web analytics
Kamis , Juli 7 2022
Home / LIPUTAN / Menjaga Alur Tren, Mungkin Gagal Ngetren atau Gagal Karena Tren

Menjaga Alur Tren, Mungkin Gagal Ngetren atau Gagal Karena Tren

Oleh : Nur Aflihyana Bugi

Pemimpin Redaksi LPMH-UH Periode 2021-2022

 

Media sosial (Medsos) kian menunjukkan entitasnya sebagai hal yang sangat diperlukan hingga menjadi acuan gaya hidup masyarakat dalam kesehariannya, setiap hal hingga setiap saat, waktu menunjukkan betapa medsos mengambil peran penting diatas tradisi lain yang berjalan. Luasan tanpa batas hingga akses tanpa ujung menjadi alasan penting segala hal masuk, merambah hingga menyebar di medsos, tak urung ini menjadi ladang penyebaran berbagai hal yang banyak dipilih masyarakat.

Merujuk pada hasil riset yang diterbitkan oleh DataReportal menunjukkan bahwa hingga januari 2022, pengguna medsos Indonesia mencapai 191,4 juta. Dari 277,7 Juta penduduk Indonesia, maka angka ini menembus hingga 68,9 persen. Jelas bukan sedikit jumlah orang di Indonesia yang menjadi pengguna medsos.

Dengan jumlah demikian, bukan tak mungkin setiap yang disebarkan sesaat kemudian menjadi bahan perbincangan setiap kalangan. Semakin hal ini menjadi perhatian, maka perlahan hal ini akan menjadi kemutakhiran atau yang dalam perkembanganya disebut sebagai tren. Semakin banyak perhatian, semakin banyak pula pengikut yang makin membesarkannya sebagai tren baru.

Dalam kurun waktu sebulan saja, berbagai tren di medsos menjadi mesti untuk diikuti tiap kalangan, bukan suatu kewajiban memang, tetapi mengetren/ngetren menjadi keharusan untuk tetap dianggap mengikuti perkembangan mutakhir.

Dari satu orang diikuti pengguna lain, dari satu tempat melampai semua wilayah. Tren yang hadir kian beragam, hal ini jelas dapat membawa sisi positif dan negatif yang beriringan, batas apkir menjadi penting untuk tetap diperhatikan, menjaga keamanan tren bagi pola kehidupan, golongan hingga terpenting adalah diri sendiri. Tak sedikit yang mengaku menemukan dirinya yang ‘sesungguhnya’ melalui medsos. Namun berbagai data tentang dampak lain tidak dapat disampingkan begitu saja, semisal hasil penelitian yang dipublikasikan di International Journal Of Mental Health and Addiction yang menyimpulkan penggunaan medsos yang berdampak pada kesehatan mental yang dapat berakhir pada depresi.

Alih-alih menemukan hal dalam diri yang belum terekspos, tren yang hadir sebagai update hiburan di medsos dapat saja menjadi penampar nyata yang membatasi ekspolari diri dalam bidang lain. Merujuk pada tren yang masih hangat bertebaran, seperti kata ‘Insecure’ yang belakangan banyak menjadi alasan tidak memulai sesuatu karena ‘previlege’ yang tidak di miliki. Atau bahkan kata ‘Ambisius’ (yang banyak di singkat ambis) perlahan menjadi pelebur keinginan kuat untuk mencapai harapan yang telah dimiliki.

Melawan rasa insecure meskipun tak memiliki previlege sehingga tetap ambis bukan lagi hal mudah bagi beberapa pihak yang tergoyahkan dirinya karena tren-tren ini. Perasaan tidak percaya diri, malu, takut melihat hal yang lebih dari yang dimiliki dalam eksplore medsos jelas akan berdampak banyak mengubah pandangan dengan dalih ‘harus tahu diri’, pada akhirnya untuk berdiri pada garis start kehidupan adalah hal berat kala melirik lawan lain. Meski pada nyatanya hal yang harus dikuatkan bahwa semua orang berjalan pada alur sendiri, mungkin saja dapat berdampingan, tapi tabrakan dengan alur orang lain bukan hal yang mungkin terjadi di jalan kehidupan ini.

Sementara previlege bagi orang lain nyatanya tetap saja dimiliki semua orang dalam bentuk berbeda di kehidupannya masing-masing. Jika tidak dari statifikasi sosial, maka ras, usia, keluarga bahkan jenis kelamin menunjukkan sisi istimewa yang dapat menandingi previlege pada orang lain. Seperti support keluarga masing-masing yang jelas berbeda, atau bahkan usia yang menentukan sejauh mana penjelajahan telah dimulai dapat pula menjadi hal istimewa, terlebih konsep gender yang banyak bergaung jelas juga tak dapat dilupakan begitu saja.

Begitu pula dengan tren kata ambis yang yang membatasi dalam persaingan, saat mengingat bahwa kehidupan adalah ajang perlombaan, maka menjadi yang terkuat adalah keharusan. Ambisi tetap harus dijaga beriringan dengan target yang makin besar tanpa harus mendalami perkataan ‘jangan terlalu ambis’, ‘kamu benar-benar ambis’ atau bahkan ‘orang ambis sangat menyebalkan’ dari orang lain.

Terbaru, tren yang masing mencuat dan terus berkembang adalah challenge dalam bidang fashion. Sebuah tren mix and match dari salah satu brand fashion terbesar dunia. Bahkan tren dengan nama Gucci Model Challange ini telah diikuti sejumlah influencer tanah air. Tren ini dibuat dengan memperlihatkan koleksi yang dimiliki dari brand ini, mulai dari dress, blazer, sepatu, kacamata, tas, make up, hingga scarf yang menjadi ciri utama. Dilanjut dengan match setiap item, challenge kemudian diakhiri dengan berpose layaknya model pada brand ternama ini.

Diluar dari ajang menampilkan sisi glamor saat menujukkan koleksi fashion, tren ini memang menunjang kreatifitas pengikut dalam mengolaborasikan fashionnya, namun tidak jauh berbeda dari tren sebelumnya bahwa jangan menbiarkan sisi negatif dari tren ini kepada diri. Membiarkan tren ini menjadi alasan kegagalan dan menggapai harapan jelas harus dihindari sejak awal. Kuncinya ada pada penggunaan medsos dengan bijak, bijak dari sisi tren yang diikuti hingga bijak pada durasi penggunaan.

Hingga pada akhir, berbagai tren yang hadir akan membawa pada pilihan mengikuti atau tidak. Tidak mengikuti dengan menyantang gelar gagal ngetren, atau mengikuti kemutakhiran ini yang dapat saja berkibat kegagalan dalam kehidupan yang harus tetap berjalan diluar dari medsos yang terus bergejolak. Mengikuti tren cukup menjadi keharusan untuk diikuti dengan menjaga sisi lain yang tak boleh digoyahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*