web analytics
Kamis , Juli 7 2022
Home / SASTRA / Cerpen / Abu-Abu

Abu-Abu

Oleh:

Aulia Ayu Permatasari

Pengurus LPMH-UH Periode 2021-2022

 

Gema takbir berkumandang di malam penuh kebahagiaan menuju hari kemenangan. Anak-anak hingga orang tua berbondong-bondong menuju masjid untuk bersiap menyusuri kampung sambil bertakbir lantang memuja Yang Agung.

Malam ini aku mulai tampak lagi setelah sekian tahun tak pernah bersua dengan manusia penghuni kampung ini. Dengan setelan seragam berwarna hitam, aku berjalan menuju masjid dengan adikku. Namun, entah karena apa, aku mulai merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kugenggam erat tangan adikku, Mahendra, untuk mencoba menenangkan sesuatu yang ada di dalam. Panas dingin, cemas, pusing, tremor, detak jantung tak karuan, semua kurasakan malam ini.

Aku menolak untuk berbaur sedari dulu bukan tanpa alasan. Ramai sekali lautan manusia, tetapi aku tetap merasa sendirian. Tidak, aku memang sendiri. Kupaksa diriku datang demi nama orang tuaku dan seseorang yang memang selalu menyuruhku datang. Dia Arya, teman sekampungku.

“Dek, tunggu sini dulu temenin kakak. Ya?” pintaku pada Mahendra. Namun, semua sia-sia karena ia menolak dan memilih untuk berbaur dengan anak-anak yang lain sambil melihat maskot yang ada.

Aku tak bisa apa-apa, aku hanya berdiri terdiam di samping masjid. Rasa itu makin tak karuan, aku ingin menangis. Lalu aku mulai membombardir sahabatku dengan mengiriminya pesan, mengadu bahwa aku tak baik-baik saja. Dia Farhan dan selama malam takbir ini aku hanya bertumpu dengannya agar aku tak hancur.

Dari kejauhan, kulihat Arya datang dengan setelan hitam dan tas yang dibawanya. Dia lelaki yang cukup kondang di antara yang lain. Dia mulai mengatur anak-anak agar segera berbaris rapi. Lalu mata kami tak sengaja bertemu. Dari kejauhan ia tersenyum dan mengacungkan jempolnya dengan tetap sibuk menghirup rokok elektrik di tangannya yang lain. Kubalas saja dengan senyum tipis. Aku tahu bahwa dia senang karena dia berhasil menarikku keluar dari persembunyianku sekian tahun ini.

“Dra, ayo masuk barisan!” ajak Arya yang kini sudah ada di depanku. Ia mengelus rambut Mahendra yang berdiri di hadapanku sambil memeluk tanganku. Adikku hanya menggeleng sambil mengeratkan pelukannya pada tanganku. Aku merasakan tatapan penuh tanya dari pemudi yang ada di sampingku. Aku abai saja.

Waktu berlalu dan kami semua mulai menyusuri kampung dengan takbir yang tiada henti digemakan. Kampung ini hanya kecil, tapi waktu seperti tak berjalan. Begitu lama hingga rasanya aku ingin pulang saat perjalanan mulai melewati gang menuju rumahku. Lagi-lagi kutahan semuanya. Aku sudah berjanji pada ibuku bahwa aku akan menjaga Mahendra dan Fairuz. Fairuz, adikku yang lebih besar dari Mahendra. Ia ada di barisan belakang para anak lelaki.

Akhirnya, setelah hampir dua jam, kami kembali ke masjid. Semua manusia mulai memasuki serambi masjid untuk pengumuman para pemenang dan pembagian hadiah. Aku duduk di bagian samping serambi. Di samping para pemudi yang sibuk bercengkerama dengan teman sepermainannya. Sama denganku, mereka dengan temannya dan aku dengan diamku.

Aku merasa seperti manusia transparan malam ini. Pertanyaan semacam yang terus bersarang hingga membuatku muak dengan diriku sendiri dan yang lainnya: Apa aku terlihat di mata mereka? Apa yang harus kulakukan? Aku harus bersikap bagaimana?

