Makassar, Eksepsi Online – (24/8) Tim RIASEC for Future Universitas Hasanuddin melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora 2026 (PKM-RSH 2026 ) mengangkat penelitian berjudul “Mengungkap Kontruksi Remaja Pelaku Tawuran di Kota Makassar melalui Social Identity Theory dan Merumuskan Model RIASEC sebagai Solusi Pencegahan Tawuran.”, dengan memandang bahwa fenomena tawuran remaja bukan hanya sebatas bentrokan, melainkan tentang kelompok yang ingin diterima, dalam pencarian identitas, hingga bagaimana arah hidup seorang remaja.
Penelitian ini menggunakan Social Identity Theory untuk memahami bagaimana identitas sosial terbentuk serta bagaimana pengaruh kelompok dapat berperan dalam keterlibatan remaja pada aksi tawuran dan melakukan sesi wawancara semi-terstruktur dengan remaja pelaku tawuran dan orang terdekat mereka sebagai informan pendukung.
Model RIASEC hadir sebagai bagian penting dalam penelitian ini untuk memetakan minat serta potensi remaja, sehingga mereka dapat diarahkan ke aktivitas yang lebih positif dan sesuai dengan karakter pribadinya. Dengan mengintegrasikan Social Identity Theory dan RIASEC, penelitian ini menghubungkan pemahaman tentang identitas sosial dengan strategi pencegahan tawuran. Melalui Integrasi keduanya, penelitian ini berupaya menghubungkan pemahaman mengenai identitas sosial dengan strategi pencegahan tawuran.
Bagi tim, pencegahan tawuran bukan sekadar melarang atau menghentikan aksi kekerasan. Lebih dari itu, remaja butuh ruang untuk mengenali siapa dirinya, menggali potensi yang dimiliki, dan membentuk identitas yang sehat di tengah lingkungan yang mendukung.
Hal ini dikarenakan adanya potensi yang layak ditemukan di balik setiap remaja. Tim yakin bahwa langkah pertama untuk mencegah tawuran bukan hanya dengan menjauhkan mereka dari kelompok yang salah, tetapi membantu mereka menemukan ruang yang tepat untuk bertumbuh. (Hcl)


