Oleh: Rodiah Nurhafizah
(Resensi Lagu “Terbelah Jadi Dua by Gloria Jessica”)
“Ada lagu yang ketika didengarkan, rasanya bukan sedang mendengar cerita orang lain, tetapi sedang mendengar isi hati sendiri.”
Begitulah rasanya ketika mendengarkan Terbelah Jadi Dua dari Gloria Jessica.
Lagu ini terasa sedih dengan cara yang berbeda. Bukan sedih karena kehilangan seseorang yang pernah dimiliki, tetapi sedih karena ada perasaan yang bahkan belum sempat menjadi apa-apa, tetapi sudah terasa begitu dalam.
Ada rasa suka yang disimpan sendiri. Ada harapan kecil yang sebenarnya tidak pernah diminta untuk menjadi besar. Hanya ingin dilihat. Hanya ingin disadari. Hanya ingin seseorang itu tahu, bahwa di antara banyaknya orang yang mungkin ada di sekitarnya, pernah ada satu hati yang diam-diam memilihnya.
Dan ternyata, sesederhana itu pun bisa terasa begitu berat.
Sebab ketika perasaan hanya berjalan dari satu sisi, banyak hal akhirnya menjadi pertanyaan. Apakah keberadaan ini pernah disadari? Apakah perhatian yang diberikan pernah berarti? Atau semuanya memang hanya terasa besar karena hati sendiri yang terlalu banyak berharap?
Mungkin yang paling melelahkan bukan menyukai seseorang, tetapi tidak tahu harus sampai kapan menyukai seseorang yang tidak pernah memberi kepastian.
Lagu ini seperti menggambarkan hati yang sedang tarik-menarik dengan dirinya sendiri. Masih ingin berharap, tetapi juga tahu bahwa berharap terlalu lama bisa menyakiti diri sendiri. Masih ingin percaya, tetapi perlahan mulai mengerti bahwa tidak semua yang diinginkan akan datang sesuai harapan.
“Ada perasaan yang tidak ingin dibalas dengan cinta. Kadang, ia hanya ingin diakui bahwa ia pernah ada.”
Dan mungkin, itu yang paling terasa dari lagu ini.
Bukan tentang meminta seseorang untuk tinggal. Bukan juga tentang memaksa seseorang untuk membalas. Hanya tentang rasa yang ingin sekali sampai, meskipun akhirnya tidak menjadi apa-apa.
Karena ada kalanya kita menyukai seseorang bukan untuk memilikinya, tetapi karena entah bagaimana, hati sudah lebih dulu memilih sebelum sempat bertanya apakah pilihan itu akan berakhir bahagia.
Semakin didengarkan, lagu ini terasa seperti percakapan yang tidak pernah terjadi. Banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi akhirnya hanya tinggal di kepala. Banyak rasa yang ingin diungkapkan, tetapi selalu kembali menjadi diam.
Dan mungkin itulah kenapa judul Terbelah Jadi Dua terasa begitu nyata.
Ada satu sisi yang masih ingin mengatakan, “tunggu sedikit lagi.”
Sementara sisi lainnya sudah pelan-pelan berkata, “sudah, jangan berharap terlalu jauh.”
Dua-duanya sama-sama ada. Dua-duanya sama-sama terasa.
Mungkin pada akhirnya, bukan perasaannya yang harus disalahkan. Bukan pula karena pernah berharap. Hanya saja, ada saat ketika hati harus belajar bahwa menyukai seseorang tidak selalu berarti akan dipilih olehnya.
Dan kalau akhirnya tidak pernah menjadi apa-apa, setidaknya pernah ada satu perasaan yang benar-benar tulus.
Karena terkadang, yang membuat sebuah lagu begitu menyakitkan bukan karena ceritanya sedih, tetapi karena kita tahu persis bagaimana rasanya.


