web analytics
header

Anak Kedua dan Hari Kemenangannya

Oleh: Eka Anugrah Syawal

(Pengurus LPMH-UH Periode 2025/2026)

Ada Seorang Perempuan selalu percaya bahwa menjadi anak kedua berarti belajar berdiri tanpa banyak sorotan.

Namanya Andi Amiza Shoffiyah Rianty. Orang-orang memanggilnya Mica. Di antara dua bersaudara, ia bukan yang pertama diharapkan memimpin, juga bukan lagi yang dianggap kecil untuk dimanja. Ia berada di tengah garis tipis yaitu cukup dewasa untuk diminta mengerti, cukup kuat untuk tidak selalu ditanya “kamu tidak apa-apa?”

Sejak kecil, Mica terbiasa menyelesaikan banyak hal sendiri. Ketika ia jatuh dari sepeda, ia bangkit tanpa menangis lama. Ketika nilainya tak setinggi harapan, ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya belajar lebih lama, tidur lebih larut, dan bangun lebih pagi. Ada bara kecil dalam dirinya, bukan untuk membuktikan pada dunia, tapi untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu.

Kini, ia sudah bertumbuh lebih dewasa menjadi mahasiswa kedokteran. Dunia yang ia pilih bukan dunia yang mudah. Buku-buku tebal seperti tembok, istilah Latin yang terasa asing, jadwal praktikum yang menyita waktu, dan rasa lelah yang sering datang tanpa permisi. Di antara teman-temannya yang tampak percaya diri, Mica sering merasa harus berlari dua kali lebih cepat agar tidak tertinggal.

Ia pernah hampir menyerah pada satu malam panjang menjelang ujian anatomi. Tubuhnya lelah, matanya perih, dan pikirannya penuh keraguan. “Apa aku benar-benar sanggup?” gumamnya lirih.

Namun Mica bukan anak yang mudah nyerah. Ia ingat alasan mengapa ia memilih jalan ini. ia ingin menjadi dokter bukan sekadar untuk gelar, tetapi untuk bisa berdiri di ruang-ruang cemas dan berkata pada orang lain, “Tenang, saya akan berusaha sebaik mungkin.” Untuk sampai ke sana, ia tahu ia harus lebih dulu menenangkan dirinya sendiri.

Di tengah proses keluar dari zona nyamannya. berani ikut organisasi, berani mengambil tanggung jawab sebagai ketua panitia kegiatan. Hadirlah seorang lelaki dalam hidupnya.

Lelaki itu tidak selalu ada di sampingnya. Mereka dipisahkan jarak dan kota. Hubungan mereka adalah tentang komunikasi dan pesan singkat yang kadang menjadi penyelamat di sela-sela jadwal padat. LDR, orang bilang. Tidak mudah. Namun lelaki itu selalu tahu kapan Mica hampir menyerah kepadanya.

“Aku tahu kamu capek” katanya suatu malam, di bubble chat Whatsapp. “Tapi kamu bukan Mica kalau berhenti di tengah jalan. Kamu yang paling keras kepala soal mimpi.”

Mica menanyakan. “Keras kepala?”

“Iya. Keras kepala dalam arti yang baik. Kamu pantang menyerah.”

Dukungan itu sederhana, tapi bagi Miza, berarti dunia. Lelaki itu tidak pernah memaksanya menjadi sempurna. Ia hanya mengingatkan bahwa proses juga layak dihargai. Bahwa keluar dari zona nyaman memang menakutkan, tapi Mica tidak sendirian meski jarak memisahkan.

Hari-hari berlalu. Miza belajar menghadapi kegagalan kecil tanpa mengutuk diri sendiri. Ia mulai berani bertanya ketika tidak paham, berani mengakui salah, berani mencoba lagi. Setiap rintangan ia lewati seperti anak tangga kadang tersandung, tapi tidak pernah memilih turun.

Dan akhirnya, tibalah hari itu.

Hari ulang tahunnya.

Pagi itu, Mica bangun dengan perasaan berbeda. Bukan karena notifikasi yang berdatangan, bukan karena ucapan yang menghiasi layar ponselnya. Tapi karena ia sadar, satu tahun telah ia lewati dengan banyak versi dirinya yang ragu, yang takut, yang lelah, dan yang tetap memilih bertahan.

Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. “Terima kasih sudah tidak menyerah,” bisiknya pelan.

Siang harinya, di sela-sela kesibukan kampus, ponselnya berdering. Panggilan video dari lelaki itu.

“Selamat ulang tahun, calon dokter hebat,” ucapnya dengan senyum yang selalu berhasil menenangkan hati Miza.

“Terima kasih,” jawab Miza.

“Aku mungkin tidak bisa ada di sana sekarang,” lanjutnya, “tapi aku bangga sama kamu. Kamu sudah melewati banyak hal sendirian, dan tetap berdiri. Jangan berhenti keluar dari zona nyamanmu. Dunia butuh dokter yang setangguh kamu.”

Miza tersenyum lebar. Ia sadar, perjalanan masih panjang. Akan ada ujian lain, lelah lain, mungkin juga air mata lain. Tapi hari ini, di hari ulang tahunnya, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai anak kedua yang berada di tengah bayang-bayang.

Ia melihat dirinya sebagai perempuan yang pantang menyerah.

Sebagai Andi Amiza Shoffiyah Rianty. Mica yang belajar berdiri sendiri, berani melangkah keluar dari zona nyaman, dan terus berjalan meski jarak dan rintangan menghadang.

Dan di hari itu, di antara doa-doa yang ia panjatkan, ada satu keyakinan yang tumbuh semakin kuat: selama ia tidak menyerah pada dirinya sendiri, tidak ada rintangan yang benar-benar bisa menghentikannya.

Related posts:

Laba-laba

Penulis : Muhammad Fauzan MB Ada hari ketika aku menyadari betapa buruknya aku menjaga diri sendiri. Terlalu sering membiarkan perasaan

SAUDADE

Oleh : El Pandanaran, Semarang 29 Oktober 2022 Bagaimana jika mimpimu terwujud separuh? Ya, separuh. Menolehlah ke sana, pada perempuan

Desember Kelam

Nur Fadliansyah Abubakar & A. Wafia Azzahra Semua terasa gelapSeperti tak ada cahayaJuga tanpa suaraHanya sunyi Apakah telah hancurBenar-benar tak

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini