Minggu , Oktober 21 2018
Home / LEMA FH-UH / PEMIKIRAN / Esai / Konsolidasi Gagasan Sebagai Solusi Menciptakan Gerakan Kolektif Kemahasiswaan yang Bekesinambungan

Konsolidasi Gagasan Sebagai Solusi Menciptakan Gerakan Kolektif Kemahasiswaan yang Bekesinambungan

Sumber: Persma

Sumber: Persma

Estina

(Sekretaris Umum HMI Komisariat Hukum Cabang Makassar Timur)

Pendahuluan

            Barangkali ingatan yang ada tentang sebab reformasi tidak akan hilang begitu saja. Kenangan itu akan selalu menjadi romantika masa lalu atas kemenangan besar gerakan kemahasiswaan dan juga sebagai patron yang selalu dicoba di setiap pengkaderan maupun lembaga kemahasiswaan masa kini. Perlu kemudian diketahuai bahwa pergerakan mahasiswa selalu menjadi momok menakutkan sebagai mana, mampu meruntuhkan tirani orde baru.

            Gerakan kemahasiswaan pada era orde baru ternyata tidak sepenuhnya diserap oleh generasi selanjutnya. Terutama dalam penguatan gagasan, di mana hal ini berimplikasi kepada terjebaknya pola gerakan mahasiswa pada romantisme masa lalu dan kadangkala sifatnya momentuman dan tidak progresif. 

Kondisi Kemahasiswaan  Masa kini

Di masa lalu, Anda tentu tidak lupa dengan kebijakan orde baru mengenai normalisasi kehidupan kampus yang dilakukan secara sentralistik oleh negara lewat program NKK/BKK. Kebijakan tersebut kemudian yang menjadi dasar mematikan organisasi internal kampus, semisal senat mahasiswa yang pada waktu itu pusat gerakan mahasiswa, kemudian diiringi dengan pendirian Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mengalihkan energi mahasiswa ke arah minat dan bakat persis seperti yang terjadi hari ini.

Tentu kita dapat curiga hal tersebut yang memutus kultur gerakan mahasiswa sehingga terjadi dekadensi arah gerakan mahasiswa di masa lalu dan era sekarang. UKM menyebabkan hilangnya ketertarikan mahasiswa untuk memahami realitas di luar kampus yang sarat dengan persoalan sosial, politik, dan ekonomi bangsa. Mengalihkan konsentrasi mahasiswa menyebabkan kemunduran gerakan mahasiswa. Efek pendirian UKM menyebabkan mahasiswa secara struktural dan kultural sukarela menerima kontrol birokrasi kampus melalui kebijakan yang hampir selalu dalam sejarahnya merupakan alat mematikan daya kritis mahasiswa, ibarat “musuh dalam selimut” bagi gerakan mahasiswa.

Pendapat kedua, penulis mungkin lebih spekulatif daripada pendapat pertama, bahwa penyebab lainya adalah bergesernya kultur intelektualitas mahasiswa ke arah budaya konsumtif. Konsumsi bukan hanya soal membeli barang dan memakainya, namun kebudayaan konsumtif menentukan cara kita berinteraksi dan hidup di lingkungan sosial kita. Budaya konsumtif yang dibangun melalui budaya populer yang kemudian oleh industri kapitalisme menciptakan produk-produk yang memaksa mahasiswa berorientasi untuk menghidupkan citranya menjadi penyusup dalam mematikan nalar kritis manusia. Setidaknya itu yang dikatakan Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man (1964) bahwa citra menjelma menjadi mantra gaib yang menyusup ke segala sisi kehidupan individu dan masyarakat, bahkan memainkan peranan besar dalam dunia politik dan kekuasaan. Meminjam istilah Pierre Bourdieu mengenai  “Habitus” yang berubah dan mengkondisikan perubahan lingkungan kultural serta menciptakan keadaan di mana produksi wacana kritis melalui budaya intelektual terkikis habis disebabkan oleh perubahan gaya hidup mahasiswa itu sendiri, yang orientasinya adalah citra.

Momentuman Sebagai Gerakan Kemahasiswaan Era Kini

Gerakan kemahsiswaan nyatanya tidak lagi menjadi roda gerakan pemenuhan hak mahsiswa seutuhnya. Tendensi birokrasi kadangkala berselingkuh  dengan pengurus lembaga.  Adanya relasi kekuasaan birokrasi dengan institusi politik terhadap lembaga kemahasiswaan yang menyebabkan lemahnya independensi gerakan mahasiswa. Nyatanya gerakan mahasiswa yang dibangun kini hanya menunggu momentuman saja. Bahkan buruknya lagi, jika gerakan yang dibangun atas pesanan sang tuan (Birokrat).

Patut diduga bebroknya gerakan kemahasiswaan diakibatkan adanya proses transisi yang tidak seutuhnya diserap generasi selanjutnya pasca reformasi. Bisa saja itu terjadi karena adanya pergeseran paradigma yang dalam kacamata Thomas Kun disebut Paradigma Shift (Goerge Ritzer, 2013). Adanya pergeseran paradigma kemudian akibat adanya proses berkesinambungan yang tidak usai. Dengan demikian, anomali yang terjadi dipusaran gerakan kemahsiswaan hari ini tidak sampai kepada sebuah pembaharuan paradigma. Sehingga gerakan-gerakan yang dibangun tidak memiliki goals atau tolak ukur dan kadangkala tidak tersistematis.

Konsolidasai Gagasan Sebagai Solusi Gerakan Kolektif

            Dalam perkembangannya, terdapat dua tipologi konsolidasi gerakan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Pertama, konsolidasi politik yakni, pertemuan-pertemuan antar kepentingan-kepentingan mahasiswa, terlepas kepentingan itu subtantif, produktif atau belum. Kedua, konsolidasi gagasan, berbeda dengan konsolidasi poltik yang bersifat jangka pendek, konsolidasi gagasan bersifat jangka panjang demi kemaslahatan masyarakat. Konsolidasi gagasan yaitu pertemuan gagasan ideal para pemuda dalam pembangunan daerah dan bangsa yang lebih baik pada masa depan. (Imran Eka Saputra, Buku Saku Pemuda, hal 91, 2017).

Diam bukan lagi emas, serta duduk di bangku perkuliahan dan memenangkan semua piala bukan lagi jalan yang benar. Di tengah ketertindasan dan hadirnya diskriminasi sosial, mahasiswa mesti membangun simpul gerakan sebagai solusi konkret melawan dominasi. Organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, serta organisasi minat bakat mesti keluar dari tempat nyaman mereka dan bersatu. Karena dengan begitu, jalan perjuangan ini akan kembali “ramai”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*