Minggu , Oktober 21 2018
Home / LEMA FH-UH / PEMIKIRAN / Opini / Kepragmatisan Kehidupan Masyarakat Awam Pedesaan

Kepragmatisan Kehidupan Masyarakat Awam Pedesaan

 

Sumber : GoogleSumber : Google

Oleh : Muhammad Ikram

(Wakil Kordinator Litbang dan Advokasi Media LPMH-UH Periode 2018-2019)

 

Di dalam tatanan kehidupan sosial suatu desa, kita pasti akan menemukan unsur masyarakat. Kehidupan masyarakat pedesaan erat hubungannya dengan rasa kekeluargaan dan gotong-royang yang masih kental sampai saat ini. Memang sudah seharusnya kita hidup dengan saling menguntungkan dalam suatu kehidupan sosial sesama manusia.

Di dalam kehidupan sosial suatu desa juga, pasti akan tercermin karakteristik masyarakatnya. Namun, ketika kita berbicara mengenai masyarat awam pedesaan, yang terbesit dalam pemikiran kita pasti yakni masyarakat yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan, dikarenakan tingkat pendidikannya yang tidak tinggi, membuat pemikirannya relatif cenderung kepada hal-hal praktis dan sederhana.

Mayoritas mata pencarian  mereka bergelut di ranah pekerjaan yang menggunakan  kemampuan fisik, seperti petani, nelayan, buruh dan sebagainya. Rutinitas kehidupan mereka setiap harinya, mengharuskan mereka untuk mengunakan tenaga yang banyak. Dengan bekerja tanpa mengantongi pengetahuan yang memadai dan lebih mengandalkan pengalaman yang terus berulang. Sehingga kebiasaan dan pengalaman menjadi panutan bagi mereka.

Di suatu waktu, ketika ada tokoh masyarakat yang lebih berpendidikan mengajarkan mereka mengenai beberapa pengetahuan baru tanpa adanya praktek, biasanya mereka enggan untuk menerimanya. Bagi mereka suatu pengetahuan saja tanpa ada bukti nyata terhadap pengetahuan tersebut, merupakan hal yang sia-sia. Selain itu, jika ada suatu pengetahuan tetapi membutuhkan waktu yang relatif  lama untuk menunggu hasil dari proses pengolahan pengetahuan tersebut, biasanya mereka pun kurang antusias untuk mencoba. Kenyataan pola pikir mereka yang seperti ini, yang sudah stagnan pada hal-hal yang praktis, sederhana dan jangka waktu pengolahan yang cepat, merupakan faktor sukarnya mereka untuk berubah.

Hal tersebutlah yang menjadi kendala dalam berhadapan dengan masyarakat awam pedesaan. Lebih dari pada itu, kepercayaan mereka terhadap kebiasaan dan pengalaman membuat mereka sukar untuk melakukan perubahan. Itu semua merupakan masalah kita, dan merupakan tangung jawab kita sebagai sesama manusia.

Sehingga hemat pengetahuan penulis, untuk membantu memecahkan masalah tersebut, yaitu dengan mengubah pola pikir mereka. Mengarahkan pola pikir mereka ke suatu proses yang tidak terlalu menggunakan tenaga fisik, sehingga sedikit demi sedikit beralih kepada pemanfaatan pengetahuan dan teknologi demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Tetapi, sebelum sampai pada tahap tersebut terlebih dahulu kita harus mempererat hubungan dengan mereka, mendengar keluh kesahnya. Sehingga barulah kita dapat masuk lebih dalam ke dalam kehidupannya dan mulai mencoba merubah pola pikirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*