Oleh: Juwa
Call Me by Your Name merupakan film yang menggambarkan perasaan, kedekatan, dan keraguan melalui hubungan Elio dan Oliver. Film ini membawa penonton mengikuti perasaan Elio yang perlahan tumbuh, sekaligus kebingungannya dalam memahami apa yang sebenarnya ia rasakan dan bagaimana Oliver memandang hubungan mereka.
Salah satu kalimat yang paling melekat dari film ini adalah, “Is it better to speak or to die?”. Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai pertanyaan tentang keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini disimpan. Kata “die” tidak harus dipahami sebagai kematian secara harfiah. Ia dapat menggambarkan keadaan ketika seseorang terus memendam perasaan hingga dirinya sendiri yang merasa hancur secara emosional. Sementara itu, “speak” menjadi pilihan untuk mengatakan apa yang sebenarnya dirasakan, dengan segala risiko yang mungkin mengikuti setelahnya.
Keraguan Elio terasa kuat sepanjang film. Ia memiliki perasaan kepada Oliver, tetapi tidak pernah benar-benar yakin dengan apa yang akan terjadi jika perasaan itu diungkapkan. Setiap perhatian dapat menimbulkan harapan, sementara setiap jarak dapat kembali membuatnya ragu. Perasaan tersebut membuat Elio berada dalam keadaan yang serba tidak pasti. Ia ingin mengetahui jawabannya, tetapi pada saat yang sama takut terhadap jawaban tersebut.
Keraguan seperti itu terasa dekat dengan kehidupan manusia. Ada kalanya seseorang memilih diam karena merasa diam lebih aman. Selama tidak mengatakan apa-apa, kemungkinan ditolak terasa lebih kecil. Namun, pertanyaan tetap tinggal di kepala. Bagaimana jika saat itu berbicara? Bagaimana jika ternyata perasaan tersebut diterima? Bagaimana jika kesempatan itu tidak datang untuk kedua kalinya?
Melalui hubungan Elio dan Oliver, film ini memperlihatkan bahwa keberanian untuk berbicara selalu memiliki konsekuensi. Mengungkapkan perasaan dapat membawa kebahagiaan, tetapi juga dapat menghadirkan kehilangan. Diam pun memiliki konsekuensi sendiri. Seseorang mungkin dapat mempertahankan keadaan untuk sementara waktu, tetapi tetap harus hidup bersama rasa penasaran dan kemungkinan yang tidak pernah diketahui.
Pada akhirnya, “Is it better to speak or to die?” terasa seperti pertanyaan yang ditujukan kepada siapa saja yang pernah berada dalam keraguan. Ada perasaan yang ingin disampaikan, ada ketakutan yang menahannya. Call Me by Your Name membuat pertanyaan tersebut terasa semakin nyata karena perasaan dalam film ini tidak selalu hadir dengan kepastian. Ada keberanian, ada ketakutan, ada waktu yang terus berjalan, dan ada hal-hal yang mungkin baru dipahami setelah semuanya berlalu.
Bagi penulis, kekuatan film ini terletak pada kemampuannya menggambarkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Terkadang seseorang sudah mengetahui apa yang ia rasakan, tetapi masih membutuhkan keberanian untuk mengakuinya. Pada titik itu, berbicara menjadi pilihan yang menakutkan sekaligus melegakan. Sebab setidaknya, setelah berbicara, kita tidak lagi harus terus bertanya-tanya tentang apa yang mungkin terjadi namun lagi-lagi kita mesti membayar jikalau hal yang ditakutkan benar terjadi.