Selama acara, Mahendra aktif sekali untuk beradu dengan anak-anak yang lain agar bisa mendapatkan hadiah. Namun, saat tak sengaja kulihat Fairuz, ia hanya duduk diam di bagian tengah. Menelusuri temannya yang lain dengan tatapan hampanya. Hatiku makin teriris saat menangkap dia yang hanya mampu menatap bocah-bocah yang dulu menjadi temannya, sedang bersorak sorai karena mendapat kemenangan maskot terbaik.

Aku kembali mengadu pada Farhan bahwa aku semakin hancur. Tak mampu lagi untuk berbuat sesuatu. Likuid bening sudah menumpuk di pelupuk mataku, harap-harap kulangitkan untuk keselamatan Fairuz.

Waktu yang dinanti telah tiba. Acara telah selesai. Pemuda dan pemudi bergegas untuk membersihkan dan merapikan serambi masjid, termasuk aku. Katanya akan ada sesi foto bersama. Aku tak mengharapkan untuk bergabung, tapi dengan alasan menghargai, akhirnya aku memilih untuk menunggu. Duduk di bagian belakang para pemudi dengan ditemani Mahendra yang asik dengan cemilannya dan aku yang hanya memainkan gawai. Dikondisi seperti ini, aku sangat merasakan besarnya fungsi gawai untuk para manusia.

“Pulang kapan, Sa?” tanya seseorang yang berada di depanku. Kususuri orang tersebut dari kakinya hingga berakhir  ke wajahnya. Ah, dia Arya. Mata ayamku merasakan kembali tatapan para pemudi yang langsung berbalik ke arah kami dan lagi-lagi aku abai. Mereka tak sepenting itu untuk kuacuhkan atensinya. Aku tetap menatap Arya, “Masih lama.”

Ia lalu duduk di samping Mahendra, mereka kembali mengobrol dan aku hanya diam membiarkan keduanya bertukar cerita. Sebelumnya, Fairuz sudah bergegas pulang sendiri. Berbeda dengan Mahendra yang lebih memilih untuk pulang denganku.

“Sa, boleh pulang kok. Acaranya udah selesai. Kalau mau pulang gak papa,” katanya padaku yang sepertinya menyadari bahwa aku tak nyaman di sini. Aku bersyukur sekali saat ia mengatakan sederet kata itu. Dengan tangannya yang mengelus lembut punggung Mahendra, aku menatapnya senang. Dia mengangguk untuk meyakinkanku agar pulang.

Dia berdiri, mengantarkanku yang akan pulang. Sembari memakai alas kakiku dan memakaikan milik Mahendra, Arya mengingatkan perihal makan bersama yang sempat batal karena memang ia sibuk.

“Buka puasa yang dulu batal, diganti makan bersama ya? Maaf, aku kemarin sibuk. Kamu tahu, kan?” sesalnya yang hanya kujawab anggukan memahami. Dia memang orang sibuk yang pagi hingga sore bekerja dan malamnya menuntut ilmu di bangku perkuliahan.

“Aku kabari lagi besok, ya?” katanya memastikan padaku bahwa untuk yang kali ini tidak akan batal lagi. Sempat kulirik ke arah samping dan mereka masih curi-curi pandang kepada kami.

Aku dan Mahendra lalu bergegas pulang. Sesampainya di rumah, seperti sebuah tradisi, ibu selalu menanyakan bagaimana acara yang kami ikuti. Tangisanku menjawab semuanya. Semua rasa yang tercampur aduk dan membuatku babak belur, lagi. Ibuku hanya diam tak menyangka.

“Bu, aku gak mau kalau Fairuz berbaur dengan orang-orang di sini. Kalau ayah memaksa Fairuz untuk bermain dengan anak-anak itu, bilang aku Bu. Aku gak terima kalau Fairuz dipaksa hidup di lingkungan yang sakit ini.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*