web analytics
header

Perfect Days: My World, Your World, Their World

Oleh: Muhammad Thariq Zakwan

“The world is made up of many worlds; some are connected, and some are not.”

Hirayama hidup dalam dunianya sendiri. Sebuah dunia yang kecil, sederhana, dan nyaris sepenuhnya dibangun dari rutinitas: pekerjaannya sebagai petugas kebersihan toilet, tanaman-tanamannya, buku-buku yang ia baca, kaset-kaset musik yang ia dengarkan, kamera yang ia gunakan untuk memotret pepohonan, hingga sebuah pohon yang selalu ia kunjungi setiap hari. Tidak banyak yang ada di dalam dunia itu, tetapi bagi Hirayama, rasanya sudah cukup. Lengkap, dengan caranya sendiri.

Namun, Perfect Days tidak pernah benar-benar hanya bercerita tentang dunia Hirayama. Film Wim Wenders ini perlahan memperlihatkan bahwa setiap manusia juga hidup di dalam dunianya masing-masing. Dunia-dunia tersebut terus bergerak berdampingan: terkadang bersinggungan, terkadang saling memotong, dan sering kali hanya melewati satu sama lain tanpa pernah benar-benar bertemu.

Sepanjang film, kita mengikuti dunia Hirayama ketika bertemu dengan dunia-dunia lain dan melihat bagaimana ia menyikapinya.

Dunianya bertemu dengan Aya melalui sesuatu yang sederhana: kecintaan mereka terhadap kaset musik, terutama Patti Smith. Dunia Hirayama dan Takeshi sempat bersinggungan, meskipun keduanya terasa begitu berbeda. Hirayama tidak benar-benar memahami dunia Takeshi, tetapi ketika ia melihat betapa berartinya Takeshi bagi Dera-chan, ia memilih untuk menghormatinya. Ia juga berkali-kali memperhatikan dunia seorang gelandangan yang sering ia lihat di taman. Ia tidak mengenalnya, tidak berbicara dengannya, tetapi ia cukup mengapresiasi keberadaan orang tersebut dari kejauhan.

Ada pula perempuan yang selalu makan siang di taman yang sama dengannya. Mereka tidak memiliki percakapan sama sekali, tetapi rutinitas yang sama membuat dunia mereka bertemu dalam bentuk yang paling sederhana: duduk berdekatan, makan, dan menikmati waktu masing-masing.

Kemudian ada Niko. Dunia Niko untuk sesaat benar-benar masuk ke dalam dunia Hirayama. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi perjalanan, bermain, membantunya dalam pekerjaan, dan menikmati hal-hal sederhana. Tetapi pertemuan itu pun tidak berlangsung selamanya. Dunia mereka kembali berjalan ke arah masing-masing.

Yang paling kontras mungkin adalah pertemuan Hirayama dengan Keiko, saudara perempuannya sekaligus ibu Niko. Keiko datang dari dunia yang hampir berlawanan dengan milik Hirayama, lebih mewah, lebih mapan, dan lebih dekat dengan kehidupan yang dahulu mungkin pernah ia jalani. Namun perbedaan itu seketika menjadi tidak penting ketika mereka berpelukan. Untuk sesaat, dua dunia yang begitu berbeda kembali menyatu hanya karena satu hal yang jauh lebih sederhana: mereka adalah keluarga.

Menariknya, hampir selalu dunia Hirayama-lah yang didatangi. Dunia-dunia lain masuk ke dalam ruang kecil yang selama ini ia bangun untuk dirinya sendiri. Dan melalui setiap pertemuan tersebut, film perlahan memperlihatkan bagaimana Hirayama mempertahankan dunianya tanpa pernah benar-benar menutup diri terhadap dunia di luar dirinya.

Ada satu momen ketika ia justru melakukan hal sebaliknya. Hirayama bertemu dengan seseorang yang hidupnya tidak akan berlangsung lama karena kanker. Untuk sesaat, ia keluar dari batas dunianya sendiri dan masuk ke dunia orang lain. Mereka berbicara. Mereka bermain. Mereka berbagi waktu yang, bagi orang tersebut, mungkin jauh lebih berharga daripada yang Hirayama sadari.

