web analytics
Senin , Mei 23 2022
Home / LEMA FH-UH / PEMIKIRAN / Opini / Menjaga Kesehatan Mental Remaja Di Kalangan Orang Tua

Menjaga Kesehatan Mental Remaja Di Kalangan Orang Tua

Oleh : St Puan Khaliza

Peserta Magang LPMH-UH 2022

 

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental atau mental health adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Artinya, mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka. Masalah kesehatan mental merupakan serangkaian kondisi yang berdampak pada kesehatan mental. Karenanya, ini adalah kondisi yang mengganggu suasana hati, perilaku, pemikiran atau cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Kondisi ini bisa: ringan, sedang, dan berat; serta ditentukan berdasarkan seberapa jauh dampaknya terhadap fungsi harian seseorang. Misalnya  depresi, kecemasan, gangguan bipolar atau skizofrenia. Dengan dukungan dan perawatan yang tepat, orang dapat pulih dan menstabilkan kondisi kesehatan mental mereka sehingga bisa menjalani hidup yang sehat dan memuaskan.

Faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental dan menyebabkan gangguan mental dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Faktor biologi: genetik, kimia pada otak, gangguan pada otak.
  2. Faktor kehidupan: trauma, pelecehan, racun, alkohol, obat-obatan.
  3. Faktor keluarga: riwayat keluarga, masalah keluarga.

Masalah kesehatan mental di Indonesia masih  sering dianggap remeh  oleh beberapa masyarakat awam di Indonesia terutama bagi orang tua. Sering terjadi di kalangan orang tua di Indonesia menganggap bahwa mental seorang anak tidak sebegitu pentingnya dengan kesehatan fisik. Padahal kesehatan mental dengan kesehatan fisik secara inheren saling terkait. Tidak heran beberapa kalangan orang tua di Indonesia seringkali membuat sang anak merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri dikarenakan sifat beberapa kalangan orang tua di Indonesia yang suka membandingkan potensi anaknya dengan anak yang mereka rasa lebih pintar atau berprestasi.

Selain sifat yang sering membandingkan anaknya, beberapa kalangan orang tua di Indonesia juga sering menghina atau men-judge anaknya sendiri. Seperti beberapa kasus yang sering ditemui saat orang tua mengatai anaknya sendiri dengan kata-kata kasar, contohya “Kamu anak yang bodoh, tidak bisa membuat orang tua bangga”. Hal tersebut dapat menimbulkan stigma negatif terhadap pemikiran anaknya dan membuat sang anak merasa tidak percaya diri, bahkan sang anak merasa dirinya tidak disayangi oleh orang tua mereka sendiri.

Beberapa kalangan orang tua di Indonesia juga memiliki sifat yang dapat dikatakan egois terhadap anaknya. Mengapa dapat dikatakan  seperti itu? Karena dari beberapa kasus yang ditemui beberapa orang tua di Indonesia selalu ingin didengarkan akan tetapi tidak ingin mendengarkan apa yang anaknya rasakan,terkadang hal itu membuat anaknya menutupi segala hal yang ia lakukan kepada orang tuanya,dan para orang tua merasa bahwa anak telah membohongi mereka,padahal dalam kenyataannya sang anak sudah berusaha ingin memberi tahu akan tetapi sang orang tua marah terlebih dahulu bahkan berkata bahwa anak membantah perkataannya. Padahal maksud dari sang anak ingin berkata jujur kepada orang tuanya.

Selain itu terlalu banyak perintah, larangan dan teguran akan membuat anak tidak percaya diri, rendah diri dan masih banyak lagi. Seringkali orang tua juga memaksakan kehendaknya terhadap anaknya. Misalnya dalam hal pelajaran, orang tua seringkali menaruh standar yang tinggi terhadap nilai mata pelajaran anaknya di sekolah, bahkan menuntut sempurna nilai anaknya. Padahal potensi setiap anak itu berbeda dan tidak sama rata, mereka pasti memiliki passionnya masing-masing.

Banyaknya  masalah mental yang diabaikan dan tak terdeteksi ini pada gilirannya akan membawa dampak menghancurkan bagi remaja terutama mereka yang memang sudah rapuh sejak lama. Oleh karena itu, cara untuk menghindari gangguan mental pada anak yaitu melakukan komunikasi dengan anak dan memperlihatkan hal-hal yang baik.

Menunjukkan cinta, kasih saying dan perhatian menjadi hal yang penting diperhatikan, selain itu pujian atas upaya anak, menghargai ide dan menghabiskan waktu bersama juga dapat menjadi poin baik untuk mendorong anak untuk berbicara tentang perasaannya.

Penting bagi anak untuk merasa bahwa mereka tidak harus melalui segala sesuatunya sendiri dan orang tua dapat bekerja sama untuk menemukan solusi untuk masalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*