web analytics
header

Kata Kerja: Tempat Bertatap Muka di Dunia Nyata

dok. Pribadi

dok. Pribadi
dok. Pribadi

Oleh: M. N. Faisal R. Lahay

Oscar Schell membuka drama dengan monolognya tentang filososfi kehidupan. Membandingkan antara orang yang mati dengan yang masih hidup. Menyadarkan penonton, bahwa bumi tempat orang yang masih hidup bernaung, juga menjadi tempat jasad yang sudah tak bernyawa bersemayam. Sehingga sebenarnya, kita sebagai manusia yang masih hidup, beraktivitas sehari-hari di atas jasad-jasad orang mati.

“Bagaimana jika kau bisa menggunakan lift menuju ke bawah tanah untuk bertemu dengan kerabatmu yang sudah meninggal? Seperti memasang jembatan untuk mengunjungi temanmu di Brooklyn. Atau kapal feri ke Pulau Staten,” demikian potongan analogi anak yang berusia sekitar 10 tahun itu.

Ayahnya, Thomas Schell, pernah bercerita padanya bahwa New York dulunya memiliki enam wilayah. Tepat di sebelah Manhattan. Namun kini orang-orang sudah tidak bisa mengunjunginya lagi. Karena tempat itu telah tenggelam, dan tak ada yang tahu di mana lokasinya.

Sang ayah kemudian memberinya tugas untuk mencari di mana wilayah yang hilang dari Kota New York itu. Oscar hanya dibekali sebuah peta, tidak lebih. Bahkan ketika ia menanyakan apa petunjuk selanjutnya, sang ayah hanya mengangkat kedua bahunya secara bergantian. Pertanda yang mengisyaratkan bahwa teka-teki dari tugasnya itu tidaklah mudah. “Ini permainan favoritku dengannya. Kami biasa menamakan permainan ini Reconnaissance Expedition,” gumam Oscar.

Central Park (Taman Pusat), dulu tidaklah seperti ini. Berdasarkan keterangan ayahnya, tempat itu biasa dipakai untuk beristirahat sebagai bagian dari wilayah keenam. “Kait besar ditanam jauh ke tanah. Dan taman itu lalu ditarik oleh seluruh warga New York. Seperti karpet di lantai, dari wilayah keenam hingga Manhattan,” jelas ayahnya.

Terlepas dari keorisinalan wilayah keenam itu, sang ayah memang sering memberikan pembelajaran kepada Oscar tentang kehidupan. Dan pembelajaran yang ia berikan tidak tanggung-tanggung. Seperti tugas ekspedisi ini. “Jika mudah sekali menemukan sesuatu, itu tidak akan berarti apa-apa. Itu salah satu usahaku untuk melihat akan jadi orang dewasa macam apa dia kelak,” ucap ayahnya pada sang ibu, Linda Schell, kala mereka bercengkerama berdua di ruang makan.

Oscar Schell, yang diperankan oleh Thomas Horn, merupakan tokoh cerdas dalam kisah ini. Ia adalah anak kandung dari Thomas Schell, yang dibintangi oleh Tom Hanks. Kecerdasan Thomas diceritakan merupakan turunan dari sang ayah. Sang ayah sendiri merupakan tokoh jenius keturunan Jerman yang berprofesi sebagai tukang emas di New York.

Oscar akhirnya ditinggal mati oleh sang ayah. Ia pun amat terpukul dan sedih. Kesedihannya berlarut-larut, hingga sang ibu pun turut prihatin. Sandra Bullock, yang memerankan tokoh sang ibu, ikut sedih karena Oscar berubah menjadi anak yang pemurung. Meski demikian, Oscar tetap melanjutkan ekspedisinya yang merupakan tugas akhir dari ayahnya.

***

Film yang berjudul Extremely Loud and Incredibily Close itu diputar di Kata Kerja. Suatu komunitas sosial yang digagas oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Makassar. Lokasinya tidak jauh dari kampus Unhas Tamalanrea, yakni di BTN Wesabbe Blok C/65.

Eksepsi yang berkunjung sore itu, Kamis (24/4), sebelumnya sempat melihat tiga poster film yang ditempel di kaca jendela depan rumah itu. Di antaranya adalah Fight Club, The Notebook, dan Extremely Loud and Incredibily Close. Di samping jendela berdiri sebuah meja dengan beberapa kupon berwarna kuning di atasnya, kupon yang bertuliskan ketiga judul film tersebut.

“Acara ini kita namakan Mengamati. Jadi nanti orang-orang yang datang, memilih salah satu dari tiga pilihan film yang sudah disiapkan. Setiap orang satu pilihan. Jadi nanti film yang akan diputar, adalah film yang mendapatkan suara terbanyak,” jelas Muhammad Nur Azis, salah satu pengurus di Kata Kerja.

Pengurus Kata Kerja sendiri agak kebingungan untuk mendefinisikan statusnya. “Ini tempat apa ya? Tempat istirahat bisa, tempat nongkrong bisa, tempat belajar bisa, tempat pacaran juga bisa,” guyon Ale, salah seorang pengurus lainnya sambil tertawa lepas. “Tapi yang jelas, tempat ini adalah rumah bagi semua orang untuk saling berbagi. Berbagi apapun, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dan lain-lain,” sambungnya.

Eksepsi agak linglung untuk menentukan narasumber pasti. Kala itu para pengurus memang tengah sibuk mempersiapkan acara ‘Mengamati’ tersebut. Alhasil, semua pengurus yang sempat bercerita dengan Eksepsi, turut dijadikan narasumber gabungan.

Sembari menunggu para pengurus yang sempat untuk diwawancarai, Eksepsi menyusuri tempat itu. Di dekat pintu masuk, terpajang tiga buah papan tulis yang berisikan jadwal tetap kegiatan Kata Kerja selama satu minggu. Antara lain English Class, Creative Writing Class, dan Recycle and Craft Day.

