web analytics
Minggu , Juli 12 2020
Home / SASTRA / Cerpen / Ates, Aton, dan Aris

Ates, Aton, dan Aris

Google.com

Google.com

Oleh:

Saldy

(Pengurus LPMH-UH Periode 2019-2020)

Kelas berjalan normal seperti biasa, Ibu Guru Sofi menjelaskan tentang solidaritas sosial yang pernah dikemukakan oleh Emile Durkheim. Seisi kelas fokus mendengarkan ucapannya dengan pandangan terpaku kearah penggaris besi panjang di tangan sebelah kirinya. Namun tampaknya hari ini adalah hari keberuntungan kelas VII A karena semua yang ditunjuk Ibu Guru Sofi berhasil menjawab pertanyaan dengan tepat. Jam mengajarnya memang selalu ditempatkan di akhir untuk memastikan tidak ada murid yang tertidur menuju akhir pembelajaran. Sekarang kita tinggalkan Ibu Guru Sofi dan melirik salah tiga muridnya dari sekian banyak murid yang dia ajar. Ates, Aton, dan Aris.

Ketiganya sahabat karib sudah dari kecil, sebelum masuk taman kanak-kanak mereka bahkan sudah bermain bersama. Tempat bermain mereka juga mudah ditandai, di depan rumah Om Peter. Sampai sekarang Rumah pensiunan tentara itu masih menjadi tempat berkumpul mereka, Jendral Pit – begitu orang menjulukinya – menerima mereka dengan sangat bersahabat. “Mereka bukan sekedar bocah ingusan yang sedang tumbuh dan berkembang saja” demikian kata Jendral Pit. Dan hari ini, mereka sedang disana.
Dengan perut yang sedikit buncit dan mata  menonjol Ates bertanya panjang lebar pada kedua kawannya tentang solidaritas sosial yang diajarkan Ibu Guru Sofi siang tadi, namun kekesalan sudah keluar dari kepala Aton yang akhirnya bangkit berdiri di depan Ates.

“Kamu bertanya tapi sudah tau jawabannya, ujung-ujungnya kamu hanya menggurui, kamu selalu saja begitu”

“Aku tidak mengguruimu Aton, Aku bertanya karena benar-benar tidak tau” 

“Jadi tidak ada sama sekali yang kamu tau dari pelajaran tadi?”

“Tentu saja ada”

“Jadi apa yang kau ketahui, Ates?”

“Aku tau bahwa Aku tidak tau”

Aris yang hanya mendengarkan kedua temannya bergelut lebih memilih untuk asik dengan kertas yang sedang dilipat-lipatinya menjadi karya origami.

“Aku tidak tau… Bahwa Aku… Tidak tau” Aris bergumam sambil memasang wajah serius pada origaminya “Jadi menurutmu itu adalah pengetahuan, Ates?” celetuk Aris kemudian yang sedang mengelompokkan origami burung, bunga, dan orang-orangan.

“Tentu saja Aris, bagaimana menurutmu?” 

“Tidak sulit untuk diterima”

Jendral Pit keluar dengan membawa empat gelas teh panas. “Minumlah anak-anak.”

“Terima kasih Jendral” 

“Tapi taukah kamu, sedikit banyak Aku tidak sependapat dengan Ibu Guru Sofi” Ates melanjutkan sambil meniup-niup teh panas ditangannya.

“Dalam hal apa?” 

“Soal argumennya yang mengatakan bahwa setiap orang benar dalam pendapatnya masing-masing”

“Aku tidak terlalu keberatan”

“Tapi ada lagi, karena mereka saling berhubungan,  tentang kebenaran sejati yang tidak dapat dicapai, keduanya sama tidak kuterimanya”

“Jika pemikiran relatif dan subjektif membuatmu geram, seharusnya kau punya penawar atau paling tidak argumen lain di dalam pikiranmu ‘nak” Jendral Pit ikut berunding sambil menghisap cerutu dari kursi kayu tuanya. 

