Oleh: Naura Azalea Ilham
Rupanya, cara yang paling cepat untuk memantik amarah masyarakat bukanlah dengan perilaku korup pejabat yang senantiasa mengenyangkan perutnya dengan kesengsaraan rakyat. Cukup dengan menganggu perjalanan mereka dengan menutup jalan demi menyampaikan kecaman kepada pemerintah, lalu dengan begitu saja media sosial banjir di penuhi keluhan dan rutukan kepada para demonstran yang katanya egois, tidak tahu diri, dan merugikan banyak orang. Lucunya, mereka yang selama ini tampil tuli dan buta terhadap berbagai persoalan negeri mendadak punya banyak hal untuk diprotes ketika kenyamanan pribadinya terusik.
Masyarakat begitu mudah mengutuk kemacetan. Seolah-olah persoalan terbesar hari itu adalah terlambat sampai ke tujuan mereka. Padahal, bukankah memang itu salah satu hal yang ingin dicapai oleh demonstrasi? Membuat sesuatu yang selama ini diabaikan menjadi sulit untuk diabaikan. Membuat orang yang biasanya bisa menjalani hari dengan tenang berhenti sejenak dan menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres dengan negara ini. Sebab, mari jujur, tidak semua orang punya kepedulian yang sama terhadap keadaan negeri ini. Ada yang mengikuti perkembangan politik, membaca berita, mengawasi kebijakan pemerintah, dan memahami bahwa persoalan publik pada akhirnya akan menyentuh kehidupan mereka sendiri. Namun, ada pula yang memilih untuk tidak peduli selama hidupnya masih berjalan sebagaimana biasa.
Bagi sebagian orang, politik hanyalah keributan yang tidak perlu dipikirkan. Korupsi terasa jauh selama mereka masih bisa makan tiga kali sehari. Ketidakadilan terasa tidak penting selama tidak menimpa diri sendiri. Kebijakan yang merugikan masyarakat mungkin hanya menjadi berita selintas yang segera dilupakan setelah layar ponsel digulirkan. Dalam situasi seperti ini, demonstrasi yang membuat jalanan macet, transportasi tersendat, dan aktivitas sehari-hari terganggu bisa menjadi pengingat bahwa kehidupan di negeri ini tidak sedang berjalan baik-baik saja bagi setiap orang.
Ketika orang-orang yang selama ini tidak peduli mulai bertanya, “Kenapa jalanan macet? Kenapa mereka berdemo?”, setidaknya ada satu pertanyaan yang akhirnya muncul. Pertanyaan itu bisa menjadi pintu masuk menuju kesadaran yang lebih besar: apa sebenarnya yang sedang mereka, atau kita, perjuangkan?
Tentu, bukan berarti demonstrasi harus dilakukan tanpa pertimbangan terhadap masyarakat lain. Gangguan yang ditimbulkan perlu dipahami sebagai bagian dari tekanan publik, bukan alasan untuk membenarkan segala bentuk tindakan. Ada perbedaan antara membuat keresahan yang membuka ruang kesadaran dan melakukan kekerasan yang justru membahayakan orang lain. Hanya saja kita juga perlu berhenti berpura-pura bahwa demonstrasi bisa selalu berlangsung tanpa mengusik kenyamanan siapa pun. Jika sebuah protes harus selalu tertib dalam pengertian tidak boleh mengganggu siapa pun, tidak boleh membuat siapa pun kesal, dan tidak boleh mengubah rutinitas siapa pun, lantas bagaimana masyarakat akan menyadari bahwa ada persoalan yang mendesak untuk diselesaikan?
Jika masyarakatnya sendiri saja tidak sadar, bagaimana protes itu akan sampai ke atas sana? Ke telinga ‘mereka’ yang duduk nyaman di balik meja rapat, entah cukup peduli atau tidak untuk membahasnya. Aksi kamisan saja, yang berupa aksi protes damai, telah berlangsung lebih dari 920 kali selama 19 tahun belum mampu memastikan suara mereka terdengar.
Orang-orang seperti menginginkan suara perlawanan yang sopan, rapi, dan tidak merepotkan. Ingin menyuarakan ketidakadilan, tetapi jangan sampai menghambat perjalanan orang lain. Ingin memperjuangkan perubahan, tetapi jangan sampai mengganggu jadwal makan siang mereka. Ingin negeri ini menjadi lebih baik, tetapi kalau bisa, biarlah prosesnya berlangsung di tempat lain, jauh dari pandangan kita, tanpa membuat kita perlu berhenti sejenak dari kehidupan yang nyaman.
Sejujurnya saja, penulis pun tak bisa berpura-pura telah banyak berbuat. Penulis sendiri bukanlah seseorang yang sering turun ke jalan, mungkin sekali, dua kali, jauh dibandingkan teman-teman lain yang selalu berada di barisan paling depan untuk menyuarakan ketidakadilan. Barangkali, yang bisa penulis ini lakukan hanyalah merangkai suatu keresahan itu menjadi sebuah tulisan yang entah akan dibaca siapa, sejauh mana akan sampai. Namun, jika beberapa baris ini mampu meninggalkan satu pertanyaan di benak pembacanya mungkin itu sudah cukup. Sebab, bukankah kesadaran selalu bermula dari sebuah pertanyaan?


