Oleh: Claudia Aprilia
(Resensi Lagu “Red Swan by Yoshiki ft. Hyde” Opening Attack on Titan Season 3)
Sudah beberapa tahun berlalu sejak serial manga dan anime Attack on Titan mencapai akhir penayangannya. Namun, penulis masih belum bisa lepas dari efek melankolis yang ditinggalkan oleh kisah hidup Eren Yeager dan rekan-rekannya. Rasanya baru kemarin saat pertama kali iseng menontonnya karena tebersit rasa penasaran, lalu membawanya hingga sekarang dan jatuh hati pada salah satu lagu pembuka musim ketiganya, yaitu Red Swan.
Sebagai pengantar, Attack on Titan atau Shingeki no Kyojin (進撃の巨人) karya Hajime Isayama adalah sebuah mahakarya kelam tentang umat manusia yang terkurung di dalam dinding perlindungan dari teror para Titan. Musim ketiga serial ini menjadi titik balik yang sangat emosional: saat tirai penutup kedamaian palsu di dalam tembok mulai disibak, dan kebenaran pahit tentang dunia luar, sejarah bangsa Eldia, serta takdir kejam yang menanti para tokoh utamanya mulai terungkap.
Di sinilah lagu Red Swan yang dibawakan oleh Yoshiki feat. Hyde masuk sebagai pembuka, mengantar penonton bukan sekadar ke dalam medan laga, melainkan ke dalam palung emosi terdalam para karakternya.
Secara harfiah, Red Swan berarti “Angsa Merah”. Penulis melihat bahwa penamaan judul lagu ini merujuk langsung kepada dua tokoh sentralnya: Eren Yeager dan Mikasa Ackerman. Kata Red (merah) merepresentasikan selendang merah pemberian Eren kepada Mikasa sejak kecil, simbol ikatan yang bahkan hingga akhir hayat tetap dijaga dan dikenakan oleh Mikasa. Sementara itu, Swan (angsa) menyimbolkan Eren yang terbang mencari kebebasan mutlak meski harus mengorbankan segalanya, berdampingan dengan Mikasa yang terikat pada takdir untuk terus melindungi Eren, meski harus merelakan perasaannya sendiri. Alunan orkestra yang megah namun sendu dalam lagu ini menyiratkan bahwa akhir dari perjuangan mereka bukanlah kebahagiaan, melainkan sebuah perpisahan sarat air mata.
Lebih dari itu, judul ini juga memuat makna filosofis yang kontras. Seekor angsa melambangkan keindahan, kemurnian, dan cinta, sementara warna merah lekat dengan darah, amarah, dan ketakutan. Pada awal cerita, Eren adalah anak yang polos dan hangat. Namun, tragedi yang merenggut ibunya dan rekan-rekannya mengubahnya perlahan menjadi sosok dingin yang diam-diam merencanakan ‘pembebasan’—memvisualisasikan bagaimana warna merah menodai sang angsa yang awalnya suci.
Nuansa tragis ini semakin ditegaskan melalui perpaduan musikalitasnya. Jika lagu-lagu tema Attack on Titan sebelumnya seperti Guren no Yumiya mengusung semangat membara yang meledak-ledak, Red Swan memilih jalan yang berbeda. Perpaduan vokal Hyde yang lembut, melankolis, namun penuh daya hujah, berpadu sempurna dengan petikan gitar rock dan aransemen orkestra megah garapan Yoshiki. Kontras antara musik yang megah dan lirik yang menyayat hati menciptakan estetika tragedi (tragedy aesthetic) yang sangat kuat.
Ironi tersebut paling jelas terpancar pada bait lirik berikut:
“We’ll fly away / We’ll find a way / You can hide your fear / Can lie, my dear / We’ll see the end / We’ll be the end”
Eren merindukan kebebasan setelah menyaksikan orang-orang terdekatnya tumbang. Lirik tersebut menyuarakan impiannya untuk melihat akhir dari segala kekacauan. Namun ironisnya, kebebasan hakiki itu tak pernah benar-benar mereka miliki. Tidak ada jalan keluar yang mudah, dan tidak ada akhir bahagia yang tersisa. Semuanya harus dibayar dengan pengorbanan ekstrem Eren yang memutus garis darah Titan demi menyelamatkan teman-temannya.
Memang benar bahwa pada akhirnya rekan-rekan Eren dapat mengecap usia tua di dunia yang lebih damai. Tapi apakah Eren, sang juru kunci kebebasan itu sendiri, bisa menikmatinya? Sayangnya tidak. Ia terjebak dalam takdir yang kejam: mati karena kutukan kekuatan Titan, atau mati di tangan rencananya sendiri. Eren memilih opsi kedua, tewas di tangan pujaan hatinya, Mikasa. Selama Rumbling berlangsung, ia menutup mata karena tak sanggup menanggung rasa sakit akibat perbuatannya, tetapi di detik terakhir ia membuka matanya untuk menatap Mikasa, sebelum akhirnya terpejam untuk selama-lamanya. Sebuah adegan yang membuat penonton merasa seolah kamar mereka ikut basah oleh air mata.
Barangkali, kebebasan mutlak memang hanyalah sebuah angan. Bahkan dengan segala pengorbanan yang dikerahkan, dunia pasca-Titan tetap menyisakan luka, dan bayang-bayang siklus kehancuran seolah siap berulang kembali. Di situlah letak kejeniusan Hajime Isayama dan magisnya lagu Red Swan. Kebebasan yang diidamkan sejak awal tak pernah benar-benar terwujud dalam bentuk kebahagiaan. Kejeniusan Hajime lagi-lagi dibuktikan dengan manga Attack on Titan yang berakhir di chapter 139. Di Jepang sendiri, angka 140 berarti kebebasan, dan Hajime memberikan isyarat bahwa Eren sendiri pada akhirnya tidak bisa mencapai kebebasan yang ia impikan selama ini.
Ketika nada terakhir Red Swan memudar dan layar cerita tertutup, kita disadarkan pada satu kebenaran yang pahit: angsa merah itu telah terbang bebas, meninggalkan dunia yang ia selamatkan, dan membawa serta seluruh luka ke dalam keheningan abadi. Tatakae!