“Tentu saja, di dunia ini ada suatu kebenaran yang bisa berlaku secara universal, bukan bergantung pada argumen yang berbeda-beda dari setiap orang”

“Bisa kau jelaskan, Aku sedikit tidak menyimak” Kata Aris yang masih sibuk mengelompokkan origami

“Contohnya begini, Aku berbicara soal apa itu keindahan dengan Arjun yang ayahnya seorang pelukis, kemudian Aku berbicara soal apa itu keadilan dengan Juna yang ayahnya seorang Polisi, dan berbicara dengan Jendral Pit sebagai prajurit tentang perdamaian”

“Ya, lalu?”

“Setelahnya, apa yang didapatkan dari bercakap-cakap tadi, soal apa itu keindahan, keadilan, atau perdamaian diuji dan diimplikasikan dalam realitas dan kondisi yang berbeda-beda, jika cocok, maka seperti itulah kebenaran yang semestinya – yang universal. Jika tidak, hasil diskusi tadi harus dicari ulang melalui dialog-dialog sehingga menghasilkan definisi baru yang cocok dan pas, kebenaran itu harus dicari.”

“Sebuah ayam goreng tidak begitu saja masuk ke dalam mulut yang sedang menganga”

“Betul sekali Aris, kurang lebih seperti itu, sekarang kamu mengerti. Kita harus menggunakan akal kita. Dan lagi, dalam pandangan Ibu Guru Sofi yang mengatakan setiap orang benar dalam dirinya sendiri, bisa menimbulkan kekacauan. Katakan saja, untuk mencapai kesenangan hidup si A mengatakan ‘hiduplah bergelimang harta’ sedang si B mengatakan ‘hiduplah tanpa memikirkan orang lain, semua orang bisa menjadi sesukanya”

“Jelaskab lebih gamblang”

“Tidak, bukan itu intinya. Yang ingin kusampaikan adalah bahwa, sikap seseorang lahir dari pengetahuannya. Siapa yang paham dengan suatu pengetahuan tidak mungkin bertindak diluar pengetahuan itu”

“Jadi bagaimana kamu menggambarkan orang-orang jahat itu, Ates?”

“Maka dari itu kita membicarakan kesenangan hidup. Budi adalah pengetahuan, Pengetahuan melahirkan sikap baik seseorang – budinya. Jika ada orang yang bersikap diluar pengetahuan apa yang dia amini, apakah kau kira dia bisa senang dalam kehidupannya?”

“Budi-adalah-tau” Aton mencerna dengan wajah yang sangat serius.

“Hei Kemari!” Ates Berseru pada penjual kue yang lewat diseberang lapangan

Setelah memegang piring dengan beberapa kue diatasnya Ates memandang kue-kue itu dengan begitu dekat, sangat dekat. “Lihatlah, bentuknya sama semua”

“Kurasa maksudmu hampir”

“Apakah dia menggunakan cetakan?”

“Tentu saja, tapi siapa yang peduli?”

“Mungkinkah merpati jenderal juga terbuat dari cetakan yang sama? Maksudku mereka juga hampir sama satu dengan yang lain”

“Kurasa itu benar”

“Yang mana, Aton?”

“Soal cetakan dan bentuk, kita mungkin melihat mereka berbeda – merpati itu – tapi mereka juga punya kesamaan”

“Tapi diantara mereka ada yang muda dan ada yang tua, jelas mereka berbeda satu sama lain”

“Betul, mereka berbeda dan berubah dengan sendirinya. Mungkin suatu hari bulu-bulu mereka akan gugur dan menjadi lumpuh, tidak lama kemudian mereka mati. Namun, sekalipun mereka mati, bentuk merpati itu tetap ada – bentuknya kekal dan abadi di akal kita”

“Apa maksudnya?”

