Selasa , Juli 24 2018
Home / LEMA FH-UH / PEMIKIRAN / Opini / Memaknai Hari Raya IdulFitri

Memaknai Hari Raya IdulFitri

Sumber : GoogleSumber : Google

Oleh : Muhammad Ikram

(Pengurus LPMH-UH Periode 2018-2019)

Hari Raya IdulFitri merupakan hari raya bagi umat Islam. Hari yang dianggap sebagai puncak kemenangan, hari untuk merayakan kebahagiaan setelah puasa satu bulan lamanya.  Pada hari tersebut juga dosa kita diampuni oleh Allah, sehingga kita memulai kehidupan baru seperti kertas putih yang belum terisi tulisan.

Di hari raya ini, sesama umat muslim saling bermaafan atas kesalahan  yang mereka pernah lakukan terhadap Sang Pencipta maupun sesama manusia. Momen ini dijadikan ajang intropeksi diri bagi kaum muslim untuk memperbaiki kesalahan atas perbutan keji dan mungkar yang pernah dilakukan selama satu tahun belakang.

Waktu terus bergulir, meninggalkan bulan suci Ramadhan merupakan hal yang pasti. Berat hati meninggalkan bulan yang suci ini, bulan yang penuh magfirah. Sungguh celaka manusia yang tidak menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang mulia, karena bulan ini merupakan bulan yang Allah spesialkan untuk manusia agar lebih dekat terhadap-Nya. Bahkan Allah memberikan imbalan berupa malam yang lebih baik dari pada malam dengan seribu bulan pada bulan ini.

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”  (Al-Baqarah: 183)

Ketika menyambut bulan Ramadhan, kita telah mempersiapkan fisik maupun spiritual.  Persiapan itu dilakukan agar kita merasa bahwa kita sedang berada di dalam perjamuan indah berupa ampunan, keridhaan, rahmat, kasih sayang, dan rezeki dari Allah Swt. Penjamuan indah tersebut jika dimaknai dengan baik dan benar niscaya akan menjadikan akal, hati, jiwa, dan hidup kita bertaut dekat dengan Allah.

Hasil dari bulan yang mewajibkan kita untuk berpuasa selama satu bulan penuh ini, tidak lain adalah peningkatan ketakwaan kita kepada Allah Yang Maha Esa. Jika terdapat manusia yang setelah berakhirnya bulan Ramadhan tetapi ketakwaannya kepada Allah tidak meningkat, berarti mereka melewatkan berkah dari bulan Ramadhan. Sebab, mereka menyamakan bulan Ramadhan dengan sebelas bulan lainya, padahal bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan kenikmatan.

Berakhirnya bulan Ramadhan, menjadi pertanda sampainya kita kepada hari kemenangan yakni Hari Raya IdulFitri. Setiap umat muslim berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Adapun salah satu fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari persiapan menjelang Hari Raya IdulFitri adalah mudik lebaran. Mayoritas masyarakat yang pergi merantau untuk bekerja berbondong-bondong melakukan mudik ke kampung halaman, untuk merayakan hari kemenagan bersama keluarga.

Semangat dan pengorbanan pemudik patut diapresiasi. Tak tanggung-tanggung pemudik yang melakukan perjalan jauh dan melelahkan, rela berada di dalam kendaraan dalam jangka waktu yang tidak singkat. Besarnya antusias pemudik juga berdampak pada banyaknya kendaraan di jalan, sehingga kerap kali menyebabkan kemacetan. Meskipun adanya kemacetan tersebut, tetapi tidak memupuskan semangat dan harapan mereka untuk tetap dapat merayakan hari kemenangan dan menjaga talisilaturahmi dengan sanak keluarga di kampung halaman.

Saya pribadi salut terhadap para pemudik tersebut, meskipun hidup di tanah perantauan yang jauh dari kampung halaman tetapi mereka tetap mengusahakan untuk mudik pada saat hari raya. Menjaga silaturahmi dan bersua dengan orang tua, keluarga, tetangga dan sahabat juga merupakan menyempurna ibadah pada bulan ramadhan bagi mereka.   

Setelah IdulFitri ini kita berada di tahap yang baru, diharapkan semua umat islam dapat mengambil hikmah dan keberkahan dari bulan Ramadhan lalu. Bulan yang penuh berkah, bulan saat diturunkannya Al-quran, telah kita lewati bersama. Semoga hikmah dan keberkahaanya tetap bersama kita dalam menjalankan kehidupan nantinya. Sehingga kita dapat kembali ke sisi Allah dengan selamat, bukan sebaliknya justru terjerumus ke dalam kesesatan yang dapat membuat kita sangat menyesal.               

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*