web analytics
Rabu , Desember 2 2020
Home / LEMA FH-UH / PEMIKIRAN / Resensi / Pelajaran Filsafat Ala Detektif-Detektifan

Pelajaran Filsafat Ala Detektif-Detektifan

Google.com

Google.com

Oleh:

Saldy

(Pengurus LPMH-UH Periode 2019-2020)

Pernahkah kita melihat atau memerhatikan trik para pesulap? Seperti saat mereka menarik keluar seekor kelinci putih dari topi hitam tingginya. Kemudian berpikir bahwa dunia adalah kelinci putih dengan bulu-bulu halus yang ditarik dari topi pesulap alam raya? Hal itu dilakukan Sophie, bahkan sebelum ia berusia 15 tahun. 

Sophie Amundsend adalah pelajar berusia 14 tahun dari salah satu sekolah di Norwegia. Ia memiliki seorang Ayah yang sering berada jauh terombang-ambing di tengah lautan. Di sebuah rumah di Clover Close Sophie tinggal bersama seorang Ibu yang sering meninggalkannya bekerja dari pagi sampai sore hari. Kehidupan Sophie sangat umum untuk anak-anak seusianya, belajar dengan rajin dan mendapat nilai yang bagus, bermain dengan Joanna, atau mungkin membaca surat-surat dari Ayahnya. Semua itu berlangsung, setidaknya sampai Sophie menemukan surat misterius yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak kalah misteriusnya. “Siapakah kamu?” dan “darimana datangnya dunia?” atau “Selamat ulang tahun Hilde” – tapi siapa Hilde?

Pertanyaan-pertanyaan misterius yang berasal dari amplop putih tanpa perangko tersebut terus berdatangan secara berpola – amplop putih kecil di pagi hari, amplop coklat besar di sore hari dan amplop dengan perangko PBB yang ditujukan untuk Hilde. Siapa yang akan menyangka? Surat-surat itu telah membawa Sophie pada pelajaran Filsafat.

Melalui Alberto Knox, – pria yang mengirimi Sophie surat misterius – Sophie menerima kursus Filsafat yang mengantarnya pada sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Sophie dan Alberto berkeliling zaman melalui dialog-dialog mereka dari Yunani, Roma, Inggris sampai Prancis dan Jerman.

Bermodal pelajaran Filsafat, Sophie dan Alberto mulai menyadari keanehan-keanehan yang terjadi disekeliling mereka. Melalui kursus filsafat Alberto, Sophie seperti menjadi detektif bekerja sama dengan Alberto untuk membongkar sebuah teka-teki besar dari Hilde dan Ayahnya.

Dalam Dunia Sophie Jostein Gaarder sangat pandai memadukan antara pelajaran Filsafat dan karya fiksi – dan sangat berani. Keberhasilannya menduetkan bacaan filosofis yang membingungkan dalam sebuah karya fiksi yang penuh imaji telah membawa Dunia Sophie hingga diterjemahkan dalam 30 bahasa dan mencapai Best Seller Internasional.

Dunia Sophie menyajikan sejarah filsafat dari pemikiran-pemikiran dan aliran-aliran tokoh dengan teratur dan sangat ringan. Jostein Gaarder membawakan Filsafat dengan pembawaan yang lebih mudah dimengerti, ini jelas meruntuhkan stigma-stigma yang memandang filsafat adalah soal perkara yang sulit.

Selain membaca dan mencermati pelajaran filsafat, kita juga akan semakin dibuat penasaran dengan perjalanan detektif Sophie dan Alberto. Pelajaran Filsafat ala detektif-detektifan.

Seekor kelinci ditarik keluar dari topi pesulap. Karena ia adalah kelinci yang amat sangat besar, tipuannya perlu dipelajari selama ribuan tahun. Semua makhluk dilahirkan si ujung setiap lembar bulu kelinci yang lembut, dimana mereka berada dalam posisi untuk mempertanyakan kemustahilan tipuan itu. Namun, ketika mereka bertambah umur, mereka sibuk menyelusup semakin dalam ke balik bulu-bulu itu. Dan disitulah mereka tinggal. Mereka merasa begitu nyaman sehingga mereka tidak mau mengambil resiko untuk memanjati kembali bulu-bulu halus itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*