Selasa , Desember 11 2018
Home / SASTRA / Cerpen / Kisah Di Ujung Malam

Kisah Di Ujung Malam

Oleh : Hanifah Ahsan

(Pengurus LPMH-UH periode 2018-2019)

Sore dengan cepat menyapa, waktu terlalu sulit berteman kali ini. Sinar senja perlahan muncul seakan memberi tanda, lelah penat pikiran seharian akan terganti dengan hiburan di malam hari yang menyenangkan. Semoga malam ini akan menyenangkan.

“Sudah sore, mau pulang?” tanya seorang yang sedari tadi menghabiskan waktunya bersamaku.

Aku menggeleng, ia pun kembali terdiam. Kami kembali tenggelam dalam lamunan masing-masing. Entah apa yang ia pikirkan, hatiku terasa makin jauh dengannya, terbalik dengan raga kami.

“Kau bosan?” kali ini aku yang mencoba memecah keheningan.

Ia memberi respon yang ku berikan sebelumnya, menggeleng. Usainya suasana hening kembali terjadi.

“Haruskah kita mencari tempat lain?” tanyanya berbalik, aku tak merespon kali ini. Hanya diam.

Sudah berjam-jam kami bersama, namun baik diriku juga dirinya belum mengungkap kata yang menjadi bahan cerita kami berdua, tidak seperti biasanya. Aku sudah terbiasa mendengar celotehnya disetiap pertemuan, tetapi tidak untuk kali ini. Ia lebih diam dari biasanya, ku fikir ia punya masalah, tetapi ia akan selalu bercerita bagaimanapun masalahnya, ku jamin itu.

“Kau punya sesuatu yang ingin diceritakan?” tanyaku kembali. Aku hanya selalu mencoba memecah segala keheningan yang membuatku tak nyaman.

“Hmmmm..” ia pelan menjawab. Telingaku siaga mendengar ceritanya, tetapi tak ada kata lagi yang keluar dari bibirnya.

Aku kembali hening, ku biarkan dingin angin malam yang masuk disela jendela ruangan yang sedikit terbuka bercampur dengan dinginnya ruangan yang menjadi pihak ketiga diantara kami berdua. 

Gadis itu kini tepat di depanku dengan tas ransel favoritnya, namun ia mulai melangkah menjauhiku. Langkah kaki yang terdengar diseret namun tetap berirama mulai terdengar jelas. Suara jam dinding di sampingku mulai meredup karena suara langkah kakinya.

“Aku sudah tahu jawabnya….” gadis itu mulai mencoba merangkai katanya, pelan tetapi pasti. Kini telingaku sungguh mengabaikan suara lain selain suara halusnya.

“Aku diterima di sana, gerbang besar itu menungguku saat ini,” nada halus itu berubah menjadi nada riang selaras dengan perubahan raut wajahnya.

“Itu bagus… artinya kau semakin dekat dengan mimpimu dan akan berhenti menggangguku,” jawabku singkat menyambut wajah bahagianya. Ia mendekat lalu mencubit perutku.

“Tetapi aku takut,” wajahnya kembali seperti semula.

Aku terdiam, menunggu kata yang keluar dari bibirnya.

“Apa menurut mu aku harus mengambilnya? Kalau iya, aku akan pergi jauh dari mu,” tambahnya.

Pelan namun pasti, kalimatnya selesai, seiring dengan langit yang perlahan memberi tanda keberadaan hujan. Aku mencoba mendekati gadis yang kini di depanku kembali.

“Lalu apa masalahnya? Pergi saja..” jawabku singkat.

“Kau yakin? Kau bisa apa tanpa sahabatmu ini?” tambahnya sambil berbalik badan ke arahku.

“Aku baik-baik saja, Rey. Kau harus berani perjuangkan mimpimu,” mataku bertemu dengan matanya, tatapan dalam yang ku rasa tak akan pernah ku lihat lagi.

“Kapan rencana pergi?” tanyaku untuk mengalihkan pandangan.

“Mungkin minggu depan, setelah semua persiapan sudah selesai,” ia kembali menatap jendela yang memberi gambaran jelas langit yang menangis malam ini.

“Oh siapkan semua persiapan mu dengan baik! Apa ada yang bisa aku bantu?” ucapku samping melihat raut wajahmu dari samping.

“Selamat, kau tumbuh dengan cepat, Rey. Kita sudah bukan anak kecil lagi,” tutupku dengan senyuman.

Kami berdua kembali terdiam. Kembali dalam pikiran kita masing-masing. Ku yakini ia sedang memikirkan rencananya untuk minggu depan. Sedangkan aku, kembali memikirkan pertemuan pertama ku dengannya delapan tahun lalu.

“Aku akan merindukan semuanya,” lirihnya pelan, sejalan dengan butih air hujan yang jatuh di luar.

Tak ku sangka ia pun menjatuhkan air matanya. Air matanya jatuh sejalan dengan derasnya hujan di luar.

“Sudikah kau tunggu aku?” tanyanya dengan tersenyum manis.

Aku terkejut, tak tau harus menjawab apa.

“Pergilah yang lama, aku ingin menikmati hidup ku tanpa ganguan mu. Aku akan baik-baik saja tanpa mu,” jawab ku santai sambil tersenyum kepada mu.

Hujan pun menenggelamkan kami berdua dalam diam, ia dengan pikirannya dan aku dengan khayalan ku hidup tanpanya. Tak bisa ku tahan, air mataku jatuh dengan sendirinya.

“Aku juga akan baik-baik saja tanpa mu di sana,” jawabnya menutup percakapan malam itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*