Oleh : Mei Salwa Asahara
Dulu, negeri ini dinyalakan oleh cahaya,
Api yang membakar dalam dada mereka yang percaya,
Bahwa hukum adalah pagar, bukan belenggu.
Bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak mutlak.
Tapi lihatlah kini,
Nyala itu meredup dalam kepungan bayang,
Mereka menyusun takdir di ruang-ruang gelap,
Menulisnya dengan pena yang bergetar.
Api itu bukan lagi cahaya,
Melainkan bara yang menyelinap di balik seragam,
Membakar dalam diam, menghanguskan dalam aturan,
Mereka menyebutnya hukum,
Padahal ia tak lebih dari rantai,
Yang membelenggu mereka yang tak bersuara.
Seragam semakin luas jejaknya,
Bukan hanya di barak, bukan hanya di medan tempur,
Perlahan tapi pasti,
Tembok pemisah itu semakin tipis.
Dan sekarang kita berdiri di tepi jurang yang sama,
Melihat tangan besi perlahan mengenggam lebih erat,
Melihat hukum semakin tunduk pada kepentingan,
Melihat suara-suara lantang diredam dengan elegan.
Lalu, ke manakah lentera yang pernah dijanjikan?
Di sudut mana nyala itu kini bersembunyi?
Jika hukum menjelma api yang melahap jalan,
Haruskah kita pasrah menjadi arang di negeri yang kelelahan?