web analytics
header

The Cure

Oleh: Khalilah Azalia Mumtazah

Kuakui, aku datang kepadamu sebagai pecahan kaca.
Dengan kepala yang dipenuhi ragu dan hati yang terbiasa luka,
aku menaruh seluruh beban masa laluku di atas pundakmu,
berharap kehadiranmu bisa menghapus semua bayangan buruk di kepalaku.

Aku percaya pada kebohongan yang kubuat sendiri,
bahwa cintamu adalah obat penawar yang kucari.

Namun, tanpa kusadari, harapan itu berubah menjadi racun.
Aku mulai menuntutmu menjadi penyembuh, bukan lagi sekadar kekasih.
Pikiranku kerap riuh oleh cemburu yang tak beralasan, membandingkan diriku dengan bayangan di masa lalumu,
lalu menangis dan memintamu terus meyakinkan bahwa aku layak untuk kamu cintai.

Kau sudah berusaha sekuat tenaga, memberikan pelukan terhangat untuk menenangnkanku.

Namun, betapa kejamnya aku yang tak pernah merasa cukup.
Aku terus memaksamu merawat luka yang tak pernah kau buat,
menjadikan ekspektasiku sebagai beban berat yang perlahan melukaimu.

Kini, aku tersadar dalam rasa bersalah yang teramat dalam;
Sebesar apa pun cintamu, itu tak akan pernah bisa jadi penyembuhnya.
Aku menyiksamu dengan harapanku sendiri…
karena memintamu membereskan kekacauan yang seharusnya kubenahi sendiri.

Related posts:

Lelana

Oleh: Tamara Syabani Ahmad Tatkala hujan luruh dari langit yang muram, semesta seolah merapal titah dalam bahasa yang tak terjamah

Aku Anak Pertama, “Perempuan”

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku anak pertama,“perempuan.” Lahir sebagai anak yang pertama kali mengenalkan ayah dan ibu pada arti menjadi orang

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini