kuperhatikan ia memesan minuman yang sama selama di tempat ini. 

“Kau lihat lelaki itu? penasaran apakah pesanannya seenak itu atau karena dia memang hanya ingin itu, padahal kan banyak pilihan lain,” jelasku pada temanku yang bingung melihat tingkahku.

Diskusi yang dilakukan dua lelaki ini terlihat sangat seru, dua lelaki dengan perbedaan gaya yang sangat jelas. Lelaki pertama pemesan dua minuman terlihat lebih kurus dibanding temannya, tak gagah, tapi menurutku ia sosok yang manis dan apa adanya, berbeda dengan lelaki yang menemaninya, ia terlihat gemuk dan lebih trendy ditambah dengan layar handphone yang tak lepas dari tatapan mata dan genggamannya. 

Pesananku datang, samar ku dengar percakapan yang mulai terjadi diantara para lelaki itu, beruntung aku sedikit tajam dalam pendengaran, diiringi dengan mataku yang selalu mencari celah untuk melihat kedua lelaki tersebut. Sahabatku menepuk pahaku, dibalas dengan tanganku yang menyuruhnya sedikit diam. 

“Diluar memang masih banyak, tetapi dia masih didalam.”

Setidaknya itu yang terdengar jelas olehku, nampaknya lelaki yang agak kurus sedang bercerita tentang seseorang pada temannya. Kuteguk sedikit pesananku sembari memfokuskan telingaku agar mendengar perbincangan dua lelaki di meja belakangku itu. 

“cinta itu perjuangan dua orang, bukan sendirian.” Tegas lelaki trendy itu kepada temannya, aku mengenal suaranya, sudah sejak tadi kami bersama, bedanya cuma di nomor meja dan ia berdua  sedang temanku baru saja datang menemaniku. Entah kenapa perkataan itu membuatku terdiam sejenak. Berpikir tentang apa yang terjadi hari ini padaku dan juga kisahku bersama seseorang yang pernah kuharap menjadi partner hidup. 

Itu benar, jika hanya seseorang yang berjuang jelas itu bukan cinta. Dan beberapa bulan ini, aku sadar aku sudah tak berjuang bersamanya, jadi kenapa aku harus bersedih akan ending seperti ini. Siapapun lelaki yang telah mengatakan itu, aku berterimakasih setidaknya aku merasa lebih hidup dan beruntung malam itu, entah apa perasaanku sekarang berbeda 180 derajat dari sebelumnya.

Sejenak ku tinggalkan percakapan mereka berdua, aku tak mau sahabatku marah padaku jika selalu aku abaikan. 

“Aku sudah ikhlas,” Aku sedikit tersenyum, kurasa kembali sahabatku mengeluarkan ekspresi kebingungan dengan apa yang kukatakan. 

“Aku ikhlas membayarkan pesanan kita malam ini, kali ini aku yang traktir,” Ujarku dengan diiringi  tawa diantara kami berdua. 

“Seperti Kondensasi,” Aku mendengar percakapan mereka kembali, kali ini aku tak sengaja. Aku memang mendengarnya. Sedikit heran dengan apa yang lelaki manis itu katakan, aku memang bukan seseorang yang bergelut di bidang sains, tapi setidaknya aku paham bahwa kondensasi itu adalah salah satu materi di pelajaran IPA. Kembali memfokuskan indra, aku semakin heran dengan mereka berdua. Andai saja aku bukan wanita, akan kudatangi meja mereka dan mengajaknya berkenalan. Sayangnya, aku terlalu malu untuk melakukan itu sebagai seorang perempuan. 

“Tidak perlu berlebihan, nikmati saja. Dibu beruntung diperjuangkan orang sekeras kepala kamu.” Yang kudengar terakhir setelah penjelasan singkat mengenai kondensasi. Akhirnya aku paham siapa yang mereka bicarakan. 

“Dibu rupanya,” bisikku pada sahabatku. Dibalas dengan wajah ingin tahunya, tapi sengaja aku tak memberitahunya aku senang melihatnya sedikit marah, menjadi sedikit lucu melihat ekspresinya yang marah. Walaupun aku tahu, ia tak bisa marah padaku. 

Teruntuk dua orang lelaki dibelakang mejaku, aku minta maaf karena sengaja mendengar percakapan kalian, tapi aku juga berterima kasih pada kalian, khususnya lelaki trendy yang telah mengeluarkan kata-kata yang menyadarkan ku akan satu hal di bumi.  

Aku tak akan berjuang sendiri lagi, tak akan. Teruntuk lelaki yang berwajah manis, terima kasih telah mengenalkan aku dengan minuman baru yang kini kujadikan minuman favorit untuk mengenangmu, belakangan baru ku ketahui ternyata namanya adalah Cappucino dengan tambahan es tentunya. 

Dan terakhir, untuk Dibu, aku tak tahu seberapa pentingnya kamu bagi lelaki yang ada dibelakangku, tapi percayalah dia sangat menyayangimu, lelaki mana yang mau menceritakan perasaannya ditempat umum seperti ini, perasaan yang membuatnya harus memesan dua Cappucino dan mendapat sedikit kata-kata tajam oleh teman lelakinya yang juga mungkin adalah temanmu. Percayalah, andai kau disini, aku berterimakasih.

Berkatmu, aku tahu bagaimana arah dari penyesalanku hari ini. Dan andai kau disini, kau akan lihat bagaimana lelaki yang mengharapkanmu ini menggantungkan harapannya di ujung malam, di tempat ini.

 

 

 

*Cerita pendek (Cerpen) ini berkaitan dengan salah satu cerpen dengan judul ‘Harapan di Ujung Malam yang sebelumnya juga telah dipublikasikan di eksepsionline.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*