web analytics
header

Doa Yang Tertinggal

WhatsApp Image 2021-11-14 at 21.14.01
google.com

Oleh:

Aulia Ayu Permatasari

Deru ombak bagaikan alunan indah yang mengiringi langkahku di bibir pantai. Aku berhenti dan menatap lurus laut yang aku tak tahu di mana dan bagaimana ujungnya. Kubiarkan gelungan ombak mengenai kaki hingga sebatas lututku. Lalu kupejamkan mata dan merasakan semuanya, berharap segala rasa muak yang menumpuk turut tersapu ombak hingga jarak terjauh dan terdalam di lautan.

Ish! Baru juga pergi bentar udah disuruh pulang,” kesal Syifa saat ia melihat gawainya yang menampilkan pesan dari ayahnya. Kulihat dia tak membalas pesan itu dan malah langsung mematikan gawainya.

“Kenapa gak lo bales?” tanyaku yang kembali menatap lurus ke depan. Terdengar dengusan sebal darinya. Kakinya sibuk menendang kecil air pantai.

“Males. Ribet banget tahu gak sih punya strict parents, Ra?! Banyak hal yang dilarang sama mereka. Lo bayangin aja, baru juga pergi udah disuruh pulang aja. Bosen tahu di rumah terus!” katanya dengan nada yang agak tinggi membuatku seketika tersenyum tipis mendengarnya.

Syifa memang mempunyai orang tua yang begitu menjaganya dengan ketat. Sering ia mengeluh padaku dengan sikap orang tuanya yang overprotektif kepadanya. Katanya, ia tak bebas untuk mengeksplorasi dunia ini karena batasan orang tuanya.

“Fa, jawab chat dan kasih pengertian ke mereka gak sesusah itu kok. Iya sih kalau mereka bakal tetep maksa lo untuk pulang, tapi lo bisa kasih pengertian kalau lo butuh main sebentar. Gue cuman gak mau kalau lo sampe nyesel suatu hari nanti gak dapet chat dari orang tua lo lagi, Fa,” ujarku padanya yang mencoba dengan pelan memberinya pengertian.

Aku mengelus pelan pundaknya seraya berkata, “Gue ngomong gini bukan berarti gak ngerti sama apa yang lo rasa, Fa. Mau gimanapun mereka itu orang tua lo dan gak akan terganti sama siapapun. Gue yakin mereka bakal ngerti kalau lo ngejelasin dengan halus dan tutur kata yang baik.” Aku tersenyum lembut saat melihatnya hanya mengangguk pelan dan mulai membalas pesan dari ayahnya.

“Balik, yuk?” ajak Syifa setelah beberapa saat kami hanya terdiam menikmati hembusan angin dan aku yang berangan-angan bisa menyelam hingga ke dasar laut untuk mengeksplor penghuni yang ada di dalamnya.

“Dul–”

“Sekarang, Ra!”

Aku menghembuskan napas pelan namun kasar. Pulang bukanlah hal yang menyenangkan bagiku. Disaat semua anak pulang untuk mencari ketenangan, tapi untukku ketenangan itu hanyalah semu semata. Argumen ayah dan ibu yang saling menyakiti selalu menjadi hidangan malam yang menyambut kedatanganku. Setiap anak memang memiliki rumah dan aku percaya itu, tapi tak semua rumah memiliki warna yang cerah.

“Besok kita wisuda, Ra, dan kita harus istirahat. Ayo pulang! Udah mau maghrib juga,” ajaknya lagi yang kali ini sambil menarikku untuk beranjak pergi. Aku menurut saja, namun langkah kakiku terasa berat seakan mendukungku untuk tetap tinggal demi kesehatan batinku.

Syifa memang tak tahu carut-marutnya keadaan keluargaku. Ia juga tak tahu bagaimana aku hidup di tengah-tengah kedua orang tua yang utuh, namun hancur. Bukan salahnya. Salahku karena berlagak kuat dengan segalanya. Menganggap bahwa semua masalahku lebih baik kusimpan sendiri. Yang selalu meyakinkan diri bahwa memang Tuhan seyakin itu dengan pundakku.

