Oleh: Fathir Triananda Junas
Pasir putih tak pernah putih di kota ini.
Ia penuh akan bahan artifisial yang jauh dari sini.
Langit biru pun merasakan hal yang tak jauh berbeda.
Ia di nodai.
Di rebut keperawanannya oleh kuning yang tak murni.
Aku selalu berbicara pada sang langit,
“Kenapakah kau menjadi seperti ini?”
Ia tak pernah menjawab saat kutanya 365 kali.
Tak pernah hingga hari ini.
Ia mengolah tenggorokannya.
Mencoba menghilangkan rongsokan dari satelit luar angkasa.
“Aku tak pernah berubah,” jawabnya tercekik.
Kulihat lagi dirinya dari atas hingga ujung cakrawala.
Anak yang hanya tawuran seumur hidupnya pun tau itu bohong yang besar.
Kutanya sekali lagi padanya.
Siapa tahu, mungkin saja ia dibungkam atas ucapannya.
Ia hanya menggeleng keras,
“Tak pernah aku berubah sedikitpun, aku hanya mengikuti kalian, orang yang memberiku hidup”
Aku sedikit merasa bersalah.
Sudah kuduga ikan kuah kuning itu buruk untuknya.
Ibu selalu bilang kunyit adalah pewarna kuning alami.
Kembalinya langit terkekeh melihatku.
“Tak pernah ada anak baik selayaknya dirimu, sepertinya Gaia tak selalu gagal atas anaknya.”
Ia lalu menunduk jauh kearah wajah Gaia, mengecup tipis di keningnya.
Andai rasa cintanya pada Gaia sama seperti anak Gaia mencintainya.
Dasar anak durhaka.
Aku pun melihat langit yang semakin tercekik, lalu melihat pada laut biru.
Aku menenggelamkan diri. Kuharap biruku bisa membuatnya lebih baik.
Semakin dalam aku dapat melihat langit yang kembali membiru.
Lalu menghitam.
Lalu hilang.
Lalu tiada.


