web analytics
Jumat , Oktober 18 2019
Home / SASTRA / Cerpen / Lelaki di ujung harap 2

Lelaki di ujung harap 2

Hanifah Ahsan

(Pengurus LPMH-UH Periode 2019-2020)

“Tidak perlu berlebihan, nikmati saja. Dibu beruntung diperjuangkan orang sekeras kepala kamu.”

Percakapan terakhir antara seorang lelaki dibelakang mejaku dengan temannya masih selalu terngiang dalam fikiranku setiap kali mendatangi kedai yang telah ku deklarasikan menjadi kedai kesukaan, sesaat setelah bertemu lelaki dan temannya dahulu. Wajarkah jika ku kukatakan bertemu? Atau bisa ku katakan, mengenali mereka dalam diam. Dua orang lelaki yang mengajariku arti perjuangan beberapa waktu yang lalu.

Jika sedikit mengingat,  dua lelaki dengan perbedaan gaya yang sangat jelas. Lelaki pertama yang memesan dua minuman yang kini menjadi menu andalan ku setiap berada di kedai ini. terlihat lebih kurus dibanding temannya, tak gagah, tapi menurutku ia sosok yang manis dan apa adanya, berbeda dengan lelaki yang menemaninya, ia terlihat gemuk dan lebih trendy ditambah dengan layar handphone yang tak lepas dari tatapan mata dan genggamannya. 

Masih juga terngiang dalam ingatan mengenai hal-hal yang mereka bicarakan, yah, kalian bisa mengataiku tak sopan karena mendengar pembicaraan mereka. Tapi ketahuilah, kedua lelaki itu cukup menarik perhatian hingga mau tak mau, aku tertarik mendengar percakapan mereka. Dibu, perjuangan, ikhlas bahkan kondensasi, segalanya ku pelajari melalui kedua lelaki itu.

Dan kini, aku kembali ke kedai ini, bukan hanya sekali semenjak malam “pertemuan” kami, melainkan ini menjadi rutinitas terbaru bagiku. Kini  aku menyadari arti dari hujan yang memaksaku untuk tetap di kedai malam itu, rupanya ia menginginkan ku untuk bertemu dengan kedua lelaki yang sampai saat ini tak ku ketahui namanya.

Apa yang berbeda? Selain teman yang tak lagi menemaniku, semuanya masih sama. Aku? Masih menjadi seseorang yang sulit menerima dan mengikhlaskan seorang yang tangisi di kedai yang sama pada malam aku bertemu para lelaki itu. Apalagi? Yah aku tak tahu mengenai lelaki yang menyukai Dibu, apakah iya menyatakan perasaanya, atau bisa saja hubungan mereka sudah kandas saat ini. Tapi, terlepas dengan apa yang terjadi dengan Dibu, aku berharap bisa kembali mendengar kelanjutan cerita kedua lelaki itu.

“Sudah lama?” seseorang mengagetkan lamunanku menatap luar kedai, keadaan sama, hujan lagi-lagi menahanku.

“Yah, setidaknya aku sudah memesan dua gelas menu kesukaanku.” Tanggapku dibalas dengan senyuman oleh lelaki yang kini duduk tepat didepanku.

“Ada apa lagi kali ini?” tanyanya mengarah padaku, sesuatu yang harusnya ia pahami.

“kau tak tahu, atau pura-pura tak tahu?” jawabku singkat, dibalas tawa kecil dari bibir manisnya.

“Masalah yang sama rupanya. Ku fikir, kita telah melewatkan beberapa percakapan panjang mengenai hal ini.”

“Yah.. dan hal yang sama selalu berulang. Rumit.” Jawabku sembari mengalihkan pandanganku dari hujan di luar kedai ini.

“Rumit? Ku fikir ini hal yang sederhana. Ia sudah tak mau, kenapa kau masih berharap?” nadanya mulai serius, aku? Mencoba membuka laptop yang ada di mejaku, bentuk pengalihan.

“Lalu bagaimana denganmu? Kau masih berharap pada sesuatu yang sudah jelas tak mau.”

Lelaki itu terdiam, mencoba menelan ludah, mungkin cukup pahit baginya.

“sadarkah kau, kita menuju ke segala arah.” Aku mencoba mengajaknya kembali berbicara, semoga ia tak marah. Ia hanya memandangku, meminta penjelasan dengan diam.

“Kita, rumit.”

“kau selalu mengulang hal-hal yang rumit. Pada dasarnya, perempuan suka merumitkan diri.” Ucapnya sinis.

“Lelaki yang mudah menyederhanakan sesuatu.” Aku kembali melihat keadaan luar.

“Apa rumitnya dari melepaskan? Dan mengikhlaskan?”

Kini giliranku yang terdiam.

“Kau mengarahku, aku mengarah padanya. Perihal aku yang tak bisa mengikhlaskan, sepertinya sama dengan perihal mu yang tak bisa melepaskan.” Jawabku tanpa melihat wajah teman bicaraku. “Entah aku yang kebetulan perempuan karena merumitkan, atau kamu yang kebetulan lelaki karena menyederhanakan. Ini perihal siapa yang bisa menyelesaikan dan mengikhlaskan dengan baik, bukan mencampakkan.” Tutupku.

Kini kami kembali berdiam.

Sepertinya, Dibu pun paham arti mengikhlaskan dan melepaskan, makanya perihal rasa lelaki itu belum dibalas.

 

 

****

cerita ini berhubungan dengan cerpen lelaki di ujung harap yang telah diposting sebelumnya di eksepsionline.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*