Semua ini membawa kita pada sequence terakhir film.

Ketika “Feeling Good” milik Nina Simone mulai mengiringi perjalanan pagi kerja Hirayama, wajahnya perlahan menjadi pusat perhatian kamera. Dan sequence ini terasa begitu indah justru karena Hirayama tidak menunjukkan satu emosi yang sederhana.

Ada kebahagiaan di sana. Ada kesedihan, kerinduan, ketakutan, penerimaan, bahkan mungkin sebuah kesadaran bahwa dunia yang selama ini ia jaga dengan begitu rapat tidak akan pernah benar-benar bisa terisolasi dari dunia lain.

Kamera perlahan mendekati wajahnya, tetapi tidak pernah memberikan kita sebuah jawaban pasti tentang apa yang sedang ia rasakan. Wenders tidak meminta kita untuk menentukan apakah Hirayama bahagia atau sedih. Ia hanya memperlihatkan seseorang yang, mungkin untuk sesaat, menjadi semakin sadar bahwa ada dunia-dunia lain di luar dunianya sendiri.

Dan mungkin di situlah Perfect Days menemukan makna “kehidupan yang sempurna”.

Mungkin kehidupan yang sempurna bukanlah kehidupan di mana tidak ada yang berubah, tidak ada yang mengganggu rutinitasmu, dan kamu bisa terus berada dengan aman di dalam duniamu sendiri. Mungkin kehidupan yang sempurna justru adalah kehidupan di mana kamu belajar menghargai duniamu sendiri, sembari tetap bersedia, sesekali, untuk keluar darinya dan menyentuh dunia milik orang lain.

Sebagian besar hidup kita mungkin memang dihabiskan dengan saling melewati satu sama lain. Kita berbagi jalan, kereta, tempat kerja, taman, restoran, bahkan seluruh kota, tetapi tetap menjadi orang asing yang hidup di dalam semesta kita masing-masing.

Terkadang semesta-semesta itu bersinggungan. Terkadang tidak. Terkadang kita hanya mendapatkan sekilas pandangan tentang kehidupan seseorang, sebuah percakapan singkat, sebuah senyuman, sebuah lagu yang kebetulan sama-sama kita sukai, atau sekadar duduk di tempat yang sama setiap siang. Kita melihat sedikit bagian dari dunia seseorang, menghargai apa yang kita lihat, lalu melanjutkan perjalanan.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Saya menangis ketika menulis bagian ini karena rasanya Perfect Days benar-benar memahami sesuatu yang begitu sederhana namun jarang dibicarakan: bagaimana dunia kita terus bertemu dengan dunia orang lain setiap hari. Kiri, kanan, hari ini, besok. Kita terus berpapasan dengan kehidupan orang lain tanpa pernah benar-benar mengetahui keseluruhannya.

Dan Wenders mampu membuat gagasan sebesar itu terasa begitu personal melalui filmmaking yang luar biasa terkendali. Dalam durasi yang terbatas, ia tidak membutuhkan drama besar untuk membuat kehidupan Hirayama terasa berarti. Rutinitas, komposisi gambar, penggunaan musik, tempo yang tenang, dan terutama kesediaannya untuk membiarkan momen-momen kecil berlangsung apa adanya, semuanya bekerja untuk membangun sebuah dunia yang sederhana tetapi terasa begitu hidup.

Pada akhirnya, mungkin Perfect Days bukan tentang bagaimana menemukan kehidupan yang sempurna.

Mungkin, film ini hanya ingin mengingatkan bahwa kehidupan kita, sesederhana apa pun, tetap merupakan sebuah dunia. Dan dunia itu cukup untuk kita cintai, selama kita tidak lupa bahwa di luar sana, ada dunia-dunia lain yang juga sedang menjalani harinya masing-masing.

Related posts:

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini