Selasa , Juli 24 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Obrolan Menjelang Senja

Obrolan Menjelang Senja

Sumber : algibrannayaka.wordpress.com

Sumber : wordpress.com

Oleh : Hanifah Ahsan

(Pengurus LPMH-UH Periode 2018-2019)

 

Hari ini sama seperti hari sebelumnya. Aku memilih menghabiskan waktu bersama seseorang yang hampir memahami kehidupanku, di salah satu tempat rekomendasinya. Bagi masyarakat pada umumnya, ada yang berbeda dari hari ini. Mereka menyebut hari ini dengan sebutan pesta demokrasi. Aku sendiri sebenarnya tak paham maksud dari ungkapan itu, mencoba tak peduli lebih tepatnya.

“Ren,” tanya orang yang bersamaku saat ini.

Mungkin  dia tahu, aku sudah berbeda sejak awal kami bersama di tempat ini.

Kuakui, aku hanya seorang gadis yang tak peduli atau bahkan tak ambil pusing mengenai perkembangan politik di negaraku. Menurutku, selagi itu tak mengganggu kehidupanku secara langsung, semua akan baik-baik saja. Tidak perlu aku tahu.

Nyatanya semua berbanding terbalik, saat seorang lelaki yang sudah ku kenal sejak pertama kali membuka mata di dunia ini, mencoba untuk bergelut di ranah politik. Bergelut untuk sepanjang hidupnya mungkin. Bahkan bagiku, tahun ini merupakan puncak dari perjuangan lelaki itu di bidang ini.

“Kenapa?” tanya lelaki itu kembali.

Responku masih sama. Menggelengkan kepala, seakan memberi tanda seakan tak ada apa-apa. Padahal hati sedikit resah, cemas rasanya menunggu hasil yang tak jelas arahnya.

“Apa sudah ada kabar?” tanyanya lagi kepadaku.

Nampaknya ia tak lelah mengajakku berbicara, mungkin untuknya itu cara terbaik agar aku berhenti melamun memikirkan hal ini.

“Belum,” jawabku singkat.

Kami kembali tenggelam dalam keheningan.

Jujur saja, aku tahu ini bukan pertama kalinya ia bergelut di bidang politik. Muak rasanya dibesarkan dengan kehidupan yang mengharuskan untuk memengaruhi kehidupan orang lain untuk memilih dan percaya padanya. Melihat orang-orang yang tiba-tiba mendekati dan mencari perhatiannya. Itu semua sudah kurasakan sedari kecil.

“Ren, apa ada masalah?” tanya orang yang masih setia menemaniku.

Nampaknya ia sadar aku tersenyum kecil saat mengkhayal sedari tadi.

“Hanya teringat akan sesuatu,” jawabku singkat yang dibalas tatapan ingin tahunya.

“Aku hanya teringat waktu ia mencoba menjelaskan padaku, bahwa ini langkah terakhirnya di bidang ini. Lantas sekarang aku berfikir bagaimana nasibnya hari ini,” lanjutku.

“Kita tunggu kabar saja, apapun hasilnya itulah yang terbaik,” balasan orang itu membuatku sedikit tenang.

Aku bersyukur hari ini rasa gelisahku bisa ku bagi dengannya.

“Apa yang harus aku lakukan kalau ternyata ia gagal? Haruskah aku sedih? Atau aku harus senang? Jika ia berhasil pun, haruskah aku senang meski sebenarnya ada kesedihan dibaliknya?” tanyaku sembari berharap ia tak berfikir aku sedang memarahinya.

“Cukup berdoa. Kukira ini bukan ajang pertama kalinya bagimu,” jawabnya singkat.

“Iya, tentu saja, tetapi hari ini adalah hari penentuannya. Dia sudah berjanji padaku tentang hal ini. Kalau ia berhasil, ia akan tetap ada di bidang ini. Jikalau pun ia gagal, apa yang akan terjadi padanya pun aku belum bisa bayangkan,” jelasku padanya.

“Maka dari itu, berdoalah. Berdoa yang terbaik saja,” balasnya.

Aku tahu, ia tak mungkin hanya ingin menjawab itu. Ia hanya paham apa yang harus ia lakukan saat aku seperti ini. Itulah hal yang membuatku tertarik padanya, ia mengerti posisi dan keadaanku, walau situasi ini hanya terkadang terjadi.

Sore semakin jelas, rasa cemas pun semakin jelas terasa. Senada dengan jelasnya sinar senja yang mulai menunjukkan kehadirannya diantara kami. Hening tercipta, aku mulai sibuk mengecek ponselku.

“Sudah ada kabar?” tanyanya lagi setelah melihatku mulai sibuk dengan ponsel di tanganku.

Kali ini hanya ku jawab dengan anggukan. Aku tak sadar ternyata tangannya telah berhasil mengambil ponsel dari tanganku, dia melihat sebentar lalu mengembalikannya. Lalu, kami terdiam.

“Harus bagaimana?” tanyaku kembali.

“Itu kan belum final.” jawabnya untuk mencoba menenangkanku.

“Tetapi sudah jelas, bagaimana hasil akhirnya nanti,” sahutku seketika.

“Apa sudah mencoba menghubungi kesana?” tanyanya dengan masih mencoba menenangkan.

“Tak ada jawaban,” jawabku singkat.

Kami berdua kembali terdiam. Suasana menjadi hening. Perlahan langit mulai berwarna jingga, kami tenggelam dalam suasana senja.

Sudah cukup. Berhenti dan pulanglah, Ayah. Batinku mulai bersuara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*