“Maksudnya, kita terbentang dalam dua alam yang sama sekali berbeda. Satunya alam bentuk – akan Aku sebut alam ide – dan yang satunya adalah alam indra, atau apa yang bisa kita rasa dengan indra”

“Tolong jelaskan”

“Alam ide menyimpan bentuk-bentuk sempurna – ideal – dari bentuk yang kita lihat di dunia indra. Kita sekarang sedang berada di alam indra, seperti merpati tadi kita senantiasa berubah dan akan berakhir pada kematian. Namun ketika mati, bentuk manusia akan tetap ada, mereka tersimpan di dalam akal, di alam ide, mereka kekal”

“Berikan contoh lagi”

“Dalam analogi cetakan kue Ates, kita bisa melihat sebuah kue yang bentuknya sama – tidak – hampir sama. Mungkin kita akan melihatnya sama disatu sisi, tapi ketika kita ke sisi lain kita bisa melihat di salah satu kue ada lekukan yang kurang simetris, ada bagian yang terpotong, atau semacamnya. Tapi pada akhirnya kita sepakat bahwa kue itu sama, berpikiran bawha asalnya dari cetakan yang sama, dan hal pasti bahwa cetakannya lebih sempurna dibanding lima kue yang dipegang Ates”

“Artinya, segalanya yang ada di alam ide bersifat ideal, kekal , dan abadi?”

“Tentu saja, kebalikan dari alam indra yang terus tergerus dan hanya merupakan ingatan samar-samar dari alam ide sebelum kita hidup di alam indra”

“Kamu tau, Aku rasa ini sangat abstrak, dan kamu baru saja mengatakan kita pernah hidup sebelumnya di alam ide”

“Ya, kamu harus menggunakan akal untuk mencapainya – bukan perasaan. Kita tidak menerima pengetahuan yang begitu tepat dengan hanya mengandalkan indra kita, tapi kita bisa menemukan pengetahuan yang sejati – yang ideal dan kekal – jika menggunakan akal kita untuk merasakan kerinduan akan dunia ide, karena pada dasarnya kita berasal dari sana, kita mengingat kembali ingatan kita secara samar-samar. Aku berani bertaruh untuk apa yang kita sebut bulat atau lingkaran pada kue Ates, kita semua sepakat bahwa kue itu berbentuk bulat karena kita melihatnya demikian. Jika menggunakan akal pada kata bulat, kita semua merujuk pada bangun yang memiliki besar sudut 360 derajat – itu idealnya. Sekarang kita uji dengan mengukur kue Ates yang katanya berbentuk bulat tersebut apakah bisa menyamai atau lebih sempurna dari bulat yang ideal – 360 derajat. Aku berani bertaruh untuk uang lima ribu dikantongku”

Aris tampak begitu memperhatikan Aton menjelaskan panjang lebar sementara Ates memasukkan kue terakhir kedalam mulutnya.

“Tapi masih ada yang belum Aku mengerti” Kata Ates setelah menelan kue turun kedalam perutnya

“Apa itu, Ates?”

“Kenapa kamu dipanggil Ato?”

“Tapi kalian memanggilku Aton”

“Tidak, bukan begitu, maksud kami kenapa orang-orang di sekolah lebih suka memanggilmu Ato. Kami memanggilmu Aton karena kebiasaan dengar orang tuamu dari kecil”

Aton menaikkan bahunya “Aku juga tidak begitu mengerti, mungkin supaya mereka lebih mudah menyebutnya” 

“Tapi apakah itu bukan keadaan yang terbalik Aton” Aris bangkit dan berceloteh sambil mondar-mandir.

“Apa yang terbalik?”

“Pemikiranmu, bukankah mustahil ada sebuah ide samar-samar yang kita bawa sejak kita lahir”

“Kenapa mustahil”

“Tentu saja mustahil, segala sesuatu yang kamu sebut seperti merpati dari alam ide, atau manusia dari alam ide merupakan konsepsi yang ditemukan setelah kita melihat burung merpati atau manusia di alam indra. Yang kamu maksudkan dengan merpati dalam dunia ide – merpati yang ideal – sebenarnya adalah merupakan ciri dari merpati, jelas ciri suatu makhluk melekat pada makhluk itu sendiri, tidak terbagi antara dua bentangan alam. Misal, merpati berbulu, bertelur, dan mengeluarkan suara yang lebih halus dari ayam adalah merpati yang kita sebut ideal”

“Ya, itu ideal”

“Tapi sebenarnya itu adalah ciri dari merpati itu sendiri, sudah hakikatnya pada sebuah merpati melekat hal-hal tersebut. Kemudian ciri tadi itulah yang mendefinisikannya. Kita menemukan ide atau bentuk ideal yang disimpan oleh akal setelah kita merasakan dengan indra kita – melihat dan mendengar”

“Jadi apakah hanya ada satu alam dalam pemikiranmu, Aris?”

