web analytics
header

Terakhir Kali

Sumber: flickr

Oleh: Muhammad Zulkifli Nur Hariru

Langit mendung hari itu tidak memberiku tanda apa-apa. Tidak ada petir, tidak ada angin kencang. Hanya abu-abu yang menggantung seperti dinding penjara tak kasat mata dan mungkin memang begitulah dunia: sunyi dan penuh jebakan.

Namaku Icarus, dan seperti nama itu, aku terbang terlalu tinggi—mendekati matahari—hanya untuk melihat sayapku meleleh dan jatuh. Terhempas oleh harapan yang kubuat sendiri. Tapi harapan itu bukan pada cinta, bukan pada wanita, bukan pada siapa-siapa. Harapan itu pada kemungkinan bahwa manusia bisa saling memanusiakan.

Aku tidak terlahir dengan duri di lidahku. Sinisme ini adalah lumut yang merayap dingin di dinding batinku, tumbuh subur di tempat-tempat yang lembab oleh air mata yang tak pernah jatuh. Ia merambat pelan, menelan semua warna hingga yang tersisa di kepalaku hanyalah monokrom. Aku ingat serpihan ingatan itu: sebuah pengakuan yang gemetar kuberikan di bawah lampu jalan yang redup, sebuah sisi jiwa yang kubuka seperti membuka telapak tangan yang terluka.

Aku pernah memberi, bukan hanya barang atau waktu, tapi sisi rapuh dari jiwaku. Kukira itu cara agar orang lain mengerti bahwa aku sungguh ada. Tapi manusia, ketika melihat luka, tak selalu datang membawa obat. Kadang mereka datang membawa garam.

Dan dari situlah semuanya berubah. Aku berjalan menunduk, bukan karena malu atau kalah, tetapi untuk mempelajari dunia dari bawah: retakan jalan, puntung rokok yang menyerah pada hujan, daun-daun kering yang remuk tanpa suara. Aku tak lagi percaya pada cahaya di atas sana; ia hanya menyorot kepalsuan. Orang-orang menyebutnya realitas, aku menyebutnya audisi tanpa akhir.

Lalu dia datang. Bukan seperti badai atau fajar. Dia datang seperti gema dari lagu yang samar-samar kau ingat dari masa kecil. Seperti lukisan di museum usang yang kau tatap begitu lama, bukan karena komposisi warnanya yang brilian, tapi karena dari balik kanvas retak itu, sepasang mata di dalamnya seolah melihatmu. Benar-benar melihatmu. Ia tidak berbicara dengan suara, tapi dengan cara ia menatapku. Bukan melihat Icarus yang jatuh, tapi melihat sisa-sisa sayap yang pernah ada.

Dan malam ini, saat angin tak bertanya dan bulan tak menjawab, aku tahu satu hal:

Ini terakhir kalinya.

Setelah ini, tak akan ada apa-apa.
Hanya sunyi yang tak perlu dijelaskan.

To be continued.
(tapi kau tahu, itu bohong).

Related posts:

To the Sea

Oleh: Tamara Di tepian pagi, embun menetes pelan ke permukaan air, sementara laut menampakkan lukisan biru samar di ufuk. Gelombang

Luka

Oleh: Lusi “Apa itu cinta?” tanyaku pada layar. Jawabannya terdengar manis: kasih sayang, keterikatan, kebahagiaan.Lucu, karena cinta yang kulihat justru

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini