Oleh: Khalilah Azalia Mumtazah
Kuakui, aku datang kepadamu sebagai pecahan kaca.
Dengan kepala yang dipenuhi ragu dan hati yang terbiasa luka,
aku menaruh seluruh beban masa laluku di atas pundakmu,
berharap kehadiranmu bisa menghapus semua bayangan buruk di kepalaku.
Aku percaya pada kebohongan yang kubuat sendiri,
bahwa cintamu adalah obat penawar yang kucari.
Namun, tanpa kusadari, harapan itu berubah menjadi racun.
Aku mulai menuntutmu menjadi penyembuh, bukan lagi sekadar kekasih.
Pikiranku kerap riuh oleh cemburu yang tak beralasan, membandingkan diriku dengan bayangan di masa lalumu,
lalu menangis dan memintamu terus meyakinkan bahwa aku layak untuk kamu cintai.
Kau sudah berusaha sekuat tenaga, memberikan pelukan terhangat untuk menenangnkanku.
Namun, betapa kejamnya aku yang tak pernah merasa cukup.
Aku terus memaksamu merawat luka yang tak pernah kau buat,
menjadikan ekspektasiku sebagai beban berat yang perlahan melukaimu.
Kini, aku tersadar dalam rasa bersalah yang teramat dalam;
Sebesar apa pun cintamu, itu tak akan pernah bisa jadi penyembuhnya.
Aku menyiksamu dengan harapanku sendiri…
karena memintamu membereskan kekacauan yang seharusnya kubenahi sendiri.


