Makassar, Eksepsi Online – (03/03) Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa Universitas Hasanuddin menggelar aksi solidaritas di depan Pintu 1 kampus, Selasa malam (3/3/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai respons atas meninggalnya seorang pemuda yang diduga akibat penembakan oleh oknum aparat kepolisian pada Senin, 1 Maret 2026.
Peristiwa penembakan tersebut diduga melibatkan oknum dari Polsek Panakkukang, jajaran Polrestabes Makassar. Korban dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak. Kasus tersebut memicu perhatian publik serta mendorong mahasiswa untuk menyatakan sikap.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyalakan lilin sebagai simbol duka cita sekaligus bentuk protes. Sejumlah massa aksi juga menyampaikan orasi yang menuntut penghentian kekerasan oleh aparat serta penegakan hukum yang transparan dan adil.
Tofik, salah satu massa aksi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan aksi yang telah dikonsolidasikan dan menuntut dihentikannya kekerasan aparat negara yang dinilai semakin sering terjadi.
“Ini adalah aksi yang terkonsolidasi. Salah satu latar belakangnya adalah peristiwa dua hari lalu, di mana menurut kami aparat tidak menindaklanjuti secara hukum, tetapi langsung mengambil nyawa seseorang. Aksi ini bentuk solidaritas terhadap korban dan pernyataan sikap bahwa kekerasan aparat negara semakin sering terjadi,” ujarnya.
Tofik juga menyatakan agar seluruh bentuk kekerasan oleh aparatur negara dihentikan dan proses hukum ditegakkan secara adil.
“Tegakkan keadilan sebaik-baiknya kepada masyarakat dan berikan hak untuk hidup damai dan adil sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya. (Pqi)


