web analytics
header

Rata Kiri Kanan, Apa Esensinya Sudah Lurus?

Oleh: Alumni PMH

“We buat apa tugas tulis tangan begini? Paham nda, capek iya”

“Nda dibaca ji juga pasti itu.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana dan hanya seperti keluhan mahasiswa setelah menerima tugas PMH. Namun, bagi saya, kalimat tersebut justru menyimpan pertanyaan yang lebih besar: apa sebenarnya esensi dari tugas tulis tangan yang harus memenuhi kertas folio, bahkan sampai rata kiri-kanan?

Sebagai mahasiswa angkatan lalu yang sudah menjalani Pembinaan Mahasiswa Hukum (PMH) tahap 1 dan 2 bahkan telah dinyatakan sebagai KEMA Biasa, saya sudah tidak asing dengan tugas semacam ini. Yang ingin saya persoalkan bukanlah isi tugasnya, melainkan mengapa cara pengerjaannya harus dibuat sedemikian rupa. Kalau tujuan tugas adalah melatih mahasiswa memahami materi, menyampaikan gagasan, atau membangun kedisiplinan, kenapa tidak cukup ditulis secara normal selama isi dan ketentuannya terpenuhi?

Saya paham bahwa menulis tangan mungkin dapat melatih ketelitian dan kesabaran. Tetapi, kewajiban membuat tulisan sampai memenuhi seluruh kertas, bahkan sampai empat halaman dan rata kiri-kanan, tidak serta-merta membuat seseorang menjadi lebih disiplin, kritis, atau memahami materi dengan lebih baik. Pada titik tertentu, tugas tersebut justru terasa seperti memenuhi standar fisik kertas, bukan standar kualitas pemikiran.

Pasti akan ada yang bertanya, “Kenapa baru dibahas sekarang, padahal PMH sudah dilewati?” Jawaban saya sederhana: kenapa tidak dibahas sekarang? Justru karena saya sudah pernah melewatinya, saya punya pengalaman langsung untuk mempertanyakan hal tersebut. Selama menjalani PMH, saya tidak sedikit mendengar keluhan mahasiswa mengenai tugas seperti ini. Namun, apakah keluhan tersebut ditindaklanjuti? Setidaknya dari apa yang saya lihat, tidak ada perubahan. Buktinya, pada PMH 2026, tugas dengan pola yang sama masih diberikan.

Bagi saya, persoalannya bukan sekadar “capek menulis”. Kalau hanya soal capek, tentu itu bukan alasan yang cukup untuk mengkritik sebuah metode pengkaderan. Persoalannya adalah ketika sebuah metode terus dipertahankan, sementara keluhan dan pertanyaan mengenai esensinya terus muncul, tetapi tidak ada evaluasi yang jelas. Kalau setiap tahun mahasiswa mengeluhkan hal yang sama, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan mahasiswanya, melainkan metode yang digunakan.

Makanya, persoalan yang perlu dibicarakan bukan semata-mata mengenai “tugas tulis tangan”, tetapi mengenai relevansi antara metode pengkaderan dengan tujuan yang hendak dicapai. Tradisi dalam pengkaderan seharusnya tidak diterima begitu saja hanya karena telah dilakukan secara turun-temurun. Setiap bentuk penugasan perlu dievaluasi: apakah masih relevan, apa manfaatnya bagi mahasiswa, dan apakah terdapat metode lain yang dapat mencapai tujuan yang sama dengan lebih efektif.

Saya pernah menjalani dan mengikuti aturan tersebut. Karena itu, pertanyaan ini bukan muncul karena saya tidak tahu bagaimana prosesnya, tetapi justru karena saya pernah mengalaminya: apa nilai tambah dari harus membuat tulisan penuh dan rata kiri-kanan dibandingkan menulis secara normal?

PMH seharusnya menjadi ruang pembinaan yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, bukan hanya ruang untuk menguji kepatuhan terhadap instruksi. Sebab, pengkaderan yang baik bukan hanya menghasilkan mahasiswa yang mampu mengikuti aturan, tetapi juga mahasiswa yang memahami mengapa aturan itu dibuat dan apa tujuan yang ingin dicapai.

Kalau memang ada esensi di balik empat halaman dan tulisan yang harus rata kiri-kanan, maka sudah seharusnya esensi itu dapat dijelaskan.

Related posts:

Hentikan Saja Ruang Evaluasi Itu

Oleh: Juwa Dewasa ini, kita tidak lagi selalu menemukan ruang-ruang evaluasi—baik caturwulan maupun triwulan—sebagai tempat untuk memperbaiki apa yang telah

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini