Selasa , November 13 2018
Home / LEMA FH-UH / PEMIKIRAN / Opini / Barang Siapa Berfilsafat Maka Dia Kafir: Sebuah Pengantar

Barang Siapa Berfilsafat Maka Dia Kafir: Sebuah Pengantar

lilin peradaban 2

Oleh: Muh. Yusril Sirman

(Pengurus LPMH-UH periode 2018/2019)

Kerap kali orang-orang mengidentikkan filsafat sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang menjerumuskan kita pada kesesatan. Filsafat juga biasa dianggap sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang tidak ada kepastian di dalamnya.

Beberapa pendapat semisal,

“Barang siapa berfilsafat maka dia kafir,

Buat apa belajar filsafat, toh dengan belajar filsafat tidak akan membuat anda lebih kaya,” atau

 “Belajar filsafat itu sulit,”

Alasan-alasan semacam ini saya pikir merupakan argumentasi yang tidak berdasar, secara sederhana bisa saya katakan, semua itu hanyalah alasan pembenaran bagi orang-orang yang anti dengan filsafat.

Karena dengan belajar filsafat tidak serta-merta membuat anda menjadi seseorang yang kafir. Buktinya begitu banyak para pemikir dan filsuf yang justru berkontribusi besar pada perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan, mereka juga berkonrtibusi dalam pemikiran-pemikiran terkait dengan ajaran keagamaan.

Kita bisa mengambil beberapa contoh pemikir yang juga dijuluki sebagai seorang filsuf, terkhusus mereka yang ikut andil dan berkontribusi dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam.

Nama-nama semisal Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Suhrawardi adalah beberapa pemikir dalam Islam yang tak hanya berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga pada ajaran-ajaran filosofis dan pemikiran-pemikiran mengenai ajaran agama, dalam hal ini adalah agama Islam.

Ibnu Sina, selain terkenal sebagai “Bapak Pengobatan Modern,” dia juga dikenal sebagai seorang filsuf. Ia dapat menemukan konsep titik temu antara akal dan jiwa pada manusia yang kemudian dapat berkorespondensi dengan wahyu Tuhan dan Tuhan itu sendiri. Ibnu Sina juga dikenal sebagai tokoh filsafat paripatetik, yang awalnya dicetuskan oleh seorang filsuf Yunani, yaitu Aristoteles.

Namun ditangan filsuf muslim seperti Ibnu Sina, filsafat paripatetik mengalami perluasan pembahasan. Masuknya ajaran-ajaran Islami, seperti konsep wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT, sebagai Sang Pencipta alam semesta kepada Rasul-Nya sebagai pembawa pesan kepada umat manusia, merupakan ciri khas dalam filsafat ini.

Kemudian Ibnu Rusyd, salah satu tokoh pemikir Islam yang terkenal di Eropa karena beberapa kontribusinya dalam bidang kedokteran, astronomi dan matematika, juga merupakan seorang filsuf muslim.

Salah satu pendapatnya yang paling terkenal yakni mengenai ajaran filsafat yang sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran agama, dalam hal ini ajaran agama Islam. Ibnu Rusyd mengatakan bahwa, tugas filsafat adalah untuk mengetahui wujud dan Sang Pencipta (Allah SWT), orang-orang harus berpikir tentang wujud alam dan sekitarnya. Selain itu menurutnya, dalam menakwilkan/menafsirkan arti suatu ayat Al-Quran hanya dapat diakses oleh para filsuf dan tidak dapat diteruskan oleh orang-orang awam.

Saya pikir pernyataan diatas sangat tepat untuk orang-orang yang gemar melakukan interpretasi terhadap suatu ayat atau hadis tertentu, dengan tidak berdasarkan atas ilmu dan argumentasi filosofis. Sehingga membuat penafsiran atas ayat atau hadis tersebut cenderung kaku dan bersifat tidak kontekstual.

Padahal kita tau sendiri, Islam dianggap sebagai agama yang Rahmatan Lil Alamin yang bermakna Rahmat bagi seluruh alam semesta, yang secara otomatis tidak akan bersifat kaku ketika ditasfirkan dan dapat disesuaikan dengan segala bentuk perubahan zaman.

Namun kembali lagi, yang paling berkompeten dalam menafsirkan ayat atau hadist tersebut adalah orang-orang yang mempunyai keluasan ilmu yang mempuni dalam bidang terkait. Penafsiran tersebut bukan dilalukan oleh orang awam yang gemar kafir-mengkafirkan oarng lain, namun nyatanya tidak pernah sekalipun membaca satupun buku mengenai fiqih Islam.

“Karena agama tidak sekaku kanebo kering yang anda jemur setelah digunakan untuk mencuci kendaraan, pun kalau agama yang anda pahami seperti itu, bisa jadi pikiran anda yang terlalu kaku. Maka cobalah basahi pikiran yang kaku itu dengan mempelajari filsafat, siapa tau itu akan bermanfaat untuk membersihkan kotoran yang ada di pikiran anda,”

Terakhir adalah Suhrawardi dengan filsafat illuminasinya, atau filsafat penyucian jiwa. Menurut Suhrawardi, Tuhan adalah zat Yang Maha Suci, olehnya kita tidak mungkin dapat mendekati sesuatu yang suci kalau kita sendiri berada dalam keadaan yang tidak suci, dalam hal ini adalah jiwa kita.

Olehnya, perlu kita melakukan yang namanya penyucian jiwa, agar dapat dengan mudah mendekatkan diri dengan Tuhan Sang Pencipta, yakni Allah SWT. Konsep seperti ini adalah salah satu metode yang biasanya digunakan oleh para ahli tarekat atau dalam aliran-aliran sufi tertentu, sebagai upaya untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT, zat yang Maha Suci.

******

Nah sampai di sini, masih dapatkah kita katakan bahwa orang yang ber-filsafat itu kafir? Sementara di sisi lain terdapat pula para pemikir dan filsuf yang juga berkontribusi besar dalam perkembangan pemikiran yang berkaitan dengan ajaran keagamaan, terkhusus dalam ajaran agama Islam.

Bersambung . . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*