Makassar, Eksepsi Online – (29/04) Kolaborasi antara Front Mahasiswa Nasional (FMN) Ranting Universitas Hasanuddin dan Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Sulawesi Selatan mewarnai peringatan momentum Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional melalui penyelenggaraan diskusi publik di Taman Keadilan Fakultas Hukum Unhas, Rabu 29/04/2026. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama yang mempertemukan perspektif mahasiswa, buruh, dan tani dalam membaca realitas sosial, ekonomi, dan pendidikan yang kian kompleks.
Diskusi yang mengangkat tema “Betulkah Mahasiswa Calon Upah Murah?” ini dilaksanakan sebagai respons atas kegelisahan mahasiswa terhadap masa depan kerja setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Momentum May Day dan Hardiknas dinilai sebagai titik temu yang relevan untuk mengkaji ulang posisi mahasiswa sebagai calon tenaga kerja dalam sistem ekonomi yang tidak lepas dari persoalan ketimpangan dan eksploitasi.
Ketua FMN Ranting Unhas, Joshua Haiden Sarungu, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghubungkan sektor pendidikan dengan persoalan buruh. Menurutnya, mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari realitas ketenagakerjaan karena pada akhirnya akan masuk ke dalam sistem tersebut. Ia menekankan pentingnya mempertanyakan apakah lulusan perguruan tinggi benar-benar memiliki peluang mendapatkan pekerjaan yang layak, baik dari segi upah maupun kesesuaian bidang kerja.
“Diskusi ini kami harapkan dapat membuka kesadaran bahwa persoalan buruh, seperti upah layak dan jam kerja, juga merupakan bagian dari masa depan mahasiswa,” ujarnya.
Perwakilan AGRA Sulsel, Ijul, menegaskan pentingnya keterhubungan antara berbagai sektor dalam momentum ini.
“Kami melihat penting ada diskusi untuk membahas, membedah persoalan momentum hari buruh sedunia dan hari pendidikan nasional.” Ujarnya
Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa sebagai kelompok besar di kampus memiliki posisi strategis sebagai cadangan tenaga kerja yang akan sangat memengaruhi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia.
“Diharapkan banyak mahasiswa yang kemudian sadar, paham bagaimana keterhubungan isu-isu kampus dengan persoalan-persoalan buruh,” lanjutnya.
Sementara itu, perwakilan FMN lainnya, Iren, menyoroti kondisi buruh dan petani yang dinilai semakin terdesak serta potensi eksploitasi terhadap mahasiswa.
“Yang melatarbelakangi adanya diskusi publik ini ialah keadaan sekarang di mana buruh serta petani semakin berada pada titik yang sulit. Mahasiswa sekarang juga tanpa sadar dieksploitasi dan menjadi tenaga kerja murah nantinya,” ungkapnya.
FMN dan Agra Sulsel mengusung semangat “Mei Melawan” sebagai ajakan kepada mahasiswa untuk lebih kritis dalam membaca situasi sosial-ekonomi yang berkembang, sekaligus membangun solidaritas. (Pqi (Mpb – Peserta Magang LPMH-UH))


