Minggu , Oktober 21 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Obrolan Ujung Malam

Obrolan Ujung Malam

Sumber: Cerpin pemandangan-malam-penuh-bintang-yang-membuatmu-ingin-terus-

Sumber: Cerpin pemandangan-malam-penuh-bintang-yang-membuatmu-ingin-terus-

Hanifah Ahsan

(Anggota Magang LPMH-UH Periode 2017-2018)

                Malam mulai memberikan angin dinginnya di antara para tamu di kedai kecil ini, mencoba tetap mengabaikan dinginnya yang seakan menyuruhku meninggalkan tempatku saat ini. Namun sayang, niatku untuk tetap tinggal di tempatku ini lebih kuat daripada dinginnya malam yang mulai mencekam.

                “Ini sudah terlalu malam untuk seorang gadis,” kata  seorang lelaki yang duduk tepat di depanku, dengan mata tetap tertuju pada layar laptopnya.

                “Kau seperti baru kenal aku saja, tertawa pintu rumahku jika aku kembali secepat ini,” candaku dibalas dengan sedikit ketawa kecut dari teman bicaraku ini.

                “Lalu bagaimana? Ada kemajuan dengan hidupmu?” tanyanya kembali.

                “Kemajuan? Perubahan malah iya,” jawabku dengan mencoba tetap fokus dengan satu karya yang harus tetap kuedit agar bisa kusebarkan malam ini.

                Dahinya mulai mengeryit, “Ada apa?” kami diam sejenak.

“Bukannya kabar  terakhirku dengar kau punya waktu bicara yang banyak dengannya?” tanyanya kembali.

                “Yap. Tepat setelah malam itu, kami sudah mulai menjaga jarak.” Aku mencoba tetap fokus pada layar laptopku, entah kenapa malam ini deadline pimpinanku lebih mengambil perhatianku dibanding wajah lelaki yang sedang kutemani malam ini.

                “Mungkin dia sudah tak mau berkenalan denganku,” singkatku membuatnya mengalihkan pandangannya kepadaku, dan mulai mengabaikan laptop di depan matanya.

                “Menurutmu, lelaki itu sebejat ini?” lanjutku membuatnya semakin memfokuskan pandangannya padaku.

                “Aku lelaki, pasti aku membela kaumku. Lelaki mana yang bejat? Atau haruskah kuubah pertanyaanku menjadi, lelaki mana yang tak bejat? Yang mana lebih membuatmu mudah mengerti?” Ia mulai mengabaikan laptopnya. Aku tak mau dibilang kurang sopan berbicara dengan pimpinan. Jika pimpinanku saja mengabaikan laptop dan segudang karya yang harus ia edit, kenapa aku tidak.

                “Lalu haruskah aku katakan semua lelaki sama saja? Jual mahal? Atau mau dikejar?” Kuharap nadaku tak dianggap menantang dia.

                Dia memperbaiki posisi duduknya, sedikit memajukannya ke meja yang membuat jarak kami terpisah, “Wanitalah selalu ingin mengejar.” Singkatnya membuatku sedikit naik darah, kubalas dengan diam.

                “Kami hanya butuh penjelasan.”

                “Kalian yang terlalu banyak berharap.”

                “Jika tak ingin, kenapa memberi ruang?”

                Jika saja kami tak menyadari tempat ini terlalu umum untuk menjadi tempat kami membicarakan hal ini, mungkin perdebatan akan terus berlanjut. Untung kami masih sadar akan hal itu, sedikit waktu umtuk sama-sama saling berdiam dan berpandang.

                Dialah lelaki yang kini jadi pimpinanku, yang selalu meminta padaku mengejar jadwal editan yang tak lama. Dialah lelaki yang juga tempatku menceritakan segala hal tentangku, baik dalam jatuhku dalam cinta, maupun jatuhku dalam berkarya, dialah seorang pemimpin dan juga teman baikku dalam hidup, perdebatan seperti ini memang sangat biasa bagi kami.

                “Intinya, kau sudah terlalu dalam padanya?” Tanyanya memecah diam di antara kami, kubalas mengangguk.

                Dia diam sejenak, lalu menutup mulut, jelas terlihat menahan tertawa, ternyata sifat jahilnya kembali lagi malam ini, aku menyesal berbicara padanya.

                “Kau tahu? Seseorang pernah bercerita padaku mengenai istilah yang lazim kita dengar, masalah terlalu dalam memberikan hati, sampai lupa untuk hati-hati.” Nadanya mulai menunjukkan keseriusan, sifat seperti inilah yang kutunggu daritadi.

                “Jika kau tak siap sendiri menerima akibat, untuk apa kita berdebat mengenai perasaan? Perasaan mu hanya sesaat, berawal dari kenyamanan sampai lupa bahwa kalian hanya dua orang yang bersahabat.” Aku terdiam, mulai menyadari akan satu kesalahan.

                “Lelaki bukan tidak memberi kepastian,hanya saja ia memang hanya mengumbar kebaikan. Yang harus kau ketahui, apa yang ia lakukan ke kau adalah hal yang ia juga lakukan dengan orang lain. Jangan merasa berlebihan karena dari awal pikirannya hanya sebagai seorang kawan. Lelaki bukan hanya datang lalu pergi, hanya saja memang ia takut, kedatangannya yang terlalu lama membuatmu semakin merasa suka, sedangkan baginya kau hanya sesuatu yang biasa,” lanjutnya lebih tegas.

                “Saat perasaanmu mulai berlebihan, kau pikir lelakimu juga seperti yang kau rasakan, namun saat kau tahu kenyataan kau sebut lelakimu sebagai seseorang tanpa perasaan, di mana salahnya seorang lelaki? Saat ia hanya memberimu hal yang wajar, tapi kau anggap sesuatu yang berlebihan.  Aku tak menyalahkanmu, juga tak membenarkan sikap lelaki itu, hanya saja ini hanya tentang bagaimana kau bisa memikirkan dan melihat bagaimana seseorang kepadamu.” Kurasakan angin mulai lebih dingin daripada sebelumnya, kalimat lelaki ini mulai membekukan badanku.

                “Marilah mencoba melihat keadaan, keadaan di mana bukan cuma kamu seorang wanita, dan bukan cuma dia lelaki pujangga, mari rasakan dan khayalkan, siapa seseorang yang bisa kau dambakan, lebih dari dia lelaki yang membuatmu menjadi wanita menyedihkan.” Ia kembali mengotak-atik laptopnya, dengan tatapan yang membuatku semakin dingin, malam ini, untuk pertama kalinya, kuakui, telah menyukainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*