Selasa , Juni 25 2019
Home / SASTRA / Cerpen / Perihal Kepulangan

Perihal Kepulangan

Sumber : https://z4ki.wordpress.com

Sumber : https://z4ki.wordpress.com

Oleh : Hanifah Ahsan

(Pengurus LPMH-UH Periode 2019-2020)

          Mentari pagi menyinari diri yang sudah terbiasa sendiri, sinar yang sama selalu kudapati selama hampir dua tahun belakangan akhirnya mulai terbiasa bagiku. Namaku Rena, ini tahun kedua ku hidup diperantauan. Jauh dari Rumah, jauh dari kota kelahiran, bahkan jauh dari keistimewaan.

            Hari demi hari ku lewati ditempat baru yang berusaha ku buat senyaman kotaku, tapi tetap saja, sejauh aku mencoba, rumah dan kehadiran sosok Ibu tidak bisa digantikan oleh apapun yang ku buat dalam kamar petakan yang ku sewa bulanan hampir dua tahun belakangan.

            Kalender dalam kamarku seakan memanggil untuk diperhatikan, besok rupanya, batinku mulai bergelut, sesak dalam dada perlahan memuncak, segala pikiran dalam diri sepertinya meminta dikeluarkan dengan cara lain, pikiran yang mendesak juga dada yang sesak rupanya mampu mengguncangkan benteng pertahanan yang selama ini ku bangun, perlahan air mata memaksa untuk dikeluarkan, memberontak dan semakin menyesakkan.

            Kring ponselku terdengar cukup jelas, badannya bergetar memberontak ingin diperhatikan, hanya satu orang yang bisa membuat ponselku segelisah ini, Ratih, Ibuku. Lekas ku hapus air mata yang masih memaksa untuk keluar, menarik nafas menenangkan diri, setidaknya aku harus kuat dihadapan wanita ini.

            ”Ren..” suara bergetar halus terdengar dari seberang.

            “hmm” aku masih mencoba menguatkan diri kembali.

            “Apa kabar nak?”  tanyanya kembali, meski terasa disembunyikan, aku mengetahui ada air mata yang ditahan.

            “Baik,Bu. Disana bagaimana?”

            “Baik saja, Cuma..” bicaranya terhenti, lagi-lagi ia berusaha menahan kesesakkan yang terasa jelas.

            “Cuma kenapa,Bu?”

            “Cuma kurang kamu saja, tidak seru.”

            “Maaf Bu. Sama seperti tahun lalu, aku masih sibuk memperbaiki nasib, biar Ibu tidak malu.”     

            “Bagaimanapun kamu disana, Ibu tidak malu. Yang malu, ketika kamu lupa kota kelahiranmu.”

          Hening sesaat menyelimuti percakapan antara aku dan Ibu, sebelum akhirnya kututup dengan ucapan selamat hari raya, sekaligus maaf kuulangi karena belum bisa kembali menemeninya dihari yang Fitri.

             Perasaan sesak kembali mendatangi sesaat setelah ponselku ku simpan seperti semula. Ada rasa benci dalam diri, kenapa harus gagal dalam membangun nama baik, entah pergi meninggalkan kota, atau pulang tanpa membawa apa-apa, aku tak bisa memilh mana yang kini harus ku peduli.

            sesak dalam dada perlahan kembali memuncak, air mata kembali mendesak untuk keluar, lebih deras sebelum telepon dari Ibu datang, malam ini, seperti malam diakhir Ramadhan tahun lalu, ku habiskan dengan menangisi nasib gagal tualangku.

            Drrrtt kupastikan itu suara pesan masuk di ponselku, dari orang yang sama sebelumnya , Ibu.

            “Layaknya mawar yang selalu jadi mawar, Ibu akan selalu jadi Ibumu. Berhasil atau tidak kau diperantauan, Ibu akan tetap ada di garis terdepan. Jangan malu untuk pulang,Nak. Kota mu rindu memberimu kebahagiaan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*