“Tentu saja tidak, namun yang perlu kita tekankan bahwa, apa yang kita lihat, dengar dan rasakan adalah alam yang nyata – yang sebenarnya”

“Apakah itu berbeda dari pendapat Aton?” nimbrung Jendral Pit sambil mengambil gelas-gelas teh yang sudah kosong

“Ya, Aton mengatakan dunia yang sesungguhnya adalah alam ide – Aton telah terperangkap dalam dunia imajinasi yang begitu bebas. Dunia yang sebenarnya adalah apa yang kita lihat, apa yang dapat dilihat dan yang dapat diindrai. Jelas ini bertolak belakang dengan yang dikatakan Aton bahwa realitas tertinggi berasal dari Akal sedangkan jelasku adalah realitas tertinggi justru dicapai melalui indra-indra kita. Apakah kamu mengerti?”

“Mungkin ya, mungkin tidak ‘nak”

Sekarang semuanya dibuat bingung oleh Aris. Dahi berkerut diantara ketiganya dan Jendral Pit dari kejauhan memasang wajah serius seperti sedang berpikir keras. “Ada yang mau makan telur?”

“Dimana kamu menemukannya?”

“Didalam – dikulkas, tidak apa-apa Jendral?”

“Lakukan sesukamu”

“Kalian tau? Telur itu adalah substansi”

“Apa maksudmu substansi”

“Substansi adalah sesuatu yang berkemungkinan membuat benda-benda, selain substansi ada juga bentuk. Bentuk adalah ciri dari benda tersebut, mereka melekat – persis seperti contoh merpati tadi”

“Tolong jelaskan bagian yang ini”

“Baiklah kalau begitu ingat ini ‘Setiap substansi menyimpan potensi untuk menciptakan bentuk tertentu – potensial ke aktual”

“Baik Aku mengingatnya”

“Selanjutnya kuberikan contoh, kayu, besi, tanah, bahkan telur adalah hal-hal yang bersifat potensial artinya mereka termasuk substansi. Kayu berpotensi menjadi tempat tidur atau sebuah kursi, Besi berpotensi menjadi kipas angin atau sebuah kunci, Dan telur-”

“Berpotensi menjadi seekor ayam!”

“Bisa ya, bisa tidak”

“Mengapa demikian?”

“Telur bisa berpotensi menjadi seekor ayam seperti ditengah lapangan itu, dan telur juga bisa berpotensi menjadi santapan makan siang Ates seperti yang sedang dia lakukan sekarang”

“Tapi apakah itu berlaku untuk semua kejadian? Secara universal seperti ungkapan Ates?”

“Ya, dengan mengetahui ciri atau bentuk dari benda-benda kita bisa melakukan kategorisasi atau pengelompokan”

“Apakah itu hal yang penting? Maksudku, hal tersebut begitu sederhana untuk dilakukan namun sangat rumit untuk dipikirkan”

“Jelas penting, kita bahkan masih memakainya sampai sekarang. Dalam ilmu pengetahuan dikenal istilah logika. Inilah yang aku maksud, kita berangkat dari premis pertama menuju premis kedua kemudian melahirkan kesimpulan dari keduanya. Aku adalah Manusia-Manusia pasti mati-kesimpulannya adalah Aku pasti mati. Kau lihat, hal sesederhana itu bahkan telah membantu kita untuk berpikir dengan benar”

“Sepertinya Aku mulai mengerti – logika deduksi!”

“Begitukah, Jendral?”

“Mungkin…”

“Sial!”

“Kenapa, Aris?”

“Padahal kuharap Jendral akan tidak mengerti dan kembali menanyakan pertanyaan baru”

“Apa ada persoalan jika sekarang Aku mengerti?”

“Tentu saja ada, karena kita harus mengakhiri cerita ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*