***

Seperti malam-malam biasanya, malam inipun rumah seakan mendapatkan gempa lokal. Tak ada barang yang tersusun rapi di tempatnya. Semua terhambur begitu saja di lantai dengan bentuk yang sudah seharusnya dibuang.

Dua orang paruh baya berdiri dengan tangan yang saling menunjuk satu sama lain. Wajah keduanya sampai memerah karena sibuk bertukar makian dengan nada yang sudah tak terkontrol lagi.

“Ini juga anakmu jam segini baru pulang!” ujar ayah saat ia tak sengaja melihatku. Ibu menoleh ke arahku setelah mendengar ucapan ayah dan langsung menghampiriku dengan langkah lebarnya. Tak kusangka jika ibu akan menarik telingaku dengan kasar dan menyeretku menuju sofa yang ada di ruang tengah. Dilemparnya diriku dengan kasar dan tubuhku kembali menjadi samsak bagi ibuku. Ayahpun hanya diam tak acuh dengan segala perlakuan dan makian pedas dari ibuku.

Tak pernah kumencoba untuk melawan dari segala perlakuan keduanya. Aku sanggup, tapi enggan melakukannya. Hanya dengan cara ini mereka memperhatikanku. Katakan saja aku bodoh karena mau dijadikan objek kekerasan orang tuaku sendiri, tapi aku tak peduli dengan semua itu.

Aku dituntut untuk selalu mengerti, tapi orang tuaku tidak pernah mau mengerti apa yang kuinginkan. Yang kuinginkan sederhana sebenarnya. Hanya kasih dan sayang. Sesibuk apapun mereka, jika keduanya memiliki rasa kasih dan sayang pastinya akan selalu ada waktu untuk anaknya. Lagi-lagi semua itu hanya semu semata.

***

Esok paginya, sorak kebahagiaan memenuhi penjuru aula sekolahku saat kepala sekolah menyatakan bahwa seluruh murid kelas XII dinyatakan lulus. Dengan tubuh terbalut kebaya, aku duduk di barisan belakang dengan Syifa yang sibuk bercengkrama bersama orang tuanya.

“Nak Heera kok datang sendiri?” tanya mama Syifa padaku setelah beberapa saat aku hanya diam di samping Syifa. Aku menoleh dan tersenyum hangat sebagai bentuk rasa hormatku padanya.

“Iya, Ma. Ayah ibu ada keperluan pekerjaan di luar kota,” jawabku yang tentunya berbohong. Nyatanya mereka tadi pagi ada dan sibuk dengan tumpukan kertas dan dering telepon dari rekan kerja keduanya. Bahkan saat aku berpamitan dan mencoba untuk mengajak mereka menghadiri wisudaku, mereka tak merespon sama sekali barang melirik sekilaspun.

Mama Syifa hanya merespon tersenyum sambil mengelus pelan tanganku. Begitu juga dengan Syifa yang mengelus pelan pundakku. Serangkaian acarapun mulai berjalan hingga tiba saat pengumuman lulusan terbaik dengan nilai tertinggi tahun ini.

“Lulusan terbaik dengan perolehan nilai sempurna 40,00, berhasil diraih oleh Heera Nanda Yocelyn XII MIPA 2. Kepada ananda dipersilahkan untuk maju.” Kepala sekolah mendeklarasikan dengan lantang seakan bangga dengan perolehan tersebut. Seluruh penjuru memandangku. Aku yang menjadi pemeran utama di sini tidak merasakan euforia yang sama.

Dengan terpaksa aku maju. Berdiri di atas podium dengan ratusan pasang mata tertuju padaku, membuatku merasa kecil. Sejenak kupandang jejeran para guru yang memandangku dengan sorot bangganya. Namun bagiku, sorot itu tak berarti apapun saat orang tuaku saja bahkan tak mengerti jika aku sudah lulus pendidikan jenjang SMA.

Segala prestasi yang kuraih selama menempuh jenjang pendidikan tak lain hanya untuk membanggakan ayah dan ibu. Berharap mereka akan bangga padaku dan berhenti menganaktirikanku dengan pekerjaan dan argumen pedas mereka. Ternyata aku salah. Sebagus apapun nilaiku, sebanyak apapun medali dan pialaku, sebanyak apapun pujian orang terhadapku, tetap saja tak mampu membuka mata hati orang tuaku. Mereka sudah buta dan tuli. Asumsi yang selalu singgah menyerangku adalah aku hanyalah beban dan kehadiranku tak pernah diharapkan oleh mereka. Aku emas di mata orang lain, namun sampah di mata orang tuaku.

