Penulis : Muhammad Fauzan MB
Ada hari ketika aku menyadari betapa buruknya aku menjaga diri sendiri.
Terlalu sering membiarkan perasaan bermain dengan logikanya sendiri,
berharap ia akan lelah dan pergi dengan sendirinya.
Aku terbiasa menunda kejujuran,
menyamarkan keretakan dengan kalimat indah dan diam yang kupanggil dewasa.
Dari luar tampak tenang, hampir meyakinkan, padahal di dalam segala sesuatu berjalan tanpa arah,
saling bertabrakan tanpa pernah mencapai kesimpulan.
Aku pandai melukai diri sendiri, tanpa bantuan siapapun.
Harapan kugenggam terlalu erat sampai remuk oleh tanganku sendiri
Lalu kusalahkan dunia karena tak menyediakan petunjuk yang jelas.
Aku menuntut pengertian dari hidup, namun menolak memahami diri sendiri.
Setiap kegagalan kusebut nasib, setiap ketakutan kusembunyikan di balik kebiasaan berpura-pura kuat.
Aku tahu betapa buruknya itu, tetapi terus mengulanginya,
seolah rasa sakit adalah satu-satunya bahasa yang benar-benar kupahami.


