Oleh: Elmayanti Umar
Ma, Pak.
Aku selesai.
Persegi di depanku masih menyala
Tapi jariku memaku kehilangan arah
“Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa cinta dan terima kasih yang tulus kepada…”
Ma, Pak…
Ini lebih sukar dari rumusan masalah
Bagaimana aku menulis seribu kasih di sepetak kertas?
Ma…
Aku ingin menuliskan namamu berulang kali. Menempatkannya di sudut teratas, melampaui nomor halaman, melampaui rektor dan dekan, melampaui semua hal, sebelum format memagari inginku.
Pak…
Aku ingin menggarisbawahi namamu. Membiarkan orang mengenalimu, mengenali tangan yang memberiku makan, mengenali punggung yang memikul uang kuliahku.
Mama, surgaku,
terima kasih karena meski sekolahmu hanya hingga dasar, tapi mimpimu untuk anakmu sungguh besar.
Bapak, cinta pertamaku,
terima kasih karena cintamu membantuku bertahan, kasihmu membantuku agar tetap hidup.
Maaf Mama… Maaf Bapak…
Maaf, karena aku terlambat
Maaf, karena perjalananku lebih lama
Maaf, karena saat yang lain berlari, aku masih tertatih
Tapi Ma, Pak, izinkan aku sedikit bercerita.
Aku terlambat sebab ada seekor kucing yang kuberi makan, ada seorang nenek yang kubantu menyebrang. Aku terlambat sebab ada lapak buku, ada pertunjukkan jalanan, semuanya manarik dan aku tak kuasa untuk tak tertarik.
Ma, Pak.
Sejatinya aku belum selesai
Jalanku belum rampung.
Masih ada, masih panjang.
Lebih sulit, lebih melelahkan.
Tapi tak apa, denganmu, aku tenang.
Sampai kata pengantar ini selesai kutulis.
Sampai kata pengantar ini mengantarku memakai toga, mengantarku pada segala cita hingga akhir dunia. Sampai saat itu, tetap bersamaku ya Ma, Pak. Karena sekali lagi, hanya denganmu, aku tenang.