***

Tak ada lagi tempat pelarianku yang paling menenangkan selain pantai. Kali ini aku memilih ke pantai yang jauh dari kota dengan suasana yang begitu sepi dan tenang. Dengan pakaian yang sudah berganti dengan celana dan jaket, aku duduk di tepi tebing. Angin siang hari ini tak tenang seperti biasanya.

Sesak rasanya dadaku saat mengingat obrolan ayah dan ibu tadi pagi yang terdengar hingga ke kamarku. Dengan sangat egois mereka memutuskan untuk berpisah. Kapal ini sudah hilang arah. Sang nahkoda yang memilih berhenti lalu berganti arah membuatku hanya mampu terdiam. Ibupun dengan lantang menyetujui perceraian itu.

Lalu aku bisa apa? Aku hanya mampu terdiam di antara keduanya tanpa bisa memilih yang mana. Bagaimana bisa seorang anak harus memilih di antara kedua surganya? Tapi memang sepertinya surga itu bukan lagi untukku.

Kutatap hamparan langit seakan aku akan beradu dialog dengan Tuhanku. Kubiarkan diri ini bersuara lantang, “Tuhan?! Kau biarkan aku terdorong menjadi dewasa oleh usia! Dituntut kuat oleh keadaan! Dan dipaksa bertahan demi mimpi! Aku kuat, kok Tuhan! Tapi aku lelah. Sekarang … yang kubutuhkan hanya pelukan tanpa ‘kenapa’, ya Tuhan. Boleh ya?” Tangisan tak terbendung lagi. Kuluapkan semua pada debur ombak yang memecah bebatuan, pada angin yang berebut untuk saling mengisi ruang, pada hamparan langit yang tak berujung, dan pada diri yang selalu mencoba untuk menegakkan tubuh serta mempertegas pandangan.

Kuambil foto keluarga saat aku masih kecil dari saku jaketku. Kupandangi setiap manusia yang terabadikan dengan indah di dalamnya. Kuusap pelan tiap wajah orang tuaku sambil membayangkan bahwa mereka adalah suatu hal yang nyata.

“Tuhan …  . Sepertinya ada doaku yang tertinggal karena aku terlalu pelupa dan egois. Doa yang selalu kupanjatkan untuk kedua orangtuaku sejak aku kecil sampai kemarin adalah dipanjangkan dan diberkahinya umur mereka. Tapi aku lupa meminta pada-Mu untuk menjaga hubungan pernikahan mereka,” ucapku terjeda. Kuhirup rakus oksigen di sekitarku saat kurasakan dadaku semakin sesak rasanya. “Aku tak membenci kalian yah, bu. Aku benci perceraian dan itu salahku … salahku karena doaku tertinggal untuk kalian,” sambungku dengan suara yang semakin pelan.

Aku tak tahu lagi akan bagaimana hidupku ke depannya saat surgaku sudah terpecah belah. Yang kutahu saat ini hanyalah menangis dan meluapkan semuanya. Tak mungkin aku tetap memendam semuanya dan berlagak kuat untuk meneruskan hidupku. Aku harus membuang semuanya dan setelah itu aku akan mulai berjalan kembali di dunia yang katanya keras ini. Terima kasih untuk diriku sendiri karena masih mau berjuang sekali lagi.

***

Related posts:

Seling

Oleh: Imam Mahdi A Suara angin malam melambai,Di kegelapan, hati semakin teriris abai.Akhirnya kembali bertemu, meski hanya di alam maya,Namun

Sumber: Ilustrasi Penulis

DESEMBER KETIGA

Oleh: Nur Fadliansyah Abubakar dan A. Wafia Arwan Pabokori Terdiam ketika bahagiaTerberontak ketika bersalahBingungTapi itulah adanya Namun sulit hendak pergiNamun

GARIS TAKDIR

Oleh: Imam Mahdi A Lekas lagi tubuhku melangkahMelawan hati yang gundahKe ruang samar tanpa arah Sering kali, ragu ini menahan