Oleh: Tamara Syabani Ahmad
Tatkala hujan luruh dari langit yang muram, semesta seolah merapal titah dalam bahasa yang tak terjamah kata. Setiap jatuhnya menanggung rahasia yang lama bersemayam di dasar waktu, lahir dari bentangan jarak yang tak pernah terjejaki dan dari musim-musim yang berlalu tanpa perjumpaan. Ia memberi ruang bagi sesuatu untuk tumbuh, menetap, dan bernapas, meski tak sekalipun berani menyematkan nama pada keberadaannya sendiri.
Angin menyusuri lorong-lorong lengang, mengusung serpihan kenangan yang enggan luruh ditelan zaman. Ia membelai apa-apa yang dahulu sempat bersemi, lalu meninggalkan bekas yang diam-diam berakar di kedalaman batin. Dalam desirnya, tersimpan suatu pertalian yang tak pernah menagih balasan, yang tetap bertahan di antara jarak dan kehilangan, dipelihara oleh kesabaran yang tak membutuhkan suara untuk membuktikan kesetiaannya.
Malam membentangkan kelam di atas hamparan semesta, sementara keheningan direntangkan seluas-luasnya, seolah menyediakan singgasana bagi perasaan yang memilih berdiam daripada menjelma suara. Di bawah langit yang enggan menyingkap tabir cahayanya, jarak diterima sebagai guratan suratan, sedang diam dimuliakan sebagai bahasa yang paling purba; bahasa yang tak menuntut penjelasan, tak mendesak pengakuan, dan tak memerlukan saksi untuk tetap hidup dalam kedalaman.
Maka, apabila suatu ketika dada terasa sarat oleh basah yang tak bernama, janganlah lekas menuding cuaca sebagai pangkal segala lara. Barangkali ada sesuatu yang telah lama bersemayam di palung sanubari, tumbuh dari perjumpaan yang tak sempat terjadi atau dari perasaan yang tak pernah menemukan muaranya. Ia menetap sebagai jejak yang enggan terhapus, bernaung di balik tirai kesenyapan, dan terus berdenyut dalam ruang yang tak tersentuh waktu, bertahan tanpa pernah mengetuk pintu untuk dipersilakan tinggal, pun tanpa sekalipun mengajukan diri untuk diakhiri.


