Oleh : Naufal Athallah Jabal
Hujan pada rabu malam, pantai ini menjadi saksi kenyataan pahit yang tak bisa kuabaikan, aku meminum minuman ini hingga membuatku tak sadarkan diri untuk membantu menenggelamkan rasa sakit. Keesokan paginya aku terbangun di tengah lautan bersama sang ratu yang sedang merayuku.
Apa yang kulihat tak masuk akal, dia menari di atas air dan membuatku berpikir aku sedang bermimpi, tapi kemudian sang ratu membisikkan kata yang membuatku tak sadarkan diri.
“Apa yang tidak membunuhmu membuatmu berharap mati, dan apa yang membunuhmu membuatmu berharap hidup.”
Saat ombak itu datang, aku menutup mata menerima ombak itu lalu terbangun melihat diriku telah menyembah sang ratu.
“Bawalah aku pergi bersama mu ratu, aku bisa merasakan sihirmu dalam nadiku,” ujarku.
Waktu seolah berhenti saat bersama sang ratu, dia mengucapkan mantra yang membuat seluruh lautan tunduk dan membuatku takluk dari sihirnya.
Tapi siapa yang akan menyelam sekarang ketika aku tak bisa menyelamatkan diriku sendiri, siapa yang akan melawan iblis ketika aku tenggelam dalam darah. Kesepian menghantuiku, menyeretku ke laut, tapi jangan biarkan aku sendirian dengan sang ratu.


