Makassar, Eksepsi Online– (16/3) Dalam rangka Dies Natalis ke-69, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH-UH) menggelar webinar bertajuk “Ambassador Session” yang mengusung tema “Tantangan Kerja Sama Multilateral Selama Pandemi Covid-19” Selasa (16/3) pukul 13.00 WITA secara daring melalui zoom sebanyak kurang lebih 300 partisipan.
Narasumber yang hadir adalah tiga Duta Besar Indonesia, diantaranya H.E Hamid Awaluddin (Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Belarus Periode 2008-2011), H.E. Dr. (Hc) Lutfi Rauf, MA (Duta Besar RI untuk Mesir) dan H.E. Tri Tharyat, S.H., LL.M (Duta Besar RI untuk Kuwait).
Kegiatan resmi dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan dan Sumber Daya, Dr. Syamsuddin Muchtar, SH., MH. Dalam pengantarnya, beliau menjelaskan bahwa tema webinar ini dipilih dengan pertimbangan kerja sama multilateral memiliki peran penting untuk kepentingan bersama.
“Melalui webinar ini, diharapkan dapat menjadi wadah mendiskusikan bagaimana tantangan diplomasi Indonesia selama pandemi, dan langkah diplomasi dalam menangani isu pandemi sekaligus menjaga hubungan baik dengan negara lainnya.” ujar Syamsuddin dalam pengantarnya.
Dipandu oleh Dr. Kadaruddin, S.H., M.H. (Dosen FH Unhas) selaku moderator, H.E. Dr. (Hc) Lutfi Rauf, MA, sebagai Duta Besar RI untuk Mesir yang pertama menyampaikan pandangannya tentang “Tantangan Diplomasi Indonesia Mengatasi Pandemi Covid-19”. Beliau menuturkan bahwa Covid-19 telah memberikan dampak besar terhadap berbagai tatanan kehidupan global. Sejak pandemi, negara mengalami resesi ekonomi global menurun 4,4 % tahun 2020 dan terburuk sejak depresi ekonomi tahun 1930-an (IMF).
Lutfi menambahkan pandemi memberikan efek dominan pada aspek sosial, ekonomi dan keuangan. Oleh karena itu, dalam mengatasi dampak pandemi, diperlukan kerja sama multilateral yang sesuai dengan platform WHO. Di Mesir sendiri, tercatat 35 warga Indonesia sembuh dan 8 orang masih dalam perawatan akibat terpapar Covid-19.
“Sebagai upaya mitigasi penyebaran Covid-19 di kalangan WNI Mesir, KBRI Kairo memperkuat infrastruktur layanan untuk merespon Covid-19 dan meningkatkan pemahaman WNI tentang cara dan pentingnya protokol kesehatan,” jelas Lutfi.
Narasumber lain, H.E Hamid Awaluddin menyebutkan Covid-19 berada dalam posisi kompleks interpendens yang tidak hanya berbicara pada konteks kekuatan, namun lebih kepada bagaimana mendorong dan mengupayakan keselamatan manusia dan menyelesaikan permasalahan.
Pandangan lain juga disampaikan oleh H.E. Tri Tharyat, S.H., LL.M., yang menjelaskan bahwa dampak dari Covid-19 sangat besar. Olehnya itu, pentingnya kerja sama internasional dan prinsip kesetaraan akses bagi setiap negara. (csb/red)



