Makassar, Eksepsi Online – (27/02) Rencana pelaksanaan Inaugurasi bagi angkatan 2025 (Grundnorm) di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH-UH) kini tengah dipertimbangkan. Isu ini memicu perdebatan setiap angkatan, mulai dari evaluasi internal organisasi hingga kekhawatiran mahasiswa baru akan hilangnya wadah kebersamaan.
Presiden BEM FH-UH, Dzaky Arya Naufal menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final, namun probabilitas pelaksanaan inaugurasi berada di angka 50 persen. Dzaky mengungkapkan adanya kekhawatiran terkait pergeseran orientasi kegiatan. Inaugurasi yang sejatinya bertujuan untuk mempersatukan angkatan, dinilai mulai beralih menjadi ajang pamer gengsi dan kemewahan (glamour).
“Kami melihat inaugurasi dari tahun ke tahun seakan bergeser dari niatan awal untuk mempersatukan, menjadi hal lain seperti memperlihatkan gengsi,” ujar Dzaky dalam sesi wawancara. Selain itu, rendahnya partisipasi aktif anggota angkatan yang diperkirakan di bawah 50 persen, menjadi salah satu alasan kuat munculnya wacana pengalihan format kegiatan.
Menambah dimensi dalam isu ini, Trump (nama samaran) selaku salah seorang panitia yang cukup aktif dalam pelaksanaan kegiatan Inaugurasi angkatan 2024, memberikan kesaksian mengenai realitas di balik layar.
Terkait efektivitas kegiatan, Trump merasa unsur hukum dalam inaugurasi sebelumnya masih minim dan seharusnya lebih dikentalkan karena status mereka sebagai mahasiswa hukum. Ia menceritakan dedikasi tinggi dengan bekerja hingga subuh dan menghadapi koreksi berulang dari Steering Committee (SC).
Trump juga menilai hasil yang diperoleh dari kegiatan Inaugurasi tidak sebanding dengan energi dan waktu yang telah dikeluarkan.
“Jadi jika berbicara soal output-nya, saya mau bilang apa ya, sedikit ya, tapi kalau dibilang worth it, tidak worth it,” ungkap Trump.
Di sisi lain, Jefri Al Jabar selaku Kepala Suku Angkatan 2025, menyayangkan jika tradisi ini dihilangkan tanpa alternatif yang jelas. Ia berargumen bahwa rangkaian Pembinaan Mahasiswa Hukum (PMH) yang panjang belum cukup untuk membangun keakraban yang solid di antara ribuan mahasiswa baru.
“Inaugurasi adalah tempat di mana kami bisa menjalin harmonisasi bersama. Kami berada di posisi baru transisi dari siswa ke mahasiswa dan sangat butuh wadah yang sudah tersedia untuk saling bersinergi,” ungkap Jefri. Ia juga menyatakan bahwa mayoritas teman-teman di angkatan Grundnorm tidak setuju jika inaugurasi ditiadakan.
Meski terdapat perbedaan pandangan yang tajam, Dzaky selaku Presiden BEM, menegaskan bahwa pihaknya tetap memberikan ruang bagi angkatan 2025 untuk menentukan masa depan mereka sendiri tanpa intervensi berlebih dari senior. Jika angkatan Grundnorm tetap ingin melaksanakan secara mandiri, pihak BEM menyatakan akan tetap memberikan dukungan secara moral. (Jkw)


