web analytics
Minggu , Agustus 14 2022
Home / LEMA FH-UH / UKM / ALSA LC / Covid-19, Resesi, dan Perubahan Iklim, Tiga Tantangan Global Masa Kini

Covid-19, Resesi, dan Perubahan Iklim, Tiga Tantangan Global Masa Kini

Sumber: Dokumentasi Eksepsi

Sumber: Dokumentasi Eksepsi

Makassar, Eksepsi Online (3/7) Asian Law School Association Local Chapter Universitas Hasananuddin (ALSA LC Unhas) telah melaksanakan ALSA Video Conference dengan mengususng tema “COP26 Deforestation: Between Concealing Destruction and Maintaining Development” melalui platform zoom meeting pada Sabtu (2/7). Kegiatan ini sukses diselenggarakan dengan menghadirkan dua pemateri, yaitu Dr. Laode Muhammad Syarif, SH., LLM., Ph.D (I) dan Adrianus Eryan, S.H (II).
 
Dalam materinya Dr. Laode memperlihatkan sistem pengawasan hutan nasional (SIMONTANA) berbasis spasial teknologi untuk membantu mengatur data tutupan hutan dan  menegaskan bahwa teknologi dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas serta berpotensi mencegah korupsi jika dikelola oleh orang-orang yang berintegritas. 
 
Tak lupa beliau juga menjelaskan tentang bagaimana Pencegahan Sistem untuk mencegah NR-Korupsi, yaitu dengan cara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) fokus pada korupsi sumber daya alam, membantu kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membentuk minerba one map Indonesia dan pendaftaran benefical ownership.
 
Senada dengan tema yang diusung, Bapak Adrianus Aryan, S.H membawakan materi tentang “COP26 Deforestasi Menyembunyikan Kehancuran atau Mempertahankan Pembangunan.” Sebagai pembuka materi beliau menjelaskan ada tiga tantangan yang dihadapi manusia di bumi yang dibahas dalam COP26 sekarang, yaitu Coronavirus Disease (Covid-19), recession, dan climate change
 
“Mereka mencerminkan kepentingan, kondisi, kontradiksi, dan keadaan kemauan politik di dunia saat ini. Mereka mengambil langkah-langkah penting, tetapi sayangnya kemauan politik kolektif tidak cukup untuk mengatasi beberapa kontradiksi yang mendalam,” jelasnya tentang COP26 dalam Bahasa Inggris.
 
Beliau juga melanjutkan dengan penjelasan tentang deforestasi di Indonesia. Deforestasi dan degradasi hutan menjadi perhatian utama banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Kadang-kadang diinginkan, tetapi sebagian besar tidak diinginkan, deforestasi membawa dampak positif dan negatif. Deforestasi dapat dianggap diinginkan ketika menghasilkan keuntungan finansial. Di sisi lain, biaya lingkungan dan sosial dari deforestasi dapat dan sering kali melebihi keuntungan finansial jangka pendek tersebut. Untuk itu, solusi yang dapat dilakukan ialah sebagai berikut. 
  • Tindakan nyata, laksanakan rencana sebaik mungkin, awasi implementasinya, meskipun rencana (NDC, LTS-LCCR, dll) tampaknya tidak mencukupi, tetap lebih baik daripada tidak ada rencana sama sekali.
  • Penerapan yang efisien, fokus pada sektor-sektor yang berdampak signifikan. Misalnya fokus kehutanan pada konservasi mangrove, lahan gambut, reboisasi, pembatasan pemberian izin berbasis lahan, dan pencegahan kebakaran hutan. 
  • Kemauan politik, semuanya bukan apa-apa tanpa kemauan politik yang kuat dari para petinggi, memberikan tekanan dan insentif kepada para pemimpin politik, mendukung partai politik yang mendorong keberlanjutan (atau menciptakan yang akan dilakukan). Tindakan hukum, reformasi hukum lingkungan melalui peraturan dan putusan pengadilan. 
 
Partisipasi dari semua orang baik itu pemerintah maupun organisasi dan masyarakat sipil. Setelah pemaparan materi berakhir agenda dilanjut dengan sesi tanya jawab yang setelahnya ditutup dengan closing statement dan pemberian penghargaan kepada pembicara. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 14:00 sampai 17:30 WITA. (goz) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*