Selasa , November 13 2018
Home / LEMA FH-UH / PEMIKIRAN / Opini / Untuk Siapa Sebenarnya Agama?

Untuk Siapa Sebenarnya Agama?

Oleh : Syahwal

(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Angkatan 2017)

Husst jangan tegang, konten ini akan sedikit menggelitik kawan-kawan.

Lagi-lagi kasus penistaan agama terjadi di Indonesia yang kembali dilakukan oleh komikus Indonesia. Tetapi jangan terburu-buru, karena kita hidup di negeri yang teralu mudah mengkafirkan dan membunuh sesama dengan dalih agama. Kasus ini menimpa Coki Pardede dan Tretan Muslim, komikus jebolan ajang pencarian bakat di Indonesia.

Duhhh, selamat datang di Indonesia Kawan. Dimana surga telah di booking oleh golongan tertentu, sehingga untukmu tak lagi ada sisa. Mereka membunuh dan menyiksa dengan dalih agama yang mereka agungkan. Apakah agama memang mengajarkan yang demikian?

Rasanya terlalu jahat jikalau agama mengajarkan hal tersebut, agama apapun selalu mengajarkan tentang kedamaian dan persaudaraan.

Mari menerawang sedikit lebih jauh dan sedikit lebih bebas. Telah sadarkah kita hari ini, bahwa ternyata kita menjadi senjata salah satu golongan saat ini. Senjata untuk menjatuhkan lawan dan para orang yang tidak sepaham dengannya.

Terlepas dari kasus Coki Pardede dan Tretan Muslim, tentu kasus penistaan lainnya masih terekam dengan jelas dibenak kita semua. Misalnya saja, Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Agama menjadi senjata yang mematikan langkahnya pada pesta politik ibukota kala itu. Tragis memang.

Agama tidak untuk orang-orang awam, agama hanya untuk golongan bersorban dan membawa tasbih. Agama hanya dapat ditafsirkan oleh orang-orang seperti itu. Mereka seolah menjadi jelmaan Tuhan di dunia. Sehingga agama berada di ujung tangan mereka. Jika mereka berkata “Antum Kafir”, maka kafirlah suatu kaum atau golongan lain yang tidak sependapat dengannya.

Melepas permasalahan diatas dan mencoba menerawang lebih jauh mengenai agama di negeri ini, nampaknya agama di negeri ini telah menjadi suatu komoditas menggiurkan untuk menjatuhkan lawan politik.

Tak berakhir di pesta politik ibukota saja, namun nampaknya permasalahan agama masih akan berlanjut di tahun politik ini. Tak salah memang, masyarakat kita adalah masyarakat yang terlalu mudah menerima doktrin-doktrin agama. Tak peduli apakah itu benar atau salah.

Hal inilah yang nampaknya sangat mendesak untuk ditanggulangi. Pemikiran-pemikiran mentah seperti ini yang perlu dimatangkan. Gunanya tentu saja agar masyarakat menjadi lebih cerdas melihat isu-isu sensitif yang beredar di luar secara bebas.

Akhirnya, kita telah sampai pada titik untuk melakukan pengkajian mendalam tentang agama. Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan kebesaran agama yang ada. Tetapi, hal ini untuk membuat yang gelap menjadi lebih terang, yang buram menjadi jelas.

Agama itu memang suatu hal yang pasti, suatu hal yang menjadi sangat substansial bagi kehidupan manusia. Namun ketika pada titik agama menjadi tunggangan salah satu golongan, maka tak salah rasanya jikalau ada beberapa kawan yang memilih untuk acuh tak acuh terhadap agama.

Hingga detik ini, agama masih menjadi suatu hal yang sangat tabu untuk dikaji secara mendalam dan hal inilah yang menyebabkan terlalu mudahnya masyarakat mengkafirkan sesama.

Bukankah masalah mengkafirkan hanya milik Tuhan, atau apakah Tuhan telah menjelma sebagai golongan tertentu?

Sebagai penutup, rasanya hingga detik ini saya masih bersama dengan orang-orang yang dibunuh dengan senjata agama. Bukan karena saya membenci suatu golongan atau karena keyakinan politik.

Mungkin saja kita terlalu sibuk beragama sehingga lupa bahwa sejatinya agama ada untuk menusia agar tercipta kedamaian.  

Membunuh, merusak, menghina atas nama agama, aghh aku tak yakin itu.

Selamat menanti 2019, Kawan. Waspadalah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*