Ruang tamu yang diperuntukkan sebagai ruang baca, berisikan buku-buku yang tersusun rapi dalam rak. Beberapa buku lainnya digantung di langit-langit, membuat ruangan itu kelihatan unik. Seperti dihiasi oleh buku-buku yang berterbangan.

Di ruangan yang sama juga terdapat sebuah Mini Shop yang menjual hasil kerajinan tangan para pengurus. Di antaranya seperti kartu-kartu pos warna-warni yang bertuliskan quote dari M Aan Mansyur, salah seorang penulis asal Sulawesi Selatan.

Masuk lebih ke dalam, ada ruang tengah yang dijadikan sebagai Galeri Mini. Pada ruangan itu terdapat beberapa papan warna-warni untuk menempatkan foto-foto kegiatan serta hasil-hasil kerajinan tangan di Kata Kerja. Sedikit berbeda dengan ruang tamu, di Galeri Mini langit-langitnya digantungi sejumlah origami buatan pengurus. Galeri Mini ini juga dimanfaatkan sebagai tempat pemutaran film dalam program Mengamati.

Di samping Galeri Mini, terdapat sebuah kamar yang dijadikan kantor atau ruang kerja. Beberapa LSM yang turut berkantor di situ antara lain, AcSI (Active Social Institute), PILAR (Pintu Belajar), dan KOMTEK (Komunitas Kretek).

“Jadi gini, tempat ini sebelumnya digagas oleh anak-anak AcSI. Mereka itu tadinya mau bikin sebuah komunitas belajar yang tidak terlalu terstruktur formal. Maka jadilah ini, Kata Kerja,” ungkap Margareth Mawar Lestari, salah seorang dedengkot di Kata Kerja juluk Ale.

Nama Kata Kerja sendiri terinspirasi dari salah sebuah puisi karya M Aan Mansyur, pemilik rumah tempat Kata Kerja berada, yang juga menjadi salah satu pemateri pada kelas menulis (Creative Writing Class). Itu disebabkan, karena LSM AcSI sendiri, yang merupakan penggagas utama Kata Kerja, juga bersekret di tempat yang sama.

“Saya mah bukan siapa-siapa di sini. Sebenarnya ada manajernya di sini, namanya Eka. Tapi kebetulan lagi keluar. Jadi yang ngatur semua jadwal kegiatan di sini ya Eka itu. Yang lain cuma ikut ngebantuin,” lanjut Mawar, sapaan akrabnya.

Mawar juga mengungkapkan, di Kata Kerja, orang-orang yang sibuk mengurus komunitas ini semuanya bekerja secara sukarela. Sehingga tidak ada paksaan bagi mereka yang mau datang, dan yang mau pergi. “Tapi karena ya tempat ini masih baru juga, jadi kita semua masih meraba-raba gimana bagusnya ke depannya,” sambung mantan penyiar radio di Prambors Makassar itu.

“Oh ya, selain tiga jadwal tetap mingguan tadi, kita juga punya program lainnya. Kayak ini, nonton bareng atau kita namakan program Mengamati. Ada juga program Menyimak, jadi nanti kita kayak bikin pentas seni kecil-kecilan, ngundang band akustik, sama pegiat sastra buat menampilkan kolaborasinya. Nanti kita juga rencananya mau buka kelas puisi dan penyiaran radio,” jelasnya lagi.

Semua koleksi buku di Kata Kerja sendiri bisa dipinjam oleh siapapun. Syaratnya, cukup menyumbangkan dua buah buku. Selanjutntya, para pengunjung bisa meminjam semua buku di situ. “Tapi kita batasi tiga buah buku saja untuk satu kali peminjaman,” tambah Mawar.

“Kita di sini juga buka kerja sama dengan pihak lain. Jadi kalau misalkan ada lembaga atau komunitas lain yang mau bikin kegiatan di sini, turut meramaikan lokasi Kata Kerja ini, bisa kok kerja sama bareng kami. Tinggal isi biodata nama, lembaga atau komunitas, dan alamat e-mail di situ,” ujarnya sambil menunjuk ke salah satu papan berwarna, yang dihiasi dengan beberapa utas benang, yang difungsikan untuk menggantung robekan-robekan kertas yang sebelumnya telah diisi biodata pengunjung.

“Nanti kami kirimkan kalender kerja kami. Supaya ditahu memang jadwal kegiatan apa yang sudah ada sebelumnya,” tambahnya.

Cuaca saat itu cukup bersahabat. Mentari sore yang mulai turun ke arah Barat, membuat sebagian pancarannya masuk ke ruang tamu Kata Kerja. Kumandang azan ashar pun terdengar dari sana. Karena jarak Kata Kerja dari masjid di kompleks itu terhitung cukup dekat. Minuman dingin dan beberapa buah rambutan disuguhkan pada Eksepsi, menemani proses wawancara.

“Kalau bagi saya sendiri, Kata Kerja ini sudah seperti rumah kedua buat kita-kita ini. Tapi lebih spesifik, menurut saya, Kata Kerja ini adalah tempat bertatap muka bagi kita semua di dunia nyata. Karena kan melihat perkembangan zaman sekarang, jejaring media sosial yang ada sudah membuat kita jarang untuk bercengkerama bersama secara langsung kayak sekarang di sini,” ungkapnya lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Pemutaran film untuk program Mengamatiakan segera dimulai. Para undangan, yang tidak lain adalah kerabat dari para pengurus, mulai berdatangan.“Yuk kita nonton dulu,” ajak Mawar ramah. Eksepsi pun ikut bersama para undangan lainnya ke Galeri Mini untuk mengikuti program Mengamati.

Related posts: