Oleh :Muh Abi Dzarr Al Ghiffariy
Ada kegelisahan yang cukup mengganggu belakangan ini. Dan sebenarnya saya sendiri pun belum sepenuhnya bebas dari apa yang saya khawatirkan itu. Menyoal bagaimana kultur kepenulisan kita, utamanya di kalangan mahasiswa dan organisasi kampus, lambat laun tergerus sendiri jiwanya gara-gara Akal Imitasi (AI). Perlu saya akui dari awal, saya bukan orang yang anti terhadap AI, bahkan saya termasuk yang menganjurkan penggunaannya.
Banyak manfaatnya, harus diakui. Entah mungkin untuk efisiensi, membantu menyelesaikan tugas yang menumpuk, atau mempercepat pekerjaan. Tapi perlu didudukkan bahwa itu ada bedanya, antara memakai AI sebagai alat bantu, dengan menyerahkan seluruh proses berpikir dan menulis kepadanya. Dan sayang bahwa batas-batas itu makin tidak tampak saja.
Rasa resah itu mulanya dari banyaknya rilis, banyaknya pemberitaan yang muncul di linimasa media sosial saya. Coba seksama diperhatikan tulisan-tulisan yang beredar itu, entah unggahan dari UKM, rilis dari BEM, berita-berita ringan, sampai mungkin tulisan yang diterbitkan Lembaga Pers Mahasiswa. Ada pola yang sering terlihat serupa kalau diperhatikan. Struktur kalimatnya mirip, pilihan katanya mirip, bahkan cara membuka dan menutup argumennya pun mirip. Sebagian besar dari tulisan tersebut, kelihatan sekali memakai AI sebagai basis penulisannya.
Ini yang mengkhawatirkan, bukan karena AI-nya yang problematik. Memang karena kitanya sebagai penulis, tampak perlahan kehilangan kemampuan, atau bahkan kemauan, untuk merumuskan gagasan dengan cipta-karya sendiri.
Dipikir-pikir lagi, permasalahan ini cukup masuk akal ketika melihat tekanan yang dihadapi organisasi mahasiswa maupun lembaga pers kampus. Tuntutan produksi konten hari ini luar biasa tinggi. BEM harus rutin bikin rilis sikap, UKM harus aktif mengisi linimasa media sosial, LPM harus terus menerbitkan berita biar tetap relevan dan dibaca orang. Belum lagi menyoal tuntutan akademik, atau bahkan penyensoran yang dilakukan oleh dekanat.
Nah, di tengah tekanan semacam itu, AI tak ubahnya jalan pintas paling masuk akal. Karena ya memang segampang itu! Tinggal masukan topik, minta draf, edit sedikit, lalu terbit. Cepat, efisien, dan se rapi itu hasilnya.
Masalahnya, kerapian itu justru yang jadi soal sebenarnya. Tulisan hasil AI, meskipun sudah diedit, sering tetap ikut jejak khasnya sendiri. Pola kalimat terlalu simetris, argumennya terlalu netral padahal temanya agitatif, mabuk konjungsi korelatif “bukan hanya…melainkan” dan paling terasa, tidak ada jiwa yang biasanya jadi ciri khas tulisan-tulisan yang diolah langsung oleh semangat menulis. Padahal dimensi dari tulisan agitatif itu kekuatannya justru ada di keberpihakan dan emosi. Ini yang bikin saya berpikir, jangan-jangan kita sedang pelan-pelan kehilangan sesuatu. Yaitu kemampuan untuk marah, kecewa, atau bersemangat lewat tulisan kita sendiri, dengan cara kita sendiri pula.
Padahal, tulisan punya fungsi lain yang malahan lebih penting, yaitu membangun identitas dan keberpihakan. Ketika misalnya BEM menerbitkan rilis sikap, yang dibaca publik bukan cuma isi tuntutannya. Khalayak pembaca juga turut membaca bagaimana cara BEM itu menyampaikan sikapnya, apakah punya ketegasan, apakah bersemangat, apakah punya karakter yang khas. Begitu juga dengan LPM, pembaca bisa membedakan gaya tulisan dan keberpihakan satu LPM dengan LPM lain, karena dari situlah identitas mereka terbentuk selama ini.
Jika semua tulisan itu berangkat dari basis yang sama, yaitu AI, maka lama-lama identitas tersebut pun luntur juga. Semua lembaga, semua bendera jadi kelihatan “sama” dalam cara bicaranya, padahal kan seharusnya mereka punya karakter, sejarah, dan cara pandang yang berbeda-beda satu sama lain. Ini yang menurut saya bakal menjadi kerugian jangka panjang.
AI kalau kita pakai untuk membantu berpikir, itu sah-sah saja menurut saya. Tapi kalau AI dipakai sebagai pengganti proses berpikir itu sendiri, nah di situ kultur kepenulisan kita mulai tergerus pelan-pelan. Sayangnya, dari yang saya amati, kebiasaan ini yang makin sering terjadi. Terutama di lingkungan yang dituntut produktif terus-menerus.
Kondisi di mana ini terus berlangsung, akan membentuk kebiasaan kerja. Anggota baru membuat tulisan dengan cara meminta GPT, Claude, Gemini untuk membuatkan draf dan langsung copy saja kemudian upload. Pengurus berikutnya menggunakan pola yang sama karena muncul anggapan kalau tulisan sebelumnya sudah cukup baik. Lama-lama proses belajar menulis yang dulu berlangsung lewat koreksi, meja redaksi, sampai proses revisi berulang, digantikan oleh proses yang jauh lebih singkat melalui prompt, prompt, prompt, copy ke word, upload.
Belum lagi soal kemampuan menulis itu sendiri sebagai sebuah keterampilan. Kalau terus-menerus kita menisbahkan proses menulis kepada AI, kemampuan untuk menyusun argumen, memilih diksi yang tepat, juga membangun alur berpikir koheren, ya akan menurun juga jadinya. Jatuhnya ada kompetensi dasar yang seharusnya terus diasah, malah tidak terlalu dipedulikan. Apalagi bagi teman-teman mahasiswa yang banyak dihadapkan dengan tulisan-tulisan akademis, entahkah itu skripsi, artikel jurnal, maupun dokumen-dokumen hukum.
Kebiasaan itu, dalam kondisi yang terus menerus dilakukan, akan turut andil membentuk kebiasaan yang membuat kita semakin jarang menggunakan kemampuan menulis yang sebenarnya kita bisa asah. Kultur kepenulisan lambat laun mati dan kebiasaan kita telah membunuhnya!
Tidak langsung juga saya mau terjebak pada posisi yang menolak AI mentah-mentah. AI, kalau dipakai dengan tepat, malahan bisa jadi alat yang membantu kita berpikir, membantu merapikan struktur argumen, menyusun kerangka, atau bahkan jadi partner brainstorming buat menguji logika tulisan sebelum benar-benar ditulis. Yang jadi masalah adalah bagaimana kita sebagai penulisnya menempatkan diri pada proses itu.
Saya kira, menyoal solusi juga tidaklah dengan melarang penggunaan AI sama sekali, karena memang pelarangan itu, di tengah teknologi yang semakin berkembang, tidak realistis. Dirasa perlu justru bagaimana membangun kesadaran di kalangan penulis, terkait kapan dan bagaimana AI seharusnya dipakai.
Saya pribadi sebagai individu yang turut menggunakan alat ini juga terus belajar untuk lebih sadar, kapan benar-benar menulis dan kapan cuma menyusun ulang apa yang dihasilkan AI. Ini proses yang tidak mudah, apalagi di tengah tuntutan waktu dan kerjaan yang makin ketat belakangan.
AI itu alat, dan seperti alat pada umumnya, ia bisa membantu atau justru menggantikan, tergantung siapa yang memegangnya. Saya yakin kalau AI punya tempatnya dalam proses kerja, termasuk dalam menulis. AI sah-sah saja membantu merapikan, mempercepat, atau menyusun ide awal semata. Kalau-kalau sampai pada bagian “ruh” dari sebuah tulisan, menurut saya bagian itu perlu sentuhan langsung dari manusia sebagai penulisnya. Tentu saja, upaya untuk membangun budaya menulis itu tidaklah mudah. Namun, jika dibiasakan, kita bisa menghidupkan kembali kultur tersebut sebagaimana